Sore hari di sebuah taman kota yang rindang di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, menawarkan kesejukan buatan di tengah kepungan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Angin berhembus pelan, menerbangkan helai daun-daun kering di atas jalur pejalan kaki yang bersih. Di salah satu bangku kayu panjang yang menghadap ke arah kolam buatan, Fathan duduk seorang diri sambil merapikan map dokumen di pangkuannya. Wajahnya tampak lelah, namun seulas senyum tipis menghiasi bibirnya ketika ia melihat bayangan sosok perempuan yang sangat ia rindukan berjalan mendekat dari kejauhan.
Chafia datang dengan langkah yang terasa berat. Tidak ada lagi binar ceria di matanya; yang terlihat hanyalah wajah pucat pasi, lingkaran hitam samar di bawah kelopak matanya, dan bahu yang merosot seolah memikul beban dunia yang teramat berat. Selama beberapa minggu terakhir, sejak insiden malam di depan gerbang rumah Menteng di mana ayahnya mengamuk hebat, kehidupan Chafia berubah menjadi mimpi buruk yang panjang. Tekanan psikologis dari keluarganya semakin menjadi-jadi, terutama setelah kondisi kesehatan sang ibu mendadak drop akibat stres memikirkan perseteruan masa lalu yang kembali mencuat ke permukaan.
"Sore, Chia. Tumben agak telat, macet ya di jalan?" sapa Fathan lembut begitu Chafia tiba di hadapannya, langsung berdiri menyambut dengan tangan terbuka untuk memberikan pelukan hangat.
Namun, Chafia tidak menyambut pelukan itu. Ia berdiri kaku di tempatnya, menatap Fathan dengan pandangan nanar penuh air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Tangannya meraba tas jinjingnya dengan gemetar, seolah ragu-ragu mengeluarkan sesuatu yang akan menghancurkan hidup mereka berdua dalam hitungan detik.
Fathan mengerjap bingung, menurunkan tangannya perlahan. "Chia? Ada apa? Muka kamu pucat banget. Ibu kamu di rumah nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Fathan cemas, merasakan debaran jantungnya mulai berpacu cepat menangkap firasat buruk.
Chafia menggeleng lemah, bibirnya bergetar hebat sebelum akhirnya isak tangis tertahan lolos dari tenggorokannya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan suara tangisnya agar tidak pecah di tengah taman yang mulai ramai oleh lalu-lalang pejalan kaki sore hari.
"Fan... maapin aku ya, Fan," ucap Chafia lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin sore. "Aku ora sanggup maneh nerusin kabeh iki. Tekanane bener-bener wis ing njaba wates kemampuan aku."
Fathan tertegun, keningnya mengernyit tidak paham. "Maksud kamu apa, Chia? Jangan ngomong setengah-setengah begini. Ada apa di rumah?"
❖ ❖ ❖
Chafia menunduk, menyeka air mata yang telanjur tumpah membasahi pipinya dengan punggung tangan yang gemetar hebat. Ia tahu apa yang akan ia lakukan hari ini adalah keputusan paling kejam dan menyakitkan, bukan hanya bagi Fathan, tetapi juga bagi hatinya sendiri yang hancur berkeping-keping. Namun, di sisi lain, ia tidak punya pilihan tersisa ketika melihat ibunya terbaring lemah di kamar rumah sakit akibat tekanan darah tinggi yang dipicu oleh konflik keluarga tersebut.
"Kesehatan Ibu drop drastis semalem, Fan," cerita Chafia dengan suara parau menahan sesak di dadanya. "Dokter bilang tekanan darah Ibu naik drastis gara-gara pikiran berat soal masa lalu dan ancaman Ayah yang mau ngusir aku kalau nekat tetep berhubungan sama kamu. Ibu meluk aku sambil nangis-nangis semalem, mohon supaya aku nurutin kemauan keluarga."
Fathan merosot pelan ke kursi taman, kata-kata Chafia menghantam dadanya bagaikan palu godam raksasa. Rasanya baru kemarin mereka berjanji di kafe Senopati untuk saling menguatkan dan melewati badai bersama-sama, namun kini tembok tebal takdir dan rasa bakti keluarga merubuhkan segalanya tanpa ampun.
"Tapi kan kita bisa cari cara lain, Chia! Kita bisa ngobrol baik-baik lagi sama Ayah kamu, atau kita kasih waktu buat keluarga kamu tenang," sanggah Fathan penuh keputusasaan, mencoba mencari secercah harapan di tengah kegelapan.
"Ora ana cara liyane, Fan! Kabeh wis buntu!" seru Chafia putus asa, air matanya semakin deras mengalir. "Ayah kuwi wong keras. Salawasna dendam masa lalu kuwi bakal dadi racun sing ngrusak kulawarga aku lan kulawarga kowe. Lan aku... aku ora duwe wani kanggo nolak panjaluk ibu sing lagi lara."
Fathan terdiam seribu bahasa. Ia menatap perempuan di hadapannya, melihat betapa hancurnya jiwa Chafia di bawah tekanan ganda antara cinta dan rasa bersalah kepada orang tuanya. Sebagai seorang lelaki yang sangat mencintai Chafia, Fathan dihadapkan pada dilema paling menyakitkan: memaksakan kehendak demi ego cinta mereka atau merelakan kekasihnya pergi demi menyelamatkan kesehatan ibu gadis itu.
"Jadi... ini keputusan akhir kamu, Chia?" tanya Fathan dengan suara nyaris tak terdengar, dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen.
Chafia menatap Fathan lekat-lekat, sorot matanya menyiratkan kepedihan yang teramat sangat. "Maafno aku, Fan. Aku nyerah karo kahanan iki. Rasa salah aku menyang Ibu sing lagi lara luwih abot tinimbang kabungahan sing pengen aku bangun karo kowe."