Malam di kota Palembang terasa pengap dan menyesakkan, seolah langit rendah menekan atap rumah megah keluarga Chafia di kawasan bukit eksklusif tanpa menyisakan celah bagi angin untuk berhembus. Di dalam ruang keluarga yang luas berbalut lampu kristal kekuningan, suasana mendadak membeku dalam keheningan yang mematikan. Chafia berdiri kaku di dekat meja konsol kayu jati, kedua tangannya saling meremas erat hingga jemarinya memucat. Di hadapannya, duduk sang ibu di atas sofa beludru merah dengan ekspresi wajah yang mengeras, menyembunyikan amarah dan kekecewaan mendalam di balik garis-garis keriput di wajahnya.
Beberapa jam lalu, sebuah rahasia besar mengenai masa lalu Fathan—tentang kegagalan pernikahannya yang hampir terjadi di Jakarta dan catatan hidupnya yang pernah babak belur akibat ambisi serta trauma—sampai ke telinga ibunya melalui jalur kerabat jauh di ibu kota. Bagi sang ibu, seorang perempuan terpandang yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga besar di Palembang, masa lalu Fathan adalah sebuah noda hitam yang tidak bisa ditoleransi begitu saja. Pertemuan keluarga yang tadinya penuh kehangatan beberapa waktu lalu kini berbalik menjadi arena interogasi moral yang amat menghancurkan batin Chafia.
"Ibu bukan perempuan jahat yang tega nyiksa anak gadisnya sendiri, Fia," ucap sang ibu dengan suara bergetar namun tajam, menggunakan logat Palembang yang sarat akan tekanan emosional. "Tapi coba pikir pake logika, nak. Laki-laki itu bawa sejarah hidup yang kotor. Punya luka masa lalu yang belum tentu kelar, dan status sosialnya jauh dari apa yang keluarga kito harapkan."
"Tapi Ibu, Fathan itu udah berubah! Dia tulus sama aku, dia udah sembuh dari masa lalunya!" bela Chafia dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya, suaranya parau menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Tulus? Omongan manis laki-laki tu gampang diucapin, Fia!" potong sang ibu tegas, menatap putrinya tanpa kompromi. "Sekarang ibu kasih kau dua pilihan mutlak. Pilih keluarga besar yang sudah besarin kau dengan air mata dan keringat, atau pilih laki-laki luar yang baru kemarin sore kenal sama kau?"
Kata-kata itu menghantam dada Chafia bagaikan hantaman palu besi berton-ton. Ia tertegun, terperangkap di tengah simpang jalan paling kejam dalam hidupnya—antara mempertahankan cinta suci yang baru saja ia temukan bersama Fathan, atau menunaikan bakti mutlak kepada orang tua yang membesarkannya dengan segenap jiwa raga.
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali merayap di dalam ruangan keluarga yang luas itu, terasa jauh lebih berat dan mencekam ketimbang sebelumnya. Chafia masih terpaku di tempatnya berdiri, napasnya memburu tidak beraturan sementara air mata terus mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi. Pilihan yang disodorkan oleh ibunya bukanlah sekadar pilihan logis antara dua hal yang berbeda, melainkan sebuah dilema moral yang mengiris hatinya menjadi kepingan-kepingan kecil. Di satu sisi, ada bakti dan kepatuhan mutlak seorang anak perempuan kepada ibunya—nilai luhur yang ditanamkan sejak ia kecil di tanah Palembang. Di sisi lain, ada Fathan, pria yang telah berhasil merebut hatinya, yang mengajarkannya arti sebuah pelabuhan teduh setelah bertahun-tahun ia lelah menerjang badai kehidupan.
"Ibu tega banget maksa aku milih hal sesulit ini..." bisik Chafia gemetar, lututnya terasa lemas menopang tubuhnya sendiri.
Sang ibu menarik napas panjang, sorot matanya melunak sesaat namun tetap teguh pada pendiriannya. "Bukannya ibu tega, Fia. Ibu cuma nggak mau anak gadis satu-satunya salah melangkah ke jurang yang sama. Laki-laki dari Jakarta itu bawa bayang-bayang masa lalu yang rumit. Kau masih muda, masa depan kau masih panjang. Kenapa harus nanggung beban hidup wong lain?"
"Tapi Fathan bukan beban, Bu! Dia rumah buat aku..." tangis Chafia pecah, suaranya memecah kesunyian malam di sudut rumah megah tersebut. "Selama ini aku nunggu seseorang yang bener-bener nerima aku apa adanya, dan pas aku nemuin itu di diri Fathan, kenapa ibu malah minta aku ngebuang dia?"
"Karena restu orang tua itu penentu kebahagiaan kau dunia akhirat, Fia!" jawab sang ibu dengan nada tinggi yang penuh penekanan. "Kalau kau tetap nekad pilih laki-laki itu ngelawan restu ibu, jalan hidup kau ke depan bakal penuh kutukan dan air mata. Pilihlah dengan akal sehat, jangan cuman pakai perasaan!"
Chafia merosot terduduk di atas kursi sofa terdekat, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pikirannya melayang kacau teringat senyuman hangat Fathan saat mengantarnya pulang kemarin sore, janji-janji tulus pria itu di taman belakang rumah, serta keyakinan mutlak bahwa Fathan adalah pelabuhan terakhirnya. Namun kini, bayangan senyuman itu berbenturan dengan sumpah serapah kepatuhan kepada sang ibu yang telah merawatnya sepenuh hati. Dilema itu menghancurkan jiwanya dari dalam, membuatnya merasa seolah terjebak di tengah badai tanpa arah tujuan.
❖ ❖ ❖
Pukul sepuluh malam, suasana di dalam rumah megah itu semakin sunyi setelah sang ibu memutuskan beranjak pergi meninggalkan Chafia seorang diri di ruang keluarga untuk merenungkan keputusannya. Chafia masih duduk meringkuk di atas sofa, menatap kosong ke arah lantai marmer yang mengilap. Ponsel di dalam tas tangannya bergetar pelan, memancarkan cahaya layar yang menampilkan nama Fathan dengan panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali.
Ia ingin mengangkat panggilan itu, ingin mencurahkan segala ketakutan dan kepedihan yang ia rasakan kepada Fathan. Namun, setiap kali jarinya hampir menyentuh tombol hijau di layar ponsel, bayangan wajah ibunya yang penuh air mata dan tuntutan bakti mutlak kembali terbayang jelas di benaknya. Chafia terjebak dalam perangkap moral yang tidak memiliki jalan keluar yang mudah; jika ia memilih Fathan, ia akan kehilangan restu dan menghancurkan hati ibunya sendiri. Sebaliknya, jika ia menuruti ibunya, ia harus membunuh perasaannya sendiri dan mengkhianati cinta tulus yang baru saja dirajut bersama Fathan.
"Ya Allah... cobaan apa lagi ini? Kenapa cinta harus dibayar dengan pengorbanan sesakit ini?" ratap Chafia pelan dalam isak tangisnya yang tertahan di balik bantal sofa.