Malam minggu di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi Fathan dan Chafia setelah beberapa minggu disibukkan oleh ritme kerja agensi yang begitu padat. Keduanya memilih sebuah restoran keluarga bergaya klasik dengan interior kayu jati tua yang memberikan kesan hangat dan tenang. Di meja sudut ruang makan utama, mereka duduk berdampingan sambil melihat buku menu bersampul kulit hitam. Hubungan yang baru terjalin beberapa waktu lalu itu terasa semakin matang, dipenuhi tawa kecil dan obrolan ringan tentang rencana akhir pekan mereka berikutnya.
Namun, ketenangan malam itu mendadak terusik ketika ponsel di dalam tas Chafia berdering keras. Chafia meminta izin sebentar kepada Fathan untuk mengangkat panggilan dari ayahnya, Haji Ahmad—seorang pengusaha senior di bidang logistik lintas provinsi yang sangat dihormati di kalangan pebisnis lama. Fathan tersenyum ramah dan mengangguk, membiarkan Chafia beranjak dari tempat duduknya menuju area koridor luar restoran yang lebih sepi agar suaranya terdengar jelas.
Fathan menunggu sambil menikmati suasana restoran yang remang-temaram. Tak lama berselang, Chafia kembali ke meja dengan langkah kaki yang terlihat agak kaku. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat, sorot matanya menyiratkan kebingungan sekaligus ketegangan yang mendalam. Ia duduk kembali di kursi, namun tangannya tampak sedikit bergetar ketika meletakkan ponsel di atas meja kayu.
"Ada apa, Chia? Kok muka kamu pucat banget gitu? Ayah telepon ngabarin hal penting ya?" tanya Fathan cemas, langsung memegang punggung tangan Chafia yang terasa dingin.
Chafia menatap Fathan dengan tatapan serba salah, seolah ada beban berat yang tertahan di tenggorokannya. "Fan... aku jujur bingung harus mulai ngomong dari mana. Barusan Ayah ngelarang keras aku lanjutin hubungan sama kamu. Beliau marah besar pas tahu nama lengkap kamu dan siapa ayah kandung kamu."
Fathan tertegun, keningnya mengernyit bingung. "Maksudnya gimana, Chia? Ayah kamu kenal sama bapak aku? Padahal bapak aku kan cuma pensiunan pegawai swasta biasa di Lampung, nggak punya kaitan apa-apa sama dunia bisnis besar di Jakarta."
"Itu masalahnya, Fan," ucap Chafia lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Ayah bilang, sepuluh tahun lalu, keluarga kita punya sejarah kelam yang nggak bakal pernah bisa dimaafin. Ayah kamu dan Ayah aku... dulu adalah musuh bebuyutan dalam dunia bisnis perdagangan antarprovinsi."
❖ ❖ ❖
Pernyataan Chafia menghantam kesadaran Fathan bagaikan sambaran petir di siang bolong. Suasana hangat di restoran mendadak terasa begitu menyesakkan dada. Ingatannya sekilas melayang pada masa kecilnya di Lampung, di mana sang ayah sering kali termenung berjam-jam di teras rumah sambil memandangi tumpukan dokumen perusahaan dagang yang hancur lebur akibat krisis dan sengketa hukum di masa lalu. Fathan tidak pernah tahu persis siapa pihak lawan yang menjadi musuh bisnis ayahnya kala itu, karena orang tuanya selalu menutup rapat detail masalah tersebut demi melindungi masa kecil anak-anaknya.
"Musuh bebuyutan?" ulang Fathan dengan nada suara tidak percaya, matanya menatap tajam ke arah Chafia. "Maksud kamu, kebangkrutan keluarga aku dulu ada kaitannya sama keluarga kamu, Chia?"
Chafia mengangguk pelan, air matanya mulai menetes membasahi pipinya. "Iya, Fan. Ayah cerita panjang lebar tadi di telepon. Katanya, dekade lalu ada pengkhianatan besar dalam proyek joint venture logistik besar-besaran antara perusahaan Ayah aku dan perusahaan ayah kamu. Ada tuduhan pemalsuan dokumen, penggelapan dana miliaran rupiah, tuntutan hukum bertubi-tubi, dan jatuhnya harga diri keluarga besar kami akibat insiden itu."
Fathan merosot sedikit di kursinya, kepalanya mendadak pusing. Segala kenangan indah tentang awal mula hubungannya dengan Chafia seolah runtuh seketika oleh hantu masa lalu yang datang menagih utang darah dan air mata dari generasi sebelumnya. Takdir seolah sedang mempermainkan mereka dengan kejam—mempertemukan dua anak dari keluarga yang saling berseteru di masa lalu, lalu menjerat mereka dalam ikatan cinta yang kini dianggap sebagai sebuah kesalahan besar.
"Tapi kan itu urusan orang tua kita belasan tahun lalu, Chia! Waktu itu kita bahkan masih anak-anak sekolah yang nggak tahu apa-apa soal politik bisnis kotor mereka," sanggah Fathan dengan nada frustrasi, mencoba mencari pembelaan logis di tengah kekalutan pikirannya.
"Buat kita mungkin iya, Fan. Tapi buat orang tua kita, harga diri, kerugian finansial, dan pengkhianatan masa lalu itu nggak bakal pernah bisa dilupain begitu aja," jawab Chafia lirih, isak tangisnya mulai pecah di balik telapak tangan yang menutupi wajahnya. "Ayah ngancam bakal mutusin hubungan keluarga kalau aku nekat tetep jalanin hubungan sama anak dari musuh bebuyutannya."
Fathan terdiam seribu bahasa. Ia menatap cangkir teh yang sudah mendingin di hadapannya. Luka lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam di perpustakaan kota Palembang kini terbuka kembali dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dan rumit.
❖ ❖ ❖
Keheningan yang mencekam menyelimuti meja sudut restoran tersebut. Para pengunjung lain tampak sibuk menikmati makan malam mereka, tidak mengetahui badai emosional yang sedang menghancurkan dua insan muda di sudut ruangan. Fathan menarik napas panjang, berusaha menata kembali akal sehatnya di tengah guncangan batin yang luar biasa hebat.
"Mangkényo, Fan, aku sémpet takuut nian waktu Ayah nelepon tadi," ucap Chafia dengan suara parau bercampur isak tangis, sesekali menggunakan logat Palembang yang keluar secara refleks karena panik. "Ayah tu tipikal wong lama yang keras kepalanya, pantang mundur kalau udah nyangkut masalah harga diri dan kerugian masa lalu."
Fathan menatap Chafia, lalu perlahan mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari perempuan itu yang terasa dingin. "Aku ngerti posisi serba salah kamu, Chia. Tapi jujur, rasanya nggak adil kalau kita harus bayar kesalahan yang dilakuin sama orang tua kita sendiri di masa lalu."