Sinar matahari pagi menyembulkan pendar keemasan yang lembut di atas rimbunnya pepohonan palem di halaman depan rumah Chafia yang megah di kawasan bukit eksklusif Palembang. Arsitektur rumah tersebut memadukan gaya kolonial klasik dengan sentuhan modern tropis yang elegan, menghasilkan fasad putih bersih berpadu tiang-tiang kokoh dan jendela kaca nako besar yang membiarkan cahaya alami leluasa masuk ke dalam ruangan. Di hadapan pintu utama berukir kayu jati tua bercorak khas Sumatra Selatan, Fathan berdiri menarik napas panjang, merapikan kerah kemeja linen abu-abu muda yang ia kenakan. Tangannya yang sedikit berkeringat menggenggam erat tali kertas buah tangan terbaik—sekotak lapis legit premium khas Palembang yang ia beli langsung dari toko legendaris tertua di kota ini, ditambah bingkisan buah segar pilihan.
Ini bukan sekadar kunjungan biasa ke rumah seorang teman atau rekan kerja. Langkah kaki Fathan hari ini membawa beban emosional yang jauh lebih dalam, sebuah penanda penting dari perjalanan panjang pencariannya setelah bertahun-tahun tersesat di labirin trauma masa lalu di Jakarta dan Bandung. Di balik pintu kayu besar itu, keluarga besar Chafia telah berkumpul untuk sebuah acara silaturahmi keluarga yang sengaja diatur khusus. Jantung Fathan berdegup kencang, bukan karena ketakutan purba seperti yang pernah ia rasakan ketika menghadapi kesuksesan Varisha atau dinginnya interaksi bersama Nisa di masa lalu, melainkan oleh debar antisipasi yang hangat. Ia sadar, ambang pintu yang sebentar lagi akan ia langkahi ini adalah gerbang menuju babak baru hidupnya—sebuah titik temu di mana masa lalunya yang penuh luka akhirnya berlabuh pada sebuah keluarga yang utuh dan penuh kasih.
Pintu besar itu perlahan terbuka dari dalam, menampilkan sosok asisten rumah tangga paruh baya yang mengenakan baju kurung sederhana dengan senyum ramah menyambut kedatangan Fathan.
"Pagi, Bibi. Alhamdulillah cerah ya hari ini," sapa Fathan dengan ramah, nada suaranya terdengar hangat dan sopan.
"Pagi, Den Fathan. Silakan masuk, Den. Di dalam sudah pada kumpul di dekat ruang makan," balas sang pelayan dengan logat Palembang yang kental dan ramah, membukakan pintu lebih lebar untuk mempersilakan tamunya melangkah masuk.
Fathan melangkah melewati ambang pintu dengan senyuman terkembang di bibirnya. Begitu ia menginjakkan kaki di ruang tamu utama, aroma harum masakan tradisional Palembang seperti gulai malbi dan sambal tempoyak langsung menggelitik indra penciumannya, berpadu harmonis dengan kehangatan obrolan keluarga yang mengalun pelan dari arah ruang makan di bagian belakang rumah.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam rumah megah itu terasa hidup dan penuh keakraban. Di ruang makan yang luas, meja makan panjang bermaterial marmer putih tampak dipenuhi oleh berbagai hidangan lezat khas daerah. Chafia, yang mengenakan gamis panjang berwarna dusty pink dengan kerudung senada, melangkah menyambut Fathan begitu melihat pria itu muncul di ujung koridor penghubung. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Eh, Fan! Kirain kesasar tadi macet di jalan, alhamdulillah sampainya pas banget," sapa Chafia ceria dengan logat Palembang yang lembut di telinga.
Fathan menyerahkan kantong bingkisan buah dan kotak lapis legit dengan senyuman tulus. "Mana bisa kesasar, Fia, GPS di kepala aku udah diset langsung ke rumah kau. Ini, buah sama lapis legit buat keluarga besar di dalam."
"Wih, repot-repot bener bawa oleh-oleh sebanyak ini. Padahal Bibi di dapur tadi sudah masak banyak buat menyambut kau," ujar Chafia sambil menerima bingkisan tersebut, lalu memanggil salah seorang staf rumah untuk menyimpannya. "Sini, kenalin dulu sama om dan bibi aku yang baru datang dari Seberang Ulu."
Fathan mengikuti langkah Chafia menuju ruang makan besar tempat para anggota keluarga berkumpul. Di sana, duduk beberapa orang kerabat paruh baya yang langsung menoleh menyambut kedatangan mereka dengan tatapan penasaran namun hangat. Chafia memperkenalkan Fathan satu per satu kepada paman, bibi, serta sepupu-sepupunya yang sengaja berkumpul hari ini.
"Nah, Om, Bibi, kenalin ini Fathan... kawan sekantor yang kemarin bantu-bantu proyek desain tata kota di Palembang," ucap Chafia memperkenalkan dengan senyuman manis.
Fathan membungkuk hormat, menyalami satu per satu tangan para kerabat Chafia dengan penuh takzim. "Fathan, Om, Bibi. Senang bisa diundang silaturahmi ke sini," ucapnya ramah menggunakan bahasa Indonesia yang sopan.
"Alhamdulillah, selamat datang ya, Nak Fathan. Duduk, jangan canggung-canggung. Mumpung lauknya masih hangat, sebentar lagi kita makan bersama," sambut paman Chafia, seorang pria paruh baya berpeci hitam dengan senyum kebapakan yang menyejukkan hati.
Fathan duduk di kursi kayu berukir yang telah disiapkan di sebelah Chafia. Meski awalnya sempat ada rasa canggung yang merayap di rongga dadanya—mengingat traumanya di masa lalu terhadap pertemuan keluarga besar—suasana rumah ini mendadak melunturkan segala kecemasan itu tanpa sisa.
❖ ❖ ❖
Obrolan ringan mulai mengalir di meja makan sambil menunggu seluruh anggota keluarga berkumpul lengkap. Para kerabat Chafia ternyata sangat santai dan gemar bersenda gurau, membuat Fathan yang tadinya tegang perlahan-lahan mulai bisa menyesuaikan diri. Topik pembicaraan beralih dari urusan pekerjaan arsitektur hingga obrolan santai seputar kuliner khas Palembang yang menggugah selera.
"Nah, Fathan, Bibi denger-denger kau ni asli orang Jakarta ya? Kuat dak lidah kau makan pindang patin buatan Bibi yang pedas nian?" tanya bibi Chafia sambil tertawa renyah, melirik jenaka ke arah Fathan.