Sore hari di sebuah kafe bergaya minimalis di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, menawarkan ketenangan yang jarang ditemui di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Lampu-lampu gantung bernuansa kekuningan memancarkan cahaya lembut, berpadu dengan alunan musik akustik instrumental yang mengalun pelan dari sudut ruangan. Di meja kayu dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan rindang, Fathan duduk berhadapan dengan Chafia. Di hadapan mereka, dua cangkir teh chamomile hangat mengepulkan uap tipis ke udara, menemani percakapan yang sudah mengalir sejak satu jam yang lalu.
Fathan menatap perempuan di hadapannya dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Chafia memiliki pembawaan yang tenang, sorot mata yang penuh pengertian, serta kesabaran luar biasa dalam mendengarkan setiap cerita yang meluncur dari bibir Fathan. Hubungan profesional yang awalnya terjalin karena urusan kantor perlahan berkembang menjadi kedekatan personal yang sangat nyaman, tanpa ada unsur paksaan atau drama berlebihan seperti yang pernah ia alami di masa lalu.
"Jadi, waktu di Palembang kemarin, aku bener-bener ngerasa kayak ngulang memori masa kecil, Chia. Duduk berjam-jam di perpus kota sambil ngobrolin hal-hal nggak penting sama Ripki," cerita Fathan sambil tersenyum tipis, mencicipi sedikit teh hangat di cangkirnya.
Chafia ikut tersenyum, menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab dengan nada suara yang menenangkan. "Keliatannya menyenangkan banget, Fan. Sesekali pulang ke akar emang perlu ya buat nge-reset kepala dari bisingnya Jakarta."
"Bener banget. Padahal dulu aku tipe orang yang nggak bisa diam, harus selalu ngejar target, harus selalu ngerasa ambisius buat buktiin diri ke orang lain," aku Fathan jujur, jemarinya perlahan meraba permukaan cangkir keramik. "Sampai akhirnya aku belajar banyak hal dari perjalanan hidupku... termasuk dari masa lalu yang sempat bikin aku hancur."
Chafia menatap Fathan dengan saksama, menangkap perubahan kecil pada nada suara lelaki itu. "Masa lalu yang mana nih? Kalau emang belum siap diceritain, nggak usah dipaksa, Fan. Kita ngobrol yang santai aja."
Fathan menggeleng pelan, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian. Selama ini ia selalu menutup rapat-rapat lembaran kelam tentang kegagalan cintanya—mulai dari janji naif di bawah pohon mahoni di Lampung hingga perpisahan terhormat dengan Varisha di Singapura. Namun di hadapan Chafia, ada sesuatu yang terasa berbeda; tidak ada rasa takut untuk dianggap lemah atau dihakimi.
"Bukannya nggak siap, Chia. Cuma kadang... aku takut bayang-bayang itu malah bikin aku keliatan rapuh di mata kamu," ucap Fathan lirih, jujur mengakui ketakutannya.
Chafia meletakkan cangkirnya di atas piring kecil, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan meja, menatap lurus ke mata Fathan dengan penuh kehangatan. "Ngobrolah, Fan. Aku di sini bukan buat ngehakimi masa lalu kamu. Setiap orang pasti punya luka, dan kerapuhan itu bukan hal yang harus ditutup-tutupi."
❖ ❖ ❖
Mendengar kalimat tulus yang meluncur dari bibir Chafia, pertahanan emosional Fathan yang selama ini dijaga ketat mulai goyah. Ia menarik napas panjang, meresapi kehangatan suasana kafe yang kontras dengan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan.
"Dulu, jauh sebelum aku kenal Jakarta dan hiruk-pikuknya, aku pernah ngiket janji masa muda di bawah pohon mahoni di Lampung," mula Fathan dengan suara parau yang tertahan. "Janji naif tentang masa depan bersama seseorang yang waktu itu kukira bakal jadi pelabuhan terakhir hidupku. Tapi kenyataannya, ekspektasi itu hancur berkeping-keping karena ego dan ketidakdewasaan kami sendiri."
Chafia mendengarkan dengan seksama, tidak memotong sedikit pun cerita Fathan. Tangannya terlipat rapi di atas meja, memperlihatkan perhatian penuh yang membuat Fathan merasa dihargai sepenuhnya.
"Belum cukup di situ," lanjut Fathan, senyum kecut tersungging di bibirnya. "Bertahun-tahun kemudian, waktu aku udah mulai bangkit dan ngerintis karier di Jakarta, aku sempat nemuin cinta yang matang dan luar biasa hebat. Tapi takdir lagi-lagi nguji lewat jarak dan ambisi besar—Singapura dan Jakarta. Kami akhirnya harus berpisah secara terhormat karena nggak mau saling ngebebanin impian masing-masing."
"Itu pasti bukan hal yang gampang buat kamu lewatin, Fan," ucap Chafia lembut, suaranya mengandung empati yang begitu dalam tanpa sedikit pun rasa iba yang merendahkan.
Fathan mengangguk lemah, menunduk menatap cangkirnya. "Sempat hancur, Chia. Sempat ngerasa kalau aku ini kutukan buat setiap hubungan yang kujalanin. Takut kalau setiap kali aku serius sayang sama orang, akhirnya bakal selalu berakhir dengan perpisahan."
Chafia terdiam sejenak, meresapi setiap luka yang tersimpan di balik ketenangan sikap Fathan selama ini. Ia tahu persis betapa beratnya memikul beban kenangan masa lalu yang begitu membekas.
"Kandaknyo agek jangan terlaluan disesali nian masa lalu tu, Fan," ucap Chafia tiba-tiba dengan senyum manis dan logat Palembang yang lembut, sengaja meniru gaya bahasa santai untuk mencairkan ketegangan di antara mereka.
Fathan tertegun, lalu tertawa kecil mendengar celetukan Chafia yang mendadak menggunakan logat tanah kelahirannya. "Eh, sejak kapan jago bahasa Palembang pula kau ni, Chia?"
"Mentang-mentang kamu asli wong kito galak pulang kampung, aku kan sempet belajar dikit-dikit dari temen kantor lama yang asli Palembang juga," jawab Chafia terkekeh renyah, membuat suasana hati Fathan yang tadinya berat mendadak jauh lebih ringan.
❖ ❖ ❖
Kehangatan yang ditebarkan oleh Chafia berhasil meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan terakhir di dalam diri Fathan. Di titik ini, ia menyadari bahwa Chafia bukan sekadar pendengar yang baik, tetapi juga sosok perempuan yang tahu persis bagaimana cara menyembuhkan luka tanpa harus memaksa atau menghakimi kerapuhannya.
"Makasih ya, Chia. Jujur, baru kali ini aku bisa cerita seblak-blakannya tentang masa laluku tanpa rasa takut sedikit pun," aku Fathan tulus, menatap perempuan di hadapannya dengan sorot mata penuh kekaguman.