Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Air Mata di Taman Belakang

Malam di kota Palembang merambat lambat, membawa udara lembap yang bergeser pelan dari permukaan Sungai Musi. Di balik tembok tinggi rumah bergaya kolonial milik keluarga besar Chafia, kegelapan menyelimuti sudut-sudut taman belakang yang biasanya dipenuhi tawa dan aroma kue basah. Kini, tempat itu berubah menjadi zona terlarang yang dipagari oleh dendam masa lalu dan ancaman keluarga yang tidak main-main. Sejak malam pengusiran itu, Chafia dikurung di dalam kamar utamanya, dijaga ketat oleh dua orang pengawal kepercayaan ayahnya, sementara seluruh akses komunikasi ke dunia luar diputus total.

Namun, cinta memiliki cara sendiri untuk merobek sekat-sekat pembatas yang dibangun oleh manusia. Melalui bantuan seorang asisten rumah tangga yang setia dan iba melihat penderitaan Chafia, sebuah pesan singkat berhasil diselundupkan ke ponsel cadangan Fathan. Pesan itu berisi instruksi sederhana: pukul dua belas malam, ketika seluruh isi rumah terlelap dalam tidur lelap mereka, pintu kecil sisi timur taman belakang akan sedikit terbuka untuk pertemuan rahasia.

Fathan melangkah mengendap-endap menembus pekatnya malam, mengenakan jaket hoodie berwarna gelap untuk menyamarkan bayangannya di bawah temaram lampu taman yang redup. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk, bukan karena rasa takut tertangkap basah oleh ayah mertuanya, melainkan karena rasa rindu yang teramat sakit setelah berhari-hari terpisah dari perempuan yang telah menjadi bagian dari jiwa raganya.

Begitu ia tiba di balik semak-semak pohon melati Jepang di sudut taman belakang, derit engsel pintu kecil bergeser perlahan. Dari balik celah pintu yang terbuka, sesosok bayangan ramping melangkah keluar dengan langkah gemetar. Chafia berdiri di sana, mengenakan selimut tipis menutupi bahunya, wajahnya tampak sangat pucat pasi dengan mata yang sembab akibat hari-hari penuh air mata di dalam kamar tahanan rumahnya.

"Kang Fathan...?" bisik Chafia tertahan, suaranya bergetar hebat begitu ia melihat sosok pria yang dinantikannya berdiri dalam kegelapan. (Kang Fathan...?)

Fathan tidak bersuara; ia langsung melangkah cepat menerobos jarak di antara mereka, lalu merengkuh tubuh Chafia erat-erat ke dalam dekapannya. Pelukan itu begitu kuat, seolah ingin menyatukan kembali serpihan-serpihan hati mereka yang hancur berkeping-keping akibat badai silsilah keluarga yang kejam.

"Fia... ya Allah, kamu kurusan banget, Sayang. Maafin akang..." bisik Fathan parau tepat di samping telinga Chafia, sementara air mata pertamanya menetes jatuh membasahi pundak mantel istrinya.

Chafia memeluk pinggang Fathan erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan melepaskan isak tangis yang selama ini ia tahan mati-matian di balik dinding kamar rumahnya. "Kang, aku takut... Bapak marahnya luar biasa, tapi aku gak bisa kalau harus pisah sama abang," isak Chafia tersedu-sedu di sela napasnya yang sesak. (Kang, aku takut... Bapak marahnya luar biasa, tapi aku gak bisa kalau harus pisah sama abang.)

Di bawah langit malam Palembang yang sunyi, di atas rumput taman belakang yang basah oleh embun, dua jiwa yang tidak berdosa itu harus membayar mahal sebuah kesalahan yang bahkan tidak pernah mereka perbuat di masa lalu. Cinta mereka tumbuh dengan bersih, tulus, dan tanpa intrik, namun silsilah keluarga mereka dikutuk oleh sejarah permusuhan antargenerasi yang kelam.

❖ ❖ ❖

Duduk bersimpuh di atas bangku taman kayu di bawah naungan pohon mangga tua, Fathan menghapus jejak air mata di pipi Chafia menggunakan ibu jarinya yang kasar. Sorot lampu taman yang kekuningan menyoroti wajah perempuan itu dengan jelas, memperlihatkan lingkaran hitam di bawah mata Chafia akibat kurang tidur dan tekanan batin yang luar biasa berat dari keluarganya.

"Dengerin akang, Fia. Kalau tekanan dari bapak kamu makin berat dan bikin hidup kamu tersiksa di rumah ini, kita bisa pergi dari Palembang sekarang juga. Kita mulai semuanya dari nol di kota lain," bisik Fathan penuh tekad, menggenggam kedua tangan Chafia yang terasa dingin.

Chafia menggelengkan kepalanya pelan, air matanya kembali tumpah membasahi punggung tangan suaminya. "Bukannya aku takut susah, Kang... Tapi bapak tadi siang sempat ngancam bakal nuntut jalur hukum penggelapan aset masa lalu keluarga akang ke paman-paman di Jakarta kalau kita nekat kabur," ucap Chafia lirih dengan logat Palembang yang gemetar ketakutan. (Bukannya aku takut susah, Kang... Tapi bapak tadi siang sempat ngancam bakal nuntut jalur hukum...)

Mendengar kata-kata itu, Fathan tertegun sejenak. Rahangnya mengeras dengan hebat. Ayah Chafia benar-benar menggunakan segala cara yang kotor dan kejam untuk memisahkan mereka, memanfaatkan dokumen-dokumen masa lalu keluarga Fathan sebagai senjata pemusnah masal demi mempertahankan ego suku dan dendam antarkeluarga.

"Dia tega banget ngelakuin itu ke kita, Fia? Padahal kita berdua sama sekali nggak tahu apa-apa soal perseteruan bisnis mereka belasan tahun lalu," ucap Fathan getir, suaranya tertahan oleh rasa marah dan putus asa yang bergemuruh di dalam dadanya.

"Bapak udah buta karena dendam lama, Kang. Bagi bapak, kehormatan keluarga dan sejarah permusuhan jauh lebih penting daripada kebahagiaan anak kandungnya sendiri," jawab Chafia parau, menyandarkan kepalanya di bahu Fathan mencari perlindungan.

Titik jepit pertama ini menjepit mereka dalam dilema moral yang sangat kejam: jika mereka tetap nekat bersatu melalui pelarian, keluarga besar Chafia akan menghancurkan hidup keluarga Fathan lewat jalur hukum; namun jika mereka menyerah dan patuh pada titah keluarga, cinta bersih yang mereka bangun akan mati perlahan di dalam sangkar emas kemunafikan.

"Maafin akang, Fia. Gara-gara nama keluarga akang, kamu jadi harus nanggung penderitaan seberat ini," ucap Fathan penuh penyesalan mendalam, merangkul bahu istrinya semakin erat.

"Jangan ngomong gitu, Kang. Kita udah janji bakal sehidup semati kan? Apapun keadaannya, aku udah milih abang jadi pelabuhan terakhir hidup aku," balas Chafia teguh, menatap mata suaminya dengan sisa-sisa keberanian yang ada di dalam dadanya.

❖ ❖ ❖

Angin malam berhembus semakin dingin, menggoyangkan dedaunan pohon mangga di atas kepala mereka. Pertemuan rahasia di taman belakang itu tidak boleh berlangsung terlalu lama sebelum para pengawal malam ayah Chafia melakukan patroli rutin. Di tengah keheningan yang mencekam, mereka berdua merenungkan betapa tidak adilnya keadaan yang sedang mempermainkan garis takdir hidup mereka.

"Kang, coba bayangin... kalau aja waktu itu kita nggak pernah ketemu di kedai kopi waktu akang baru pindah ke Palembang, mungkin hidup aku bakal biasa-biasa aja tanpa air mata kayak gini," ucap Chafia pelan, suaranya terdengar begitu lelah. (Kang, coba bayangin... kalau aja waktu itu kita nggak pernah ketemu...)

Fathan menoleh cepat, menatap tajam ke dalam mata Chafia. "Jangan pernah ngomong gitu, Fia. Pertemuan kita bukan sebuah kesalahan. Sekalipun waktu bisa diputar kembali ke belakang, akang bakal tetap milih buat datang ke Palembang dan jatuh cinta sama kamu," tegas Fathan tanpa ragu sedikit pun.

Chafia tersenyum tipis mendengar jawaban suaminya, meskipun senyuman itu terasa begitu pahit di tengah situasi yang menghimpit. Ia tahu betul betapa tulusnya cinta Fathan kepada dirinya—cinta yang tidak tercemar oleh ambisi harta, tidak ternoda oleh dendam keluarga, dan berdiri di atas fondasi kesederhanaan yang murni.

Lihat selengkapnya