Langit kota Palembang sore itu tampak kelabu, menggantung rendah di atas permukaan Sungai Musi yang arusnya mengalir tenang namun menyimpan kekuatan tersembunyi. Di sebuah beranda rumah kayu tradisional bergaya limas yang asri di kawasan Seberang Ulu, Fathan duduk terpaku di atas kursi rotan tua. Udara lembap khas sore hari sehabis hujan membawa aroma tanah basah dan sisa wangi melati dari halaman samping. Di hadapannya, secangkir kopi hitam khas Palembang yang mengepulkan uap tipis dibiarkan mendingin begitu saja tanpa pernah disentuh sejak ia duduk setengah jam yang lalu.
Fathan mengenakan kemeja katun polos berwarna putih gading yang lengannya dilipat sampai siku. Wajahnya menyiratkan kelelahan batin yang teramat dalam, garis-garis ketegangan tampak jelas di sekitar rahangnya yang mengeras. Ia tidak sedang memikirkan pekerjaannya sebagai konsultan tata kota, tidak pula memikirkan urusan korporat di Jakarta yang biasanya menyita separuh isi kepalanya. Pikirannya saat ini terkunci rapat pada satu nama: Chafia.
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden menegangkan di meja makan malam itu, di mana benturan ego kedua orang tua hampir meruntuhkan rencana pernikahan mereka. Meskipun orang tua mereka pada akhirnya telah saling meminta maaf dan meredam amarah, badai yang sesungguhnya ternyata bukan bersumber dari pertengkaran para orang tua di masa kini, melainkan dari sisa-sisa masa lalu yang menghantam benteng kehidupan keluarga Chafia secara telak.
"Nah, Fath, diminum dulu kopinyo, keburu dingin nanti," suara lembut Chafia memecah keheningan sore.
Chafia melangkah keluar dari dalam rumah membawa sepiring kecil kue kamboja tradisional, lalu duduk di kursi sebelah Fathan. Mengenakan tunik panjang berwarna hijau lumut berbalut kerudung senada, Chafia mencoba memasang senyuman menenangkan di bibirnya. Namun, mata indahnya tidak bisa menyembunyikan gulana dan kepedihan yang sedang ia pikul di pundaknya yang rapuh.
Fathan menoleh sekilas, menatap wajah perempuan yang sangat dicintainya itu. Tidak ada setitik pun rasa marah, kesal, atau kekecewaan yang muncul di dalam dada Fathan terhadap Chafia. Sepanjang perjalanan hidupnya yang penuh liku percintaan, Fathan telah terbiasa merasakan berbagai macam emosi negatif ketika menghadapi kegagalan hubungan.
Ketika hubungannya dengan Nisa di masa lalu harus kandas di stasiun kereta akibat restu keluarga yang kaku, Fathan sempat marah besar pada jarak dan perbedaan status sosial yang memisahkan mereka. Ketika hubungannya dengan Varisha di ruang korporat harus terhenti di bandara internasional akibat ambisi karier global, Fathan merasa sangat kecewa pada waktu yang tidak pernah berpihak pada komitmen mereka.
Namun kini, di hadapan Chafia, Fathan sama sekali tidak bisa merasakan kemarahan atau kekecewaan semacam itu. Ia tidak marah pada jarak, karena jarak Jakarta dan Palembang dapat ditempuh dengan mudah. Ia tidak kecewa pada waktu, karena waktu pertemuan mereka terasa sangat tepat.
Pada Chafia, Fathan hanya bisa terdiam bisu di hadapan keadaan—sebuah dinding tak kasat mata yang terbuat dari dosa dan kesalahan orang lain di masa lalu, yang kini harus dibayar mahal oleh kebahagiaan mereka berdua di masa kini.
"Fia..." panggil Fathan dengan suara parau, menatap lurus ke dalam bola mata Chafia. "Sampai kapan kita harus terjebak di tengah situasi pelik ini? Orang tua kita sudah sepakat untuk berdamai, tapi kenapa rasanya dinding pembatas di antara kita malah semakin tinggi?"
Chafia menundukkan kepalanya, jemarinya meremas ujung tunik hijaunya dengan kuat. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya yang lelah. "Fath... bukan kemauan aku keadaannya jadi serumit ini," bisik Chafia lirih, suaranya bergetar menahan beban emosional yang teramat berat.
❖ ❖ ❖
Situasi pelik yang dimaksud Chafia bukanlah pertengkaran biasa antarkeluarga, melainkan sebuah kenyataan pahit mengenai masa lalu keluarga besar mereka yang baru saja tersingkap lebar setelah insiden meja makan malam itu. Ternyata, akar permasalahan yang membuat ayah Chafia begitu emosional dan bersikap defensif bukanlah sekadar masalah adat istiadat hantaran pernikahan, melainkan sebuah masa lalu kelam yang melibatkan masa muda ayah Fathan dan paman Chafia puluhan tahun silam di ibu kota.
Sebuah kesalahan fatal, sebuah pengkhianatan kepercayaan dalam bisnis keluarga di masa lalu yang dilakukan oleh generasi terdahulu, kini diwariskan menjadi beban moral yang harus dipikul oleh pundak Fathan dan Chafia tanpa mereka tahu menahu duduk perkaranya. Mereka berdua hanyalah korban tak berdosa dari sisa puing dosa orang tua yang menuntut penebusan di altar pernikahan mereka.
"Abah tadi sore ngomong panjang lebar sama aku, Fath," lanjut Chafia dengan suara parau, mengangkat wajahnya menatap Fathan penuh kepedihan. "Beliau bilang, luka lama antara keluarga besar kita di masa lalu itu terlalu dalam buat dilupain begitu baé dalam hitungan hari. Ada rahasia besar soal kegagalan bisnis keluarga kita dulu yang disembunyiin rapat-rapat."
Fathan mendengarkan dengan napas tertahan. Dadanya terasa sesak bukan karena marah, melainkan karena rasa tidak berdaya yang begitu pekat. Selama ini, Fathan selalu percaya bahwa dengan kerja keras, ketulusan niat, dan kedewasaan pikiran, segala rintangan cinta bisa diselesaikan dengan elegan. Namun, berhadapan dengan dosa masa lalu orang lain bagaikan meninju angin kosong; tidak ada wujud musuhnya, tidak ada logika yang bisa diajak bernegosiasi, dan tidak ada solusi instan yang bisa dikalkulasi dengan rumus bisnis korporat.
"Fath... jujur, aku takut," aku Chafia sambil membiarkan air matanya tewas menetes ke atas pangkuannya. "Aku takut kalau dosa orang tua kita di masa lalu bener-bener jadi kutukan tak kasat mata yang nggagalin pernikahan kita. Rasanya mustahil nyatuin dua keluarga yang punya sejarah permusuhan sedalam itu."
Fathan mengulurkan tangan kanannya, menggenggam jemari Chafia yang terasa dingin. Sentuhan itu hangat, namun tidak mampu meredakan gemetar di tubuh perempuan tersebut. Fathan menarik napas panjang, mencoba menepis rasa sesak di dadanya untuk bisa berbicara dengan tenang di hadapan calon istrinya.
"Fia, dengar suara aku," ucap Fathan tegas namun sangat lembut. "Dosa orang tua bukanlah dosa anak-anaknya. Kita hidup di masa sekarang, bukan di masa lalu mereka. Kalau kita ikut menanggung beban kesalahan yang tidak pernah kita perbuat, sampai kapan pun hidup kita bakal dikendalikan oleh bayang-bayang orang lain."
"Tapi Fath... omongan orang tua dak segampang itu dilupain," sanggah Chafia getir, menarik sedikit tangannya dari genggaman Fathan. "Abah masih nyimpen rasa sakit hati masa lalu, dan keluarga besar kamu di Jakarta juga masih ngerasa punya gengsi tinggi. Aku capek... aku capek jadi pihak yang harus terus-terusan ngalah dan nahan sakit."
Mendengar keputusasaan dalam suara Chafia, Fathan merasa hatinya seperti diiris sembilan belas belati tajam. Ia sangat memahami posisi Chafia. Sebagai anak perempuan yang dibesarkan dalam keluarga tradisional Palembang yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga, Chafia berada di garis depan benturan budaya dan dendam masa lalu yang sama sekali tidak dipahaminya secara utuh.
❖ ❖ ❖
Suasana di beranda rumah kayu itu semakin senyap seiring matahari sore yang perlahan tenggelam di balik deretan atap rumah warga, menyisakan warna merah keunguan di langit barat kota Palembang. Di kejauhan, suara azan magrib mulai berkumandang sahut-menyahut dari masjid-masjid di tepi Sungai Musi, mengudara membawa ketenangan spiritual di tengah kemelut batin yang melanda dua manusia muda tersebut.
Chafia berdiri perlahan dari kursi rotannya, menyeka sisa air mata di pipinya, lalu menatap Fathan dengan pandangan penuh dilema. "Waktunya salat magrib, Fath. Masuk yuk, ambil wudu dulu di dalam," ajak Chafia dengan suara lirih, berusaha mengalihkan ketegangan emosional yang sempat memuncak.