Langit sore di kota Palembang berhiaskan semburat jingga keemasan yang memantul indah di permukaan Sungai Musi. Angin berembus sepoi-sepoi membawa aroma khas kota pempek yang sibuk, bercampur dengan bau debu jalanan dan aroma harum kopi lokal dari kedai-kedai pinggir jalan. Di dalam sebuah toko buku independen berukuran sedang yang terletak tidak jauh dari kawasan Jembatan Ampera, suasana terasa jauh lebih tenang dan senyap. Rak-rak kayu jati tua yang dipenuhi deretan buku tersusun rapi hingga menyentuh plafon tinggi ruangan.
Fathan melangkah pelan menyusuri lorong antarrasial buku sejarah dan arsitektur. Setelah bertahun-tahun merantau menyeberangi benua Eropa demi menyelesaikan riset doktoralnya yang melelahkan, ia akhirnya memutuskan kembali ke tanah air, memilih menepi sejenak di kota Palembang untuk urusan proyek konsultasi tata kota sebelum kembali sepenuhnya ke rutinitas padat di ibu kota. Mengenakan kemeja linen biru muda yang lengannya digulung sampai siku, Fathan tampak asyik memindai sampul-sampul buku tebal di depannya.
Ia sedang mencari referensi mengenai tata ruang kota tradisional ketika langkah kakinya tiba-tiba terhenti di sudut lorong sempit. Tanpa sengaja, ujung sepatu kulitnya menyenggol tumpukan buku tebal yang diletakkan tidak stabil di dekat lantai bawah rak.
Bruk!
Suara tumpukan buku tebal itu ambruk berserakan di atas lantai keramik putih, menciptakan bunyi yang cukup kencang di tengah keheningan toko buku.
"Eh, astaga!" seru sebuah suara perempuan bernada terkejut dari balik rak buku di sisi seberang.
Seorang perempuan berambut sebahu yang mengenakan kemeja putih kasual dan celana bahan warna khaki langsung muncul. Ia bergegas berjongkok untuk memunguti buku-buku yang berserakan. Fathan, yang merasa bersalah karena kecerobohannya, ikut berjongkok dengan cepat untuk membantu merapikannya.
"Maaf, maaf banget, Mbak. Saya nggak sengaja nyenggol tumpukan bukunya karena kurangawas," kata Fathan menyesal sambil meraih beberapa buku bersampul tebal yang terjatuh.
Perempuan itu mengulurkan tangan untuk mengambil sebuah buku ensiklopedia arsitektur yang berada di dekat kaki Fathan. "Iya, nggak apa-apa, Mas. Emang posisi bukunya tadi agak ke pinggir kok," jawab perempuan itu dengan suara lembut yang khas.
Saat tangan mereka berdua secara bersamaan meraih sebuah buku yang sama di lantai, jari-jari mereka bersentuhan sekilas. Perempuan itu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang telah menjatuhkan bukunya, sementara Fathan ikut mengangkat wajahnya.
Detik itu juga, tatapan mata mereka bertemu dalam jarak yang amat dekat.
❖ ❖ ❖
Fathan mematung sejenak menatap wajah perempuan di hadapannya. Alis matanya yang rapi, sorot mata yang tenang, serta garis wajah yang menyiratkan kedewasaan mendalam membuat Fathan merasa seperti sedang menatap bayangan masa lalu, namun dengan nuansa yang jauh berbeda. Dahulu, setiap kali matanya bertemu dengan perempuan di masa lalunya—entah itu Nisa di stasiun kereta atau Varisha di ruang rapat korporat—dadanya selalu bergemuruh hebat, dipenuhi oleh debar jantung yang menggebu-gebu, kecemasan, atau ambisi yang membara.
Namun kali ini, di bawah temaram lampu toko buku di kota Palembang, tidak ada lagi debar jantung yang liar. Tidak ada lagi rasa sesak di dada atau ketakutan kehilangan. Yang dirasakan Fathan hanyalah sebuah keheningan yang aneh, sebuah rasa asing yang menenangkan jiwa.
Perempuan itu tersenyum tipis melihat Fathan yang tertegun menatapnya. "Nah, cak itulah, jangan melamun laju nian, Mas. Untung baé bukunyo dak rusak robek," ucap perempuan itu dengan dialek Palembang yang sangat kental, ramah, dan bersahaja.
Fathan tersadar dari lamunannya, lalu ikut tersenyum tipis sambil menyerahkan buku yang ia pegang. "Ah, iya, maaf ya Mbak. Makasih banyak. Ngomong-ngomong, logatnya kental banget, asli orang Palembang ya?"
Perempuan itu tertawa kecil, menerima buku dari tangan Fathan lalu berdiri perlahan, merapikan pakaiannya. "Alhamdulillah aslina wong kito galo, Mas. Emangnyo keliatan banget yo kalau aku wong Palembang asli?" tanyanya jenaka.
"Keliatan dari logatnya yang khas banget, bikin suasana langsung cair," jawab Fathan ramah, ikut berdiri merapikan buku-buku yang tersisa di rak. "Kenalin, nama saya Fathan."
"Aku Raras," jawab perempuan itu sambil menjabat tangan Fathan sekilas dengan sopan. "Btw, Mas Fathan ni kayaknyo bukan wong sini asli yo? Jarang kulihat gaya ngomongnyo kayak wong Palembang."
"Iya, Mbak Raras. Saya baru beberapa hari balik ke Palembang setelah lama tinggal di luar negeri buat urusan studi dan kerja," jelas Fathan jujur, merasa sangat nyaman berbicara dengan perempuan asing ini tanpa ada beban apa pun di pundaknya.
Di masa lalu, setiap perjumpaan Fathan selalu diwarnai oleh ekspektasi tinggi, rencana masa depan yang kaku, atau beban emosional yang berat. Bersama Raras, semua kerumitan itu seolah sirna begitu saja. Percakapan mengalir begitu ringan, tanpa pretensi, tanpa tuntutan, dan tanpa rasa canggung yang berlebihan.