Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Sederhana dan Tanpa Intrik

Udara sore di kota Palembang berembus lembut, membawa aroma khas uap air Sungai Musi yang berpadu dengan wangi seduhan kopi o di teras belakang sebuah rumah kayu bergaya limas modern. Di tempat itu, Chafia sedang duduk bersila di atas kursi rotan sambil merapikan beberapa berkas pesanan kue basah tradisional yang baru saja selesai ia panggang. Tangannya yang lentik bergerak terampil menghias lapis legit pesanan pelanggan setia, sementara di sudut halaman, Fathan tampak sibuk merapikan tanaman hias lidah mertua milik ibu mertuanya dengan penuh ketelatenan.

Tidak ada dering telepon darurat dari proyek konstruksi antarkota, tidak ada amplop beasiswa misterius berlogo universitas luar negeri, dan tidak ada ancaman jarak ribuan kilometer yang siap meremukkan hati mereka. Semuanya terasa begitu tenang, mengalir bagaikan arus Sungai Musi yang tenang di kala senja.

Fathan meletakkan sarung tangan berkebunnya, lalu melangkah mendekati Chafia sambil membawa segelas teh hangat manis yang mengepulkan uap tipis. Ia meletakkan gelas tersebut di atas meja kecil tepat di sebelah wadah adonan kue Chafia, lalu tersenyum hangat menatap istrinya.

"Capek ya, Fia? Dari tadi siang keliatannya sibuk banget ngurusin pesanan kue buat acara hajatan besok," sapa Fathan lembut, menyeka peluh tipis di dahi Chafia dengan ujung jarinya.

Chafia mendongak, membalas senyuman suaminya dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan tulus. Ia meletakkan spatula kue di tangannya, lalu menyeruput teh hangat buatan Fathan. "Alhamdulillah gak begitu capek, Kang. Soalnya ngerjainnya dibantuin sama mama dari pagi. Malah akang tuh yang dari tadi beberes kebun, nanti kecapean lho," jawab Chafia dengan logat khas Palembang yang lembut dan menenangkan.

"Ah, kecapean fisik mah kecil, Fia. Jauh lebih capek pikiran kalau inget masa lalu mah," balas Fathan terkekeh kecil, lalu menarik kursi kosong di sebelah Chafia dan duduk di sana.

Masa lalu itu kini terasa bagaikan mimpi buruk yang sudah sangat jauh tertinggal di belakang. Fathan masih ingat betul bagaimana ia pernah tersiksa oleh hubungan jarak jauh yang melelahkan, pertengkaran batin akibat pilihan karier lintas benua, serta trauma kehilangan yang hampir merenggut seluruh kewarasannya. Namun di sini, di tanah Palembang yang hangat ini, hidupnya telah menemukan pelabuhan terakhir yang paling damai.

Chafia menoleh, menatap Fathan lekat-lekat dengan sorot mata penuh kasih. "Payo, jangan ngelamun terus mikirin masa lalu yang bikin pusing. Kan sekarang kita udah di sini, hidup tenang tanpa ada drama aneh-aneh lagi," ujar Chafia mengingatkan sambil mencolek pelan lengan suaminya menggunakan logat Palembang yang kental. (Ayoo, jangan melamun terus mikirin masa lalu yang bikin pusing. Kan sekarang kita udah di sini, hidup tenang tanpa ada drama aneh-aneh lagi.)

"Iya, bener banget, Fia. Akang bersyukur banget bisa ketemu sama kamu," jawab Fathan tulus, menggenggam tangan Chafia erat-erat.

Tidak ada LDR, tidak ada tawaran beasiswa ke luar negeri yang memaksa mereka memilih antara cinta atau ambisi, dan tidak ada intrik rumit yang menguras air mata. Chafia hidup dalam ritme harian yang tenang, sederhana, dan penuh kepastian. Fathan mulai menanamkan keyakinan di dalam hatinya bahwa inilah arti "takdir" yang sesungguhnya—sebuah bentuk cinta yang hadir tanpa syarat, tanpa tuntutan egois, dan tanpa hambatan logistik yang menyiksa batin.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sangat teratur namun tidak pernah membosankan. Pagi hari di Palembang dimulai dengan suara deru perahu ketek di Sungai Musi yang samar-samar terdengar dari kejauhan, disusul aroma masakan sedap dari dapur rumah mertua Fathan. Fathan kini bekerja sebagai konsultan perencana tata kota mandiri di kantor cabang lokal Palembang, sebuah pekerjaan yang memberinya kebebasan waktu untuk pulang tepat waktu setiap sore menjelang magrib tanpa harus lembur hingga tengah malam.

Suatu siang, Fathan sedang mampir ke sebuah warung kopi tradisional di dekat Jembatan Ampera untuk membicarakan rancangan penataan ruang pasar tradisional bersama rekan kerjanya sesama arsitek lokal, Ridwan. Di atas meja kayu warung kopi itu terbentang cetakan biru denah wilayah kota.

"Fath, tawaran proyek besar dari konsorsium Jakarta buat megang proyek renovasi kawasan komersial megah di ibukota kemarin beneran kamu tolak?" tanya Ridwan penasaran sambil menyeruput kopi hitamnya.

Fathan mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Iya, Rid. Sengaja aku tolak. Buat apa nerima proyek besar kalau itu artinya aku harus bolak-balik Jakarta-Palembang terus ninggalin Chafia sendirian di rumah?" jawab Fathan tenang.

Ridwan tertawa kecil mendengar jawaban itu. "Wah, gila kamu, Fath. Padahal itu kesempatan emas buat naikin nama kamu di kancah nasional lho. Jarang-jarang arsitek seumuran kita dapet tawaran segede itu."

"Kesempatan emas emang penting, Rid. Tapi ketenangan batin, kebersamaan tiap hari sama istri, dan hidup tanpa intrik jauh lebih berharga dari sekadar nama besar di ibu kota," balas Fathan bijak, merapikan gulungan kertas denahnya.

Keputusan Fathan menolak proyek besar ibu kota itu sempat membuat beberapa rekan lamanya heran. Namun bagi Fathan, titik jepit pertama dalam hidupnya telah terlewati bertahun-tahun lalu ketika ia menyadari bahwa ambisi tanpa kedamaian batin hanyalah kehampaan belaka. Ia tidak ingin lagi mengulangi kesalahan masa lalu di mana ia mempertaruhkan kebahagiaan nyata demi mengejar pengakuan eksternal yang melelahkan.

Setibanya di rumah sore itu, Fathan mendapati Chafia sedang menyiram tanaman bunga melati di halaman depan sambil bersenandung kecil. Sinar matahari senja memantul indah di wajah perempuan itu, menciptakan pemandangan sederhana yang sanggup melunturkan seluruh penat lelah pekerjaan di kepala Fathan.

"Alhamdulillah, Akang udah balik. Cepat melok, ini ade pesanan kue lapis legit baru matang, masih hangat rasanya," sapa Chafia ceria begitu melihat kedatangan suaminya. (Alhamdulillah, Akang sudah pulang. Cepat ke sini, ini ada pesanan kue lapis legit baru matang, masih hangat rasanya.)

Fathan menghampiri Chafia, mengecup kening istrinya lembut sebelum mengambil sepotong kue kecil dari piring. "Wah, pas banget lagi lapar. Makasih ya, Fia," ucap Fathan tersenyum hangat, menikmati kesederhanaan hidup tanpa intrik yang kini sepenuhnya menjadi miliknya.

❖ ❖ ❖

Kehidupan rumah tangga Fathan dan Chafia yang berjalan tanpa intrik bukan berarti tanpa dinamika kecil. Suatu malam, saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton acara televisi lokal, sebuah topik pembicaraan masa lalu secara tidak sengaja terungkit ketika Fathan menerima pesan singkat di ponselnya dari seorang teman lama di Bandung yang mengabarkan pembukaan pameran arsitektur nasional.

Chafia melirik sekilas layar ponsel Fathan yang menyala di atas meja. "Itu dari siapa, Kang? Temen lama di Bandung ya?" tanya Chafia lembut, suaranya sama sekali tidak menyiratkan rasa cemburu, melainkan rasa ingin tahu yang wajar.

Lihat selengkapnya