Cahaya lampu gantung kristal yang memancarkan rona kuning hangat di ruang makan utama kediaman keluarga besar Chafia di Palembang mendadak terasa seperti bara api yang membakar oksigen di sekitarnya. Meja makan kayu jati berukuran besar itu penuh dengan sajian hidangan tradisional yang lezat—mulai dari malbi daging sapi manis berempah, sambal tempoyak fermentasi durian yang harum, hingga mangkuk-mangkuk sup pindang patin panas yang mengepulkan uap tipis. Namun, tidak ada satu pun orang di meja itu yang bernuansa berselera untuk menyentuh makanan.
Suasana yang tadinya hangat dan penuh canda tawa pada awal kedatangan keluarga besar Fathan dari Jakarta, kini berputar 180 derajat menjadi begitu dingin, kaku, dan mencekam. Udara di dalam ruangan seolah membeku, menyisakan suara detik jam dinding antik yang terdengar begitu nyaring di telinga.
Fathan duduk bersisian dengan Chafia di salah satu sisi panjang meja makan. Di seberang mereka, ayah Fathan—seorang lelaki paruh baya dengan garis wajah tegas dan rambut yang mulai memutih—tengah mengepalkan tangan kanannya di atas meja, menatap tajam ke arah ayah Chafia yang duduk di ujung meja sebagai tuan rumah.
"Maksud Bapak apa bicara seperti itu? Jangan mentang-mentang anak saya merantau ke Palembang, lalu keluarga besar sini bisa merendahkan prinsip yang kami pegang dari Jakarta!" suara ayah Fathan memecah keheningan dengan nada tinggi yang bergetar menahan amarah tertahan.
Ayah Chafia, seorang pensiunan birokrat berpeci hitam yang biasanya dikenal sangat tenang dan bijaksana, kini menyipitkan mata dengan rahang mengeras. Ia meletakkan sendok makannya dengan kasar ke atas piring hingga menimbulkan suara dentingan nyaring yang mengejutkan seisi ruangan.
"Eh, tunggu dulu, Pak Haji! Jangan salah paham dan asal ngomong sembarangan," balas ayah Chafia dengan dialek Palembang yang tajam dan meninggi. "Dari tadi kito ni sabar nian dengerin bapak nyinyir soal adat istiadat kito. Jangan karno bapak dari Jakarta, terus ngerasa paling bener dewek!"
Chafia yang duduk di sebelah Fathan langsung meremas ujung taplak meja dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang lembut mendadak pucat pasi. Ia menoleh sekilas ke arah Fathan, memberikan tatapan penuh permohonan agar Fathan segera melakukan sesuatu untuk meredam ketegangan tersebut.
Fathan sendiri terpaku di kursinya. Otaknya terasa lumpuh sesaat. Pertemuan dua keluarga besar yang seharusnya menjadi momen sakral untuk menyatukan dua hati menjelang hari pernikahan mereka, justru berubah menjadi medan pertempuran terbuka. Meja makan yang tadinya disiapkan penuh cinta itu kini benar-benar membara oleh ego, emosi, dan benturan prinsip dua orang tua yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan esensi cinta Fathan dan Chafia.
"Bukan masalah siapa yang paling benar, Pak! Tapi cara keluarga besar bapak memperlakukan tradisi hantaran ini seolah-olah kami sedang menawar barang di pasar induk!" sergah ayah Fathan semakin tersinggung, membawa kembali luka-luka argumentasi kultural yang sempat dibahas setengah-setengah saat pertemuan sore tadi.
"Astaghfirullahaladzim... cubo ngomongnyo dipikir pake pale dingin dulu, jangan pake emosi!" timpal ibu Chafia yang duduk di samping suaminya, ikut tersinggung suaranya bergetar menahan tangis. "Kito ni wong tuo, harusnyo ngasih contoh yang baék buat anak-anak, bukan malah mamerkan ego dewek-dewek!"
Fathan merasakan darahnya berdesir naik ke kepala. Ia terjebak di tengah sisa puing perang ego masa lalu yang sama sekali tidak ia ciptakan, tersandera di antara dua dinding karang keluarga yang keras kepala.
❖ ❖ ❖
Ketegangan di meja makan semakin meruncing ketika masa lalu masing-masing keluarga mulai ditarik-tarik ke dalam perdebatan kusir yang tak berujung. Ayah Fathan, yang memang dikenal memiliki standar perfeksionis tinggi khas birokrat korporat ibu kota, mulai menyinggung masalah perbedaan latar belakang sosial yang selama ini dipendamnya dalam diam.
"Kalau dari awal keluarga sini tahu cara menyambut besan dengan etika yang pantas, mungkin perdebatan soal adat ini tidak akan pernah melebar ke mana-mana!" sindir ayah Fathan tajam, menatap lurus penuh kepongahan.
Mendengar kalimat merendahkan itu, urat di leher ayah Chafia menonjol keluar. Kemarahan yang ditahannya sejak sore tadi akhirnya tumpah sepenuhnya. Ia berdiri dari kursinya dengan menggebrak meja makan pelan namun tegas.
"Nah, ketaun kan belangnyo!" bentak ayah Chafia dengan suara menggelegar, menggunakan dialek Palembang yang pekat karena emosi yang meluap. "Dari sore tadi aku diem baé karno ngeliat anak kito beduo. Tapi kalau bapak sudah nyinggung-nyinggung martabat keluarga kito kayak gini, jelas aku dak bakal tinggal diam!"
Ibu Fathan yang duduk di sebelah suaminya langsung menarik lengan suaminya panik. "Sudah, Pak! Jangan diperpanjang lagi, ingat anak-anak kita lagi nonton!" teriak ibu Fathan memohon agar suaminya meredam amarah.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Perang mulut antarkedua orang tua itu telah melompat jauh melampaui urusan adat istiadat pernikahan; mereka mulai saling melemparkan tuduhan-tuduhan masa lalu, mengungkit perbedaan status sosial, hingga menyalahkan cara didikan keluarga masing-masing di masa muda. Fathan dan Chafia bagaikan dua orang tawanan perang yang duduk terpaku di kursi pesakitan, mendengarkan benturan ego dua generasi yang seharusnya memberi restu, kini justru meruntuhkan fondasi kebahagiaan mereka dengan tangan sendiri.
Chafia tidak tahan lagi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menunduk dalam-dalam, menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis yang lolos dari sela-sela bibirnya.
Fathan yang melihat calon istrinya menangis tersedu-sedu langsung terbangkit dari keterpakuannya. Rasa bersalah dan amarah bercampur aduk di dalam dadanya. Selama bertahun-tahun, Fathan telah berjuang mati-matian melepaskan diri dari kutukan trauma masa lalunya—mulai dari kandasnya cinta bersama Nisa di stasiun hingga perpisahan pahit bersama Varisha di bandara. Dan kini, tepat ketika ia mengira jalan menuju pelaminan bersama Chafia akan berjalan mulus tanpa halangan berarti, takdir kembali mempermainkannya lewat amukan ego orang tua di atas meja makan.
"Sudah, Yah! Cukup!" suara Fathan memecah ruangan dengan nada tinggi yang dingin dan menusuk.
Kedua orang tua yang tengah berdebat sengit itu sontak menghentikan kata-kata mereka, menoleh serentak ke arah Fathan dengan mata terbelalak kaget. Belum pernah seumur hidupnya Fathan membentak atau berbicara dengan nada setinggi itu di hadapan orang tuanya sendiri.
"Kalau kedatangan kami ke sini cuma buat bikin keributan dan saling menghina keluarga besar Fia, lebih baik acara pernikahan ini dibatalkan sekarang juga!" ucap Fathan tegas, napasnya memburu naik turun menahan emosi yang meluap-luap di ubun-ubun.
❖ ❖ ❖
Keheningan yang mematikan langsung merayap di ruang makan setelah bentakan Fathan menggema. Tidak ada lagi suara debat, tidak ada lagi cercaan. Yang terdengar hanyalah suara isak tangis Chafia yang terdengar semakin pilu di sudut meja, memecah kesunyian malam di kota Palembang.
Ayah Fathan tertegun menatap anak kandungnya sendiri, seolah tidak percaya Fathan berani berbicara sekeras itu demi membela keluarga perempuan yang baru saja mereka kenal. Sementara ayah Chafia merosot pelan kembali duduk di kursinya, napasnya masih memburu naik turun, menyadari bahwa emosinya telah melukai hati anak gadis kesayangannya sendiri.