Sore hari di kota Bandung menyuguhkan pemandangan langit jingga yang begitu memukau, berpadu sempurna dengan embusan angin sejuk khas dataran tinggi Priangan yang menyapa pelan dedaunan di sepanjang jalan perkantoran. Di dalam kamar kosannya yang tertata rapi, Fathan berdiri tegak di depan cermin besar berbingkai kayu, memperhatikan pantulan dirinya sendiri. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif klasik berwarna cokelat gelap dengan paduan celana bahan hitam formal. Tangannya sibuk merapikan kerah kemeja, memastikan tidak ada satu lipatan pun yang tampak berantakan.
Hari ini bukan hari biasa bagi Fathan. Sebuah undangan resmi dari Chafia—perempuan yang beberapa bulan terakhir mengisi hari-harinya dengan tawa, obrolan natural, dan kedamaian batin—telah mengubah ritme jantungnya menjadi sedikit lebih cepat dari biasanya. Chafia memintanya untuk datang ke rumah keluarganya malam ini guna menghadiri jamuan makan malam resmi sekaligus mempertemukan orang tua. Bagi Fathan, undangan tersebut bukan sekadar acara makan malam biasa, melainkan sebuah langkah besar dan serius yang menandakan bahwa hubungan mereka telah bergerak ke arah yang jauh lebih sakral.
"Fathan, tenang, tarik napas dalam-dalam, buang perlahan," gumam Fathan pada dirinya sendiri di depan cermin, mencoba meredakan debar gugup yang mendadak menyerang rongga dadanya.
Hubungannya dengan Chafia tumbuh begitu organik, mengalir bagaikan air jernih di sungai pegunungan tanpa ada paksaan, tanpa drama ambisi karier yang meledak-ledak, dan tanpa bayang-bayang jarak lintas benua yang menyesakkan seperti masa lalunya. Chafia hadir membawa kesahajaan, mengajarkan bahwa cinta sejati tidak perlu diuji dengan derita yang berlebihan, melainkan dirawat dengan kehangatan obrolan ringan dan penerimaan apa adanya.
Ponsel di atas meja rias tiba-tiba bergetar, menampilkan pesan singkat dari Chafia. Fathan segera menyambarnya dan membaca pesan tersebut dengan senyuman lebar.
Fathan, jangan lupa nanti malam datang tepat waktu ya. Mamak sama bapak udah siapin masakan spesial khas Palembang di rumah. Hati-hati di jalan!
Fathan membalas pesan itu dengan cepat, mengetik kata-kata penuh antusiasme. Siap, Chafia! Sebentar lagi aku berangkat dari kosan. Salam buat mamak dan bapak ya.
Ia mengambil kunci motor dan dompetnya, lalu melangkah keluar kamar. Di luar, langit mulai menggelap digantikan oleh kerlip bintang-bintang kecil yang mulai bermunculan. Dengan hati yang berbunga-bunga dan perasaan penuh harap, Fathan menaiki motornya dan melaju membelah jalanan kota Bandung menuju kediaman keluarga Chafia. Ia merasa, malam ini adalah babak akhir yang paling indah dari seluruh pencarian panjang yang melelahkan di masa lalunya.
❖ ❖ ❖
Sepuluh menit kemudian, Fathan telah memarkirkan kendaraannya dengan rapi di halaman sebuah rumah bergaya klasik modern di kawasan perumahan yang tenang di utara Bandung. Rumah berpagar kayu rendah itu tampak asri dengan lampu-lampu taman berwarna kuning hangat yang memancarkan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Dari dalam rumah, tercium samar aroma rempah-rempah masakan tradisional yang sangat menggugah selera.
Fathan menarik napas panjang sekali lagi, merapikan letak batiknya, lalu melangkah mantap menaiki teras rumah. Sebelum ia sempat mengetuk pintu kayu jati berpelitur gelap itu, daun pintu sudah terbuka dari dalam, memperampilkan sosok Chafia yang berdiri menyambut dengan senyuman paling cerah di wajahnya. Chafia mengenakan tunik panjang bernuansa pastel yang membuatnya tampak anggun dan memesona malam itu.
"Eh, Fathan! Kirain masih kejebak macet di jalan, ternyata tepat waktu banget ya," sapa Chafia riang, membuka pintu lebar-lebar untuk mempersilakan masuk. "Ayo, silakan masuk ke dalam, mamak sama bapak udah nungguin dari tadi di ruang makan."
Fathan melangkah masuk, membalas senyuman Chafia dengan rasa gugup yang mendadak kembali mencuat di tenggorokannya. "Ah, kebetulan tadi jalanan lancar jaya, Chafia. Duh, jadi nggak enak nih datengnya agak keduluan."
"Nggak apa-apa dong, justru bagus biar nggak bikin mamak panik di dapur," canda Chafia sambil membantu Fathan meletakkan jaket dan tas kecil di rak dekat pintu masuk. "Sini, ikut aku ke belakang."
Saat Fathan melangkah menyusuri ruang tamu menuju ruang makan keluarga, aroma sedap masakan khas Palembang semakin tercium pekat memenuhi udara. Di meja makan kayu jati berukuran besar yang tertata rapi dengan berbagai piring saji keramik, duduk sepasang suami istri paruh baya yang tampak ramah menyambut kedatangan mereka. Ayah Chafia mengenakan kemeja batik rapi berambut ubanan tipis, sementara sang ibu—atau yang biasa dipanggil Mamak—tampil anggun mengenakan selendang kain tradisional yang disampirkan di bahunya.
"Ini ya, Nak Fathan yang sering diceritain Chafia lewat telepon?" sapa sang ayah ramah sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan hangat. "Duduk, Nak, nggak usah canggung."
"Iya, Om, saya Fathan. Senang sekali bisa berkenalan langsung dengan Bapak dan Mamak malam ini," balas Fathan sopan, menyambut uluran tangan ayah Chafia dengan penuh takzim.
Mamak Chafia tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Fathan dari ujung kepala hingga kaki. "Aduhai, ganteng nian rupa anak muda ni aslinyo, cak di dalem foto bae. Duduklah dulu, Fathan, kito makan malam samo-samo. Awas kagek keburu dingin gulai tempoyaknyo!"
Mendengar sapaan hangat berlogat Palembang asli dari sang ibu, ketegangan yang sempat merayap di dada Fathan mendadak melebur seketika. Titik jepit pertama ini menyadarkan Fathan bahwa keluarga besar Chafia menyambutnya dengan keterbukaan dan ketulusan yang luar biasa, membuat rasa gugupnya perlahan berubah menjadi kehangatan kekeluargaan yang menenangkan.
❖ ❖ ❖
Suasana di meja makan keluarga itu terasa sangat hidup dan penuh warna. Berbagai hidangan lezat khas Palembang terhampar luas di hadapan mereka—mulai dari gulai ikan patin tempoyak yang beraroma harum rempah, sambal udang nanas, hingga semangkuk hangat pempek lenjer kuah cuko asli yang menggugah selera. Mamak Chafia tampak sangat antusias menyendokkan makanan ke piring Fathan, memastikan calon tamu istimewa keluarganya itu tidak kelaparan.
"Makan yang banyak ya, Fathan. Mamak sengaja masak menu kesukaan Chafia khusus buat malam ini, biar Fathan tahu masakan rumah kami," ujar Mamak ramah sambil meletakkan potongan gulai ikan ke atas piring Fathan.
Fathan mengangguk sopan, tersenyum lebar. "Wah, terima kasih banyak, Mamak. Keliatannya enak banget, jujur saya baru pertama kali ini mau nyoba gulai ikan patin tempoyak."
"Nah, cubo beneran rasokef dulu, Fathan! Dak bakal nyesel sumpah, mantap nian raso asem pedesnyo bikin nagih," timpal Chafia bersemangat sambil mencicipi makanannya sendiri.