Sore hari di kota Palembang selalu menawarkan ketenangan yang khas, merayap lembut bersama angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah Sungai Musi. Di sebuah rumah besar bergaya arsitektur kolonial yang berdiri megah di kawasan Demang Lebar Daun, suasana tampak begitu tenang. Halaman depannya dipenuhi oleh deretan pohon mangga dan bunga bougenville yang sedang mekar lebat, menciptakan bayangan-bayang estetis di atas lantai paving block halaman. Di teras belakang yang menghadap langsung ke taman bunga, Fathan duduk dengan tenang di atas kursi kayu jati berukir klasik, mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat gelap.
Di hadapannya, secangkir kopi o hitam mengepulkan uap tipis yang beradu dengan aroma harum penganut sore hari. Chafia, perempuan berdarah Palembang yang selama ini menjadi sauh kedamaian hidupnya, baru saja keluar dari arah dapur membawa semiring piring kecil berisi bika ambon hangat buatan tangan ibunya sendiri. Senyum manis terukir di bibir Chafia, memancarkan ketulusan yang selalu berhasil melunturkan sisa-sisa penat di kepala Fathan setelah seharian berkutat dengan urusan perancangan tata kota.
"Nah, Kang, cicipi dulu kue bika ambon buatan mama. Masih hangat, pas banget buat pendamping kopi hitamnya," ujar Chafia lembut sambil meletakkan piring kecil itu di atas meja marmer di hadapan Fathan.
Fathan mendongak, menatap wajah istrinya dengan binar penuh rasa syukur yang mendalam. Ia meraih tangan Chafia sekilas lalu menggenggamnya hangat. "Makasih banyak, Fia. Kamu emang paling tahu apa yang bikin aku rileks pas pulang kerja begini," balas Fathan tulus dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Tidak ada lagi bayang-bayang hubungan jarak jauh antarkota yang melelahkan, tidak ada lagi amplop beasiswa misterius lintas benua yang siap meremukkan kewarasan, dan tidak ada lagi intrik rumit masa lalu yang menghantui langkah mereka. Kehidupan Fathan bersama Chafia berjalan dalam ritme yang sangat sederhana, stabil, dan tanpa drama. Di tanah Palembang ini, Fathan merasa telah menemukan takdir sejatinya—cinta yang hadir tanpa syarat, tanpa tuntutan egois, dan tanpa hambatan logistik yang menyiksa batin.
"Alhamdulillah, ya Kang. Hidup kita sekarang tenang nian, nggak usah pusing mikirin hal-hal yang jauh," ucap Chafia sambil ikut duduk di kursi sebelah suaminya, menikmati sore yang damai. (Alhamdulillah, ya Kang. Hidup kita sekarang tenang nian, nggak usah pusing mikirin hal-hal yang jauh.)
"Iya, Fia. Akang bersyukur banget bisa nemuin kamu di sini. Rasanya semua badai masa lalu itu cuma latihan buat ngenalin akang sama arti kedamaian yang sesungguhnya," timpal Fathan mengamini perkataan istrinya.
Namun, kedamaian sore itu seketika diuji ketika seorang asisten rumah tangga paruh baya setengah berlari kecil menghampiri teras belakang, membawa pesan penting dari dalam rumah utama. "Neng Chafia, dipanggil sama Bapak di ruang kerja depan. Katanya ada tamu penting dari Jakarta yang baru datang mau ketemu sama Bapak," lapor sang asisten dengan napas sedikit tersenggal.
Chafia menoleh sekilas ke arah dalam rumah, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mbok, sebentar lagi saya ke depan," jawabnya ramah, sebelum kembali menatap Fathan. "Yuk, Kang, kita ke depan temuin Bapak. Biasa, rekan bisnis atau kolega lama beliau."
Fathan berdiri dari kursinya, merapikan letak kemeja batiknya, lalu melangkah mendampingi Chafia menyusuri koridor rumah utama yang bernuansa klasik modern. Langkah kaki mereka berdua bergemeretak pelan di atas lantai marmer putih yang mengkilap, membawa mereka menuju ruang kerja pribadi sang kepala keluarga yang terletak di bagian depan rumah megah tersebut.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam koridor menuju ruang kerja terasa begitu sunyi, hanya diselingi suara detak jam dinding antik berbandul emas yang tergantung di sudut lorong. Fathan melangkah dengan kepala tegak, sama sekali tidak menduga bahwa sore yang tenang ini akan segera berubah menjadi titik balik paling mengejutkan dalam hidupnya. Setibanya di depan pintu kayu jati berukir berat milik ruang kerja ayah Chafia, pintu tersebut tampak tidak tertutup rapat; celah selebar lima sentimeter membiarkan cahaya lampu meja kuning dari dalam ruang kerja merembes keluar ke lantai koridor.
Chafia melangkah lebih dulu, mengetuk daun pintu tiga kali dengan sopan sebelum mendorongnya perlahan. "Bapak, ini Fia sama Kang Fathan datang memenuhi panggilan Bapak," ucap Chafia lembut sambil melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku perpustakaan kayu jati tinggi.
Ayah Chafia—seorang pria paruh baya terpandang di Palembang yang dikenal tegas, berwibawa, dan sangat disegani di kalangan pengusaha regional—tampak sedang berdiri membelakangi pintu, merapikan beberapa dokumen penting di atas meja kerjanya yang luas. Mendengar suara putrinya, sang ayah perlahan membalikkan badannya untuk menyambut tamu penting yang baru saja datang menemuinya di ruang kerja tertutup itu.
"Masuklah, Fia... Bapak baru saja mau ngenalin kamu sama kolega lama bapak dari masa lalu yang kebetulan lagi dinas ke Palembang," kata sang ayah dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa.
Langkah kaki Fathan yang menyusul di belakang Chafia terhenti seketika di ambang pintu ruang kerja. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa membeku, seolah seluruh oksigen tersedot habis dalam sepersekian detik. Wajah Fathan yang tadinya tenang langsung memucat pasi, sementara kedua matanya membelalak lebar menatap sosok tamu asing yang duduk di sofa kulit hitam di sudut ruangan.
Tamunya adalah seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas rapi bermerek internasional, yang juga ikut berdiri menyambut kedatangan sang tuan rumah. Begitu pandangan mata pria itu beradu dengan wajah Fathan yang berdiri di ambang pintu, senyuman ramah yang tadinya tersungging di bibirnya langsung membeku seketika.
Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak berubah menjadi sangat tegang, bagaikan badai petir yang menyambar di siang bolong tanpa peringatan apa pun.
❖ ❖ ❖
Ayah Chafia yang belum menyadari adanya perubahan drastis di antara ekspresi kedua pria tersebut, tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya memperkenalkan sang tamu. "Nah, Fia, kenalin ini om—" ucap sang ayah terpotong begitu melihat sorot mata dingin yang kini terpancar dari wajahnya sendiri saat menatap lurus ke arah Fathan.
Langkah kaki ayah Chafia yang tadinya hendak mendekat ke arah pintu terhenti seketika saat melihat wajah Fathan secara jelas di bawah terang lampu ruangan. Senyum di wajah sang ayah kandung langsung membeku, berganti dengan kilat kemarahan yang dingin dan menusuk. Rahang pria paruh baya itu mengeras dengan sangat hebat, sementara tangannya mengepal erat di sisi celana bahan resleting jasnya.
"Kamu..." suara ayah Chafia mendesis rendah, penuh dengan kebencian tertahan yang sudah bertahun-tahun dipendam dalam-dalam. "Beraninya kamu injekkan kaki di rumah ini, Fathan?!" bentak sang ayah tiba-tiba, membuat Chafia terperanjat kaget di tempatnya berdiri.
Chafia menoleh bergantian antara suaminya dan sang ayah dengan ekspresi wajah penuh kebingungan yang luar biasa. "Bapak? Kenapa? Bapak kenal sama Kang Fathan?" tanya Chafia panik, suaranya bergetar hebat melihat kemarahan mendadak dari ayahnya. (Bapak? Kenapa? Bapak kenal sama Kang Fathan?)