Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Harga dari Sebuah Nama

Sinar matahari pagi yang biasanya menyusup lembut melalui celah jendela ruang kerja Fathan hari ini terasa begitu menyengat dan menusuk mata. Di atas meja kerjanya, secangkir kopi hitam yang baru diseduh mengepulkan uap tipis, namun sama sekali tidak disentuh. Fathan duduk mematung dengan pandangan kosong menatap layar ponsel yang menyala terang, menampilkan sebuah pesan singkat yang baru saja masuk dari Chafia beberapa menit lalu. Pesan itu tidak panjang, namun isinya bagaikan petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh fondasi kebahagiaan yang telah ia bangun dengan susah payah selama beberapa bulan terakhir.

Fathan, maafkan aku... Bapak melarang kita melanjutkan hubungan ini. Tolong jangan datang ke rumah dulu untuk sementara waktu.

Kalimat itu berputar-putar tanpa henti di dalam kepalanya, mendengung keras di telinganya seolah menertawakan segala mimpi indah yang sempat ia rajut bersama Chafia. Malam kemarin, jamuan makan malam keluarga yang awalnya berjalan hangat dan penuh gelak tawa mendadak berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan dalam hidup Fathan. Di tengah obrolan santai di ruang keluarga, ketika Ayah Chafia menanyakan nama lengkap garis keturunan keluarga besar Fathan secara mendalam, ekspresi wajah lelaki paruh baya itu berubah drastis dalam hitungan detik. Senyuman ramah seketika lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin, tajam, dan menyimpan kobaran kebencian mendalam yang sulit dinalar oleh akal sehat.

"Fathan... tunggu sebentar, apa benar kakekmu dulu pernah memimpin proyek pembangunan perkebunan di wilayah pesisir selatan Palembang pada tahun sembilan puluhan?" tanya Ayah Chafia dengan suara bergetar menahan amarah yang tertahan.

Fathan yang saat itu tidak merasa curiga apa pun langsung mengangguk jujur. "Iya, Om. Betul sekali, almarhum kakek saya memang sempat bertugas sebagai kepala insinyur perencanaan wilayah di sana sebelum pensiun."

Seketika itu juga, Ayah Chafia bangkit dari kursi kayunya dengan tangan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Keparat! Jadi darah keluargamu itu yang dulu merusak dan merampas tanah leluhur keluarga kami?!" bentak Ayah Chafia dengan suara menggelegar memenuhi ruangan, membuat Mamak terkejut dan Chafia menangis histeris di sampingnya.

Fathan berdiri kaku, lidahnya mendadak kelu, tidak mampu merangkai satu kata pun untuk membela diri. Ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai masa lalu kelam yang melibatkan dua keluarga besar mereka di masa silam. Yang ia tahu, ia mencintai Chafia apa adanya tanpa membawa dosa-dosa masa lalu dari generasi pendahulu mereka. Namun malam itu, vonis telah dijatuhkan tanpa hak banding. Ayah Chafia dengan sangat tegas melarang hubungan mereka berlanjut. Bagi keluarga besar mereka, darah Fathan bukan sekadar identitas biasa, melainkan representasi hidup dari kehancuran masa lalu yang tidak akan pernah bisa dimaafkan.

"Fathan, maafkan bapak... tapi luka lama keluarga kami terlalu parah buat dilupain cuma karena rasa suka kalian berdua," ucap Chafia terisak pilu lewat sambungan telepon pagi ini, suaranya parau menahan derai air mata.

"Chafia, tapi itu kan kesalahan masa lalu kakekku, kenapa kita harus jadi korban dari dendam yang bahkan nggak kita tahu akarnya?" jawab Fathan dengan suara serak, dadanya terasa sesak seolah dihantam martil berat.

"Bapak keras kepala, Fathan... beliau bilang darah keluarga kalian adalah harga mati yang nggak bisa ditawar," balas Chafia terisak semakin kencang sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus sepihak.

Fathan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kamar kosnya dengan mata memerah. Refleksi waktu tiba-tiba menghantam kesadarannya dengan telak: waktu ternyata tidak pernah benar-benar menyembuhkan atau menghapus kebencian; waktu hanya menyimpannya baik-baik di dalam gelap, merendamnya dalam diam, hingga matang sempurna untuk meledak dan menghancurkan apa saja di hadapannya.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan bagaikan mimpi buruk yang berulang tanpa ujung bagi Fathan. Di kantor cabang arsitektur tempatnya bekerja, meja kerjanya dibiarkan berantakan dengan tumpukan sketsa desain yang tak tersentuh. Rekan-rekan kerjanya, termasuk Riri, sering kali mencoba menegur atau menawarkan bantuan, namun Fathan hanya menggeleng lemah dan memilih untuk mengurung diri di balik dinding kubikelnya.

"Fathan, kalau kamu butuh waktu cuti buat menenangkan pikiran, ambil saja dulu. Kinerja kamu seminggu ini keliatan drop banget, bimbingan proyek heritage-nya jadi keteteran," ujar Riri penuh perhatian sambil meletakkan segelas air hangat di atas meja Fathan.

Fathan mendongak, menatap Riri dengan sorot mata kosong tanpa binar kehidupan. "Makasih banyak, Ri. Tapi aku masih pengen coba bertahan di sini, meskipun rasanya kepala mau pecah mikirin semuanya."

"Beban masa lalu keluarga emang hal paling brengsek di dunia ini, Than. Kita nggak pernah minta buat dilahirkan dari rahim siapa, tapi kita malah harus bayar utang yang nggak pernah kita pinjam," timpal Riri bijak, mencoba memberikan sedikit penghiburan.

Fathan menghela napas panjang, menatap pantulan bayangannya sendiri pada layar monitor komputer yang mati. Pikirannya terus melayang kembali ke hari di mana Ayah Chafia melontarkan kemarahan luar biasa di ruang tamu rumah itu. Kata-kata pedas bernada penolakan mutlak terus bergema di dalam kepalanya, menciptakan luka batin yang menganga lebar.

"Dak katek gunonyo kamu maksa dateng lagi, Fathan! Darah keluarga kamu itu racun buat keluarga kami!" suara tegas Ayah Chafia malam itu terngiang-ngiang kembali, menusuk ulu hatinya tanpa ampun.

Titik jepit pertama ini menjerat Fathan pada sebuah realitas pahit bahwa cinta tulus dan obrolan natural di kafe perpustakaan ternyata tidak cukup kuat untuk meruntuhkan dinding tebal permusuhan antargenerasi. Harga dari sebuah nama ternyata begitu mahal—dibayar dengan air mata Chafia dan kehancuran hubungan yang baru saja hendak mereka mulai. Fathan merasa terjebak di dalam labirin waktu, di mana setiap jalan keluar yang ia pilih selalu berujung pada tembok buntu bernama takdir masa lalu.

"Kenapa harus takdir ini yang mempertemukan kami, kalau pada akhirnya harus dipisahkan oleh dosa orang lain?" gumam Fathan lirih pada dinding ruang kerjanya yang sunyi.

Ia tahu, Chafia di sisi lain pasti sedang menanggung derita yang tidak kalah berat. Sebagai anak perempuan yang patuh pada orang tua, Chafia berada di posisi paling terjepit di antara rasa bakti kepada ayahnya dan cinta tulus kepada Fathan. Dan di sinilah letak ironi terbesar dalam hidup Fathan: ia kehilangan Varisha di masa lalu karena perbedaan jarak benua dan waktu studi, namun kini ia kehilangan Chafia di masa kini bukan karena jarak, melainkan karena sejarah darah yang membentang jauh sebelum ia lahir ke dunia.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya