Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Restu yang Terasa Mudah

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kafe berkonsep vintage di kawasan Demang Lebar Daun, Palembang. Udara pagi kota pempek terasa begitu segar, membawa aroma harum biji kopi robusta lokal yang baru saja digiling oleh sang barista di sudut ruangan. Di meja sudut yang menghadap langsung ke taman hijau rindang di luar, Fathan duduk dengan jemari yang sedikit meremas cangkir keramik berisi teh hangat di hadapannya.

Ia mengenakan kemeja katun abu-abu terang yang disetrika rapi, memperlihatkan aura seorang profesional matang yang telah melewati banyak badai emosional dalam hidupnya. Di seberang meja, Chafia duduk dengan tenang mengenakan abaya berwarna pastel lembut, tersenyum manis sambil menatap lurus ke arah Fathan.

"Minum dulu, Fath. Dari tadi mukanya kelihatan serius banget, kayak mau sidang skripsi aja," ledek Chafia lembut, suaranya mengalir menenangkan di tengah keheningan kafe yang belum terlalu ramai pengunjung.

Fathan tersenyum tipis, meletakkan cangkirnya pelan-pelan di atas piring kecil. "Bukan mau sidang skripsi, Fia. Tapi jujur, rasanya deg-degan ini jauh melebihi waktu gua harus presentasi proyek besar di depan direksi korporat," aku Fathan jujur, tanpa berusaha menutupi kegugupan yang melanda dadanya.

Chafia tertawa kecil, suara tawanya renyah dan tidak dibuat-buat. "Lah, ngapo harus deg-degan nian, Fath? Emangnyo ade hal penting yang mau diobrolin pagi ini?" tanya Chafia dengan dialek Palembang yang sangat khas, ramah, dan menenangkan.

Fathan menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya dengan oksigen untuk menenangkan debar jantung yang mendadak berlari kencang. Selama bertahun-tahun hidupnya, langkah-langkah besar selalu diwarnai oleh beban trauma masa lalu. Ia ingat bagaimana hubungannya dengan Nisa di masa muda harus kandas di stasiun kereta karena tembok restu keluarga yang tidak pernah bisa ia robohkan. Ia juga ingat bagaimana hubungannya dengan Varisha di ruang korporat harus berakhir di bandara internasional karena ambisi global yang saling bertabrakan.

Setiap kenangan itu meninggalkan luka, sebuah kutukan tak kasat mata yang membuat Fathan selalu percaya bahwa setiap kali ia mencoba melangkah ke jenjang yang lebih serius, selalu ada takdir kejam yang siap merampas kebahagiaannya. Namun hari ini, di hadapan Chafia, Fathan ingin memutus rantai ketakutan tersebut untuk selamanya.

"Fia," panggil Fathan dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua beludru yang tersimpan rapi di sana. "Mumpung kita lagi duduk berdua di sini, di kota asal kamu, gua mau ngomong serius."

Chafia menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih cangkir kopi. Ia menatap kotak kecil di tangan Fathan, lalu beralih menatap manik mata Fathan yang memancarkan ketulusan luar biasa. Tidak ada bayang-bayang keraguan, tidak ada ketakutan, yang ada hanyalah kejernihan jiwa.

"Ngomong apo, Fath? Coba keluarkan unek-uneknyo, aku dengerin," ucap Chafia lembut, memberikan ruang selebar-lebarnya bagi Fathan untuk menumpahkan isi hatinya.

❖ ❖ ❖

Fathan meletakkan kotak beludru biru tua itu di atas meja kayu, tepat di antara cangkir teh dan buku catatan kecil miliknya. Ia menatap lekat-lekat wajah perempuan di hadapannya, meresapi setiap detik keheningan yang terasa begitu berharga.

"Selama bertahun-tahun, gua selalu percaya kalau jatuh cinta itu urusan yang rumit," ucap Fathan memulai pengakuannya dengan suara parau. "Gua selalu mikir kalau setiap kali kita mau melangkah ke jenjang yang lebih serius, pasti bakal ada dinding besar yang merintangi, atau takdir yang sengaja misahin kita di tengah jalan."

Chafia menyimak dengan penuh perhatian, jemarinya bertumpu lembut di atas meja. "Maksud kamu soal masa lalu kamu yang di Jakarta atau pas di luar negeri dulu?" tanyanya pelan, menunjukkan bahwa ia memahami sebagian perjalanan hidup Fathan tanpa pernah menghakimi.

"Iya, Fia," jawab Fathan mengangguk lemah. "Gua sempat mikir hidup gua kena kutukan. Setiap mau serius, selalu ada aja hantaman keras yang bikin semuanya hancur berkeping-keping. Gua capek harus selalu siap siaga berperang melawan keadaan."

Chafia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kebijaksanaan yang memancar dari sorot matanya. "Fath, hidup ni kadang teraso berat bukan karena takdirnyo yang jahat, tapi kadang kito dewek yang terlalu sibuk melihara ketakutan di dalam pale."

Fathan tertegun mendengar kalimat bijak tersebut. Kata-kata sederhana yang dibalut dialek khas Palembang itu langsung menohok bagian paling jujur di dalam batinnya. Selama ini, Fathan memang memelihara trauma masa lalu sebagai perisai diri, padahal perisai itu justru yang membuatnya terus hidup di dalam sangkar kecemasan.

"Dan jujur, Fia... waktu pertama kali kita mutusin buat deket secara serius, gua sempat takut setengah mati," lanjut Fathan terbuka. "Gua takut kejadian masa lalu bakal terulang lagi. Takut kalau restu atau keadaan bakal bikin kita pisah."

"Makonyo jangan suka negative thinking duluan, Fath," tukas Chafia jenaka, mencoba mencairkan ketegangan di wajah Fathan. "Belom kito melangkah, kamu sudah takut kesandung batu duluan. Percayo sikok lah samo prosesnyo."

Fathan tersenyum kecut, merasa sedikit lega karena ketegangannya mulai meluruh berkat kehangatan sikap Chafia. Ia membuka kotak beludru biru tua di hadapannya perlahan-lahan. Di dalam kotak itu, tersemat sebuah cincin emas putih berukir minimalis yang sederhana namun elegan, memantulkan cahaya lampu kafe dengan lembut.

"Fia, gua gak punya janji-janji muluk soal hidup yang bakal selalu mulus tanpa masalah," ucap Fathan tulus, menatap lurus ke dalam bola mata Chafia. "Tapi gua mau ngajak kamu jalan bareng, ngerjain sisa umur kita berdua sebagai suami istri. Maukah kamu nerima lamaran gua dan jadi teman hidup gua selamanya?"

❖ ❖ ❖

Pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir Fathan, menggantung di udara hangat kafe pagi itu. Seluruh suara bising kendaraan di luar jendela seolah lenyap, menyisakan keheningan yang menegangkan di antara mereka berdua. Fathan menahan napasnya, menunggu jawaban yang akan menentukan arah sisa lembaran hidupnya.

Lihat selengkapnya