Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Chafia gadis Palembang

Suara gemercik air mancur kecil di sudut halaman luar berpadu lembut dengan alunan musik instrumental piano yang mengalir tenang dari pengeras suara kafe perpustakaan kota. Sore itu, cahaya matahari kemerahan menyusup masuk lewat dinding kaca besar, memantulkan bias hangat di atas tumpukan buku-buku bersampul tebal yang tertata rapi di rak kayu jati. Di salah satu meja bundar sudut ruangan, Fathan duduk seorang diri sambil menyeruput cangkir teh chamomile hangatnya. Pikirannya tampak menerawang jauh, menikmati keheningan yang sudah lama tidak ia rasakan setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang target kantor yang melelahkan dan bayang-bayang rindu lintas benua.

Sejak kepergian Varisha ke London untuk menempuh studi pascasarjana, Fathan memilih untuk menata ulang ritme hidupnya. Ia tidak lagi memaksakan diri menjadi mesin kerja yang dingin, melainkan mencoba membuka diri secara perlahan pada kesederhanaan hari-hari yang berjalan apa adanya. Di tempat baru ini—sebuah kafe perpustakaan umum yang tenang—ia sering menghabiskan waktu luang akhir pekannya untuk membaca manuskrip arsitektur atau sekadar menikmati waktu luang tanpa beban deadline.

"Maaf, kursi yang ini kosong? Boleh saya duduk di sini? Meja di sebelah sana penuh semua," sebuah suara perempuan yang terdengar renyah dan santai membuyarkan lamunan Fathan.

Fathan mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri seorang perempuan berambut ikal sebahu yang diikat longgar, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak kasual dan membawa tas kanvas besar penuh tumpukan naskah cetak. Perempuan itu tersenyum ramah, matanya memancarkan kehangatan yang jujur tanpa dibuat-buat.

"Oh, silakan, silakan duduk. Kursinya kosong kok," jawab Fathan ramah sambil merapikan beberapa buku catatannya untuk memberikan ruang di atas meja.

Perempuan itu menarik kursi kayu lalu melabuhkan duduknya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas bermarker kuning dari dalam tas kanvasnya, lalu menghela napas panjang sambil merenggangkan bahunya. "Duh, lumayan pusing juga bolak-balik nyari referensi buku sejarah arsitektur lokal di perpustakaan ini. Padahal niatnya tadi mau nyantai sebentar."

Fathan tersenyum kecil melihat tingkah santai perempuan di hadapannya itu. "Emang lagi nyari bahan buat naskah apa, Mbak? Keliatannya tebal banget itu tumpukan kertasnya."

Perempuan itu menoleh, tertawa kecil. "Kenalin dulu deh, nama aku Chafia. Aku kerja sebagai penyunting naskah lepas buat beberapa penerbit buku independen. Lagi ngerjain editing naskah buku tata kota kolonial, makanya puyeng nyari data valid."

"Oh, Chafia ya. Salam kenal, saya Fathan," balas Fathan memperkenalkan diri sambil mengangguk sopan. "Penyunting naskah ya? Pekerjaan yang butuh ketelitian tingkat tinggi itu mah."

"Wah, bener banget! Apalagi kalau penulisnya suka pakai istilah-istilah arsitektur kuno yang bikin lidah keseleo," sahut Chafia riang, logat bicaranya terdengar begitu cair dan akrab tanpa ada jarak formalitas yang kaku. "Kalo Fathan sendiri sibuk apa nih di kafe perpustakaan sore-sore begini? Jangan bilang lagi nyusun skripsi juga?"

Fathan menggeleng pelan sambil tersenyum lebar. "Bukan, saya bukan mahasiswa lagi. Saya arsitek, kebetulan lagi butuh suasana tenang buat nelaah konsep rancangan restorasi bangunan lama."

"Oi, arsitek pala batu ya? Mantap bener tuh kerjaannya sukanya bikin pusing kepala tapi hasilnya nampak keren di mata orang," canda Chafia menggunakan gaya bahasa santai yang langsung mencairkan suasana kaku di antara mereka.

Obrolan di antara mereka mengalir begitu natural, tanpa ambisi karier yang meledak-ledak dan tanpa tuntutan jarak yang menyesakkan. Chafia membawa energi baru yang menyegarkan ke dalam hari-hari Fathan—sebuah perjumpaan sederhana yang tidak menuntut apa-apa, melainkan menawarkan ruang tawa dan kenyamanan murni.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam kafe perpustakaan perlahan semakin temaram seiring matahari sore yang bergeser turun di balik cakrawala kota. Lampu-lampu gantung kuning temaram di atas meja mulai dinyalakan, memancarkan cahaya hangat yang menyinari lembaran-lembaran naskah suntingan Chafia dan sketsa rancangan arsitektur Fathan.

"Nah, kalau bagian bab dua ini menurut Fathan gimana alurnya? Agak melompat-lompat ya alurnya, bikin pembaca bingung nggak sih?" tanya Chafia sambil membalikkan halaman kertas naskah, menyodorkannya sedikit ke arah Fathan untuk meminta pendapat.

Fathan merapikan kacamatanya, membaca sekilas paragraf yang ditunjuk oleh Chafia. "Hmm, kalau menurut saya, transisi antar kalimatnya memang agak kurang halus di sini. Sebaiknya ditambahin satu kalimat pengantar biar alur narasi sejarah kotanya lebih mengalir alami."

Chafia mengangguk-angguk setuju, mencatat beberapa koreksi menggunakan pulpen hitamnya. "Wah, bener juga ya. Kenapa aku nggak mikir ke situ dari tadi? Makasih banyak masukannya, Fathan."

"Sama-sama, Chafia. Saling bantu aja, kebetulan saya juga suka baca buku-buku sejarah tata kota kaya gini," jawab Fathan tulus.

Di tengah obrolan santai itu, Chafia tiba-tiba melirik sekilas ke arah luar jendela kafe, lalu menatap Fathan dengan sorot mata penuh rasa penasaran yang bersahabat. "Ngomong-ngomong, Fathan asli orang sini atau perantauan? Abisnya dari cara ngomong kamu keliatan tenang banget, tapi kadang-kadang keliatan kaya orang yang lagi mikirin beban hidup seluas samudra."

Fathan tertegun sejenak mendengarkan pertanyaan spontan itu. Ia tersenyum kecut, meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja. "Keliatan banget ya kalau saya lagi banyak pikiran?"

"Jelas keliatan lah! Orang santai mah nggak bakal mandangin cangkir teh kosong sambil menghela napas panjang tiga kali berturut-turut kaya kamu tadi," jawab Chafia tertawa renyah, suaranya terdengar begitu lepas tanpa beban. "Tapi tenang aja, aku tipe pendengar yang baik kok. Kalau mau cerita mangga silakan, kalau nggak juga nggak apa-apa."

Sikap terbuka dan jujur dari Chafia membuat Fathan merasa sangat nyaman. Tidak seperti perjumpaan di masa lalunya yang sering kali dibebani oleh ekspektasi tinggi, tuntutan karier, atau bayang-bayang jarak lintas benua yang melelahkan, bersama Chafia semuanya terasa begitu ringan. Chafia adalah representasi perempuan yang hidup di masa kini—apa adanya, menikmati setiap detik proses kehidupan tanpa ambisi berlebihan untuk menguasai segalanya.

"Sebenernya nggak ada apa-apa, Chafia. Cuma lagi nyesuaikan diri sama fase hidup yang baru aja," kata Fathan jujur. "Dulu hidup saya kaku banget, diatur sama target, jadwal ketat, dan ketakutan-ketakutan masa lalu."

Lihat selengkapnya