Sore hari di kota Palembang membentangkan tirai warna keemasan di atas permukaan Sungai Musi yang mengalir tenang. Di bawah naungan rindangnya pohon ketapang kencana di tepi taman kota Jakabaring, angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma khas air sungai bercampur wangi tanah basah sehabis hujan. Fathan duduk di atas bangku taman kayu berangka besi hitam, bersisian dengan Chafia. Tidak ada suara bising klakson kendaraan atau ketegangan target perusahaan yang mendesak seperti masa-masa lalunya di Jakarta dan Bandung. Di tangan kanan Fathan terbuka sebuah buku novel bersampul tebal, sementara Chafia di sebelah kanannya tampak khusyuk membaca buku catatan desain arsitekturnya dengan sesekali menyeruput es teh manis dari gelas plastik di atas meja kecil taman.
Hubungan yang terjalin di antara Fathan dan Chafia selama beberapa bulan terakhir ini berkembang dalam sebuah keheningan yang indah dan menenangkan. Setelah badai emosional dan perpisahan-perpisahan menyakitkan di masa lalu, kehadiran Chafia seperti sebuah pelabuhan teduh bagi kapal tua yang lelah diterjang ombak samudra. Chafia adalah tipikal perempuan Palembang yang tenang, tutur katanya lembut, tidak suka memancing perdebatan kusir, dan memiliki ketenangan batin yang mampu meredam segala kecemasan di kepala Fathan. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam di taman ini tanpa banyak bicara, menikmati kehadiran satu sama lain hanya lewat ritme halaman buku yang dibalik dan helaan napas yang selaras.
"Kalu dibaca dari caro dakwahnyo, novel itu seru nian ya, Fan?" suara lembut Chafia memecah keheningan sore, memanggil Fathan menggunakan logat Palembang asli yang terdengar khas dan merdu di telinganya.
Fathan menoleh, tersenyum tipis sambil melipat sudut halaman buku bacaannya. "Seru, Fia. Alurnya pelan tapi dalem banget maknanya. Bikin kita sadar kalau hidup ini kadang emang nggak usah buru-buru dikejar."
"Nah, mangkanya. Jangan pacak galak-galak ngejar waktu teros, cak wong kabur dari hantu bae," balas Chafia tertawa kecil, matanya menyipit manis membentuk bulan sabit di balik kerudung warna pastel yang ia kenakan. "Kiro-kiro kau ni la kenyang belari dari masa lalu, belum acak santai cak sekarang?"
Fathan mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir perempuan di sampingnya itu. "Iya, Fia. Baru kerasa sekarang rasanya punya tempat buat pulang tanpa harus takut dituntut apa-apa."
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali menyelimuti bangku taman, namun kali ini keheningan yang diisi oleh kehangatan batin yang merayap di antara jemari mereka yang tak sengaja bersentuhan. Fathan merenungkan kontras yang luar biasa tajam antara perjalanan hidupnya saat ini dengan dua babak asmara di masa lalunya. Hubungannya yang pertama bersama Nisa di Jakarta dulu dipenuhi oleh pacu adrenalin yang melelahkan—penuh dengan ambisi finansial, pertengkaran hebat gara-gara jarak, target tabungan bulanan yang mencekam, hingga komunikasi yang retak akibat ego masing-masing. Sementara babak keduanya bersama Varisha di Bandung diwarnai oleh dinamika intelektual yang membara, perdebatan filosofis yang tajam, serta benturan ego kesuksesan karier yang berujung pada perpisahan yang tak kalah menyiksa.
Di sini, bersama Chafia di Palembang, semuanya terasa begitu berbeda. Waktu seolah berjalan jauh lebih lambat, mengalir tenang bagaikan arus Sungai Musi di hadapan mereka. Tidak ada lagi kejar-kejaran target emosional, tidak ada lagi ketakutan purba akan ditinggalkan karena merasa tidak sepadan, dan tidak ada lagi tuntutan untuk membuktikan diri menjadi manusia sempurna.
"Fia, jujur ya, kadang aku ngerasa waktu di sini lambat banget rasanya," ucap Fathan memecah lamunannya sendiri, menatap lurus ke arah jembatan Ampera di kejauhan yang mulai menyalakan lampu-lampu kotanya.
Chafia menoleh, meletakkan buku catatannya di pangkuan, lalu menatap Fathan dengan sorot mata yang penuh pengertian. "Emang kenapa, Fan? Waktu lambat itu maksud kau nyiksa atau malah bikin tenang?"
"Bikin tenang, Fia. Malah terlampau tenang sampai kadang aku mikir, apa aku bener-bener pantes dapetin ketenangan sebegitu indahnya ini setelah semua kekacauan yang udah aku buat di masa lalu?" jawab Fathan getir, bayangan masa lalunya sempat melintas sekilas di kepala.
"Aduhai, Ayuk ni dak galak denger kau ngomong cak itu lagi, Fan," tegur Chafia halus namun tegas, menggunakan logat Palembang yang lembut. "Masa lalu tu la lewat, la usah dipusingkan lagi. Anggap bae badai kemarin tu cuman cara Tuhan nak nunjukke jalan supaya kau pacak merapat ke pelabuhan yang bener."
Fathan tersenyum kecut mendengar istilah puitis yang diucapkan Chafia. Perempuan itu selalu punya cara sederhana namun ampuh untuk meluruskan keruwetan di kepala Fathan tanpa perlu menggurui atau menghakimi.
❖ ❖ ❖