Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Berdiri di Bawah Hujan

Suara debuman pintu pagar besi bercat hitam legam di hadapan Fathan terdengar begitu nyaring, memantul di dinding-dinding rumah mewah bergaya klasik modern di kawasan perumahan elit utara Bandung itu. Daun pagar tertutup rapat dengan kasar, mengunci seluruh jalan masuk dan memisahkan Fathan secara mutlak dari dunia di balik dinding tinggi tersebut. Di atas trotoar beton yang basah oleh sisa gerimis sore tadi, Fathan berdiri mematung seorang diri. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan menahan gelombang emosi yang berkecamuk hebat di dalam rongga dada.

Barusan saja, untuk kesekian kalinya, ia nekat mendatangi kediaman keluarga Chafia demi mencari secercah harapan terakhir sebelum keluarga itu benar-benar pindah ke luar pulau. Namun, bukan sambutan hangat atau obrolan santai berbalut tawa yang ia temui, melainkan bentakan keras dari Ayah Chafia dan isak tangis tertahan dari balik tirai jendela kamar lantai dua yang memperlihatkan bayangan siluet perempuan yang paling ia cintai.

"Sudah saya bilang berkali-kali, anak muda! Darah keluargamu itu pembawa sial buat keluarga kami! Jangan pernah berani menampakkan muka di sini lagi!" bentak Ayah Chafia dengan nada suara penuh kebencian yang mendalam sebelum akhirnya lelaki paruh baya itu membanting pintu rumah tepat di muka Fathan.

Kata-kata itu menghujam ulu hati Fathan tanpa ampun. Ia menggempalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, menciptakan rasa nyeri fisik yang kalah telak dibandingkan rasa sakit di dalam batinnya. Ini adalah puncak dari segala keputusasaan. Dua kegagalan besar di masa lalu—kehilangan Varisha karena jarak benua, dan kini kehilangan Chafia karena rantai dendam sejarah darah antargenerasi—berputar kencang di dalam kepalanya bagaikan film bisu yang memuakkan.

Tiba-tiba, langit malam yang tadinya tampak muram mendadak bergemuruh hebat. Kilatan petir menyambar di atas langit kota Bandung, disusul oleh deru angin kencang yang membawa butiran-butiran air hujan. Tanpa aba-aba, langit menumpahkan hujan deras secara membabi buta, mengguyur jalanan aspal dan membasahi sekujur tubuh Fathan dalam hitungan detik.

Fathan tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia tidak mencari tempat berteduh di bawah teras rumah atau warung terdekat. Ia membiarkan air hujan yang dingin menusuk tulang membasahi kemeja batik formal yang melekat di tubuhnya, meresap hingga ke kulit, menyatu dengan air mata hangat yang mengalir deras di pipinya.

"Kenapa takdir selalu mempermainkan hidupku seperti ini?!" teriak Fathan kencang, suaranya tenggelam di antara deru air hujan yang turun semakin lebat dan suara gemuruh petir yang memekakkan telinga.

Ia berdiri tegak di bawah gontainya air langit, membiarkan tubuhnya kuyup, merasakan sebuah kepedihan yang jauh lebih dalam, jauh lebih gelap, dan jauh lebih menyayat daripada dua kegagalan sebelumnya. Varisha pergi membawa masa depan akademik, namun Chafia pergi membawa seluruh sisa kewarasannya.

❖ ❖ ❖

Butiran air hujan terus menghujam deras tanpa ampun, membentuk genangan-genangan air di sekitar sepatu pantofel Fathan yang telah basah kuyup. Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi kini lepek menempel di dahinya, sementara air hujan bercampur peluh dan air mata mengalir bebas melewati garis rahangnya. Di balik tirai jendela kaca rumah keluarga Chafia yang tertutup rapat, siluet bayangan perempuan itu sempat terlihat bergerak resah, seolah ingin berlari membukakan pintu dan merengkuh Fathan dari badai di luar sana. Namun, siluet itu perlahan mundur, tertutup oleh kain gorden tebal yang ditarik rapat oleh seseorang dari dalam.

"Chafia... maafkan aku yang tidak berdaya melawan masa lalu ini," gumam Fathan lirih, suaranya nyaris tak terdengar di tengah bisingnya suara air hujan yang menghantam atap dan jalanan.

Titik jepit pertama ini menjerat kesadaran Fathan pada sebuah ironi yang teramat kejam. Di kota ini, di bawah langit Bandung yang sama, ia pernah merasakan puncak kebahagiaan ketika duduk bersama Chafia di kafe perpustakaan, tertawa lepas mendengar logat khas Palembang yang dicampur candaan ringan. Namun kini, tempat yang sama berubah menjadi kuburan bagi mimpi-mimpinya.

"Fathan, buat apa kamu berdiri disitu kayak orang bodoh? Hujan deras begini bukannya teduh malah nantangin langit!" teriak suara seorang pengemudi ojek online yang kebetulan lewat dan berteduh di bawah pos satpam perumahan, menatap Fathan dengan pandangan heran bercampur iba.

Fathan menoleh sedikit, melirik sekilas ke arah pos satpam tanpa berniat merespons atau melangkah pergi. Pikirannya sudah lumpuh oleh rasa sakit. Ia merasa dirinya adalah pesakitan yang sedang menjalani hukuman seumur hidup atas kejahatan yang tidak pernah ia perbuat di masa lalu.

"Dak katek gunonyo lagi aku berjuang... kmu emang kalah telak, Fathan," bisik Fathan pada dirinya sendiri, menggunakan potongan logat Palembang yang dulu sering diucapkannya bersama Chafia sebagai bentuk ejekan getir pada nasib sialnya sendiri.

Rasanya begitu sesak. Kegagalan pertama dengan Varisha mengajarkannya tentang kerelaan melepaskan orang tercinta demi masa depan mereka di benua berbeda. Namun kegagalan kedua ini jauh lebih merusak jiwa karena merenggut Chafia bukan karena keadaan alam atau pilihan logis, melainkan karena bara api dendam masa lalu keluarga yang membara tanpa ujung. Fathan merasa terjebak di dalam labirin waktu yang tidak memiliki pintu keluar. Hujan deras yang mengguyur tubuhnya seolah membersihkan sisa-sisa harga dirinya yang tersisa di atas trotoar dingin malam itu.

❖ ❖ ❖

Waktu berjalan lambat di tengah badai hujan yang belum juga mereda. Fathan masih berdiri tegak di tempat yang sama, membiarkan dinginnya air hujan melumpuhkan kepekaan fisik di sekujur tubuhnya. Kulitnya mulai pucat dan menggigil hebat, namun rasa sakit di dalam dadanya jauh lebih membakar daripada suhu dingin di luar sana.

Ponsel di dalam saku celana bahannya bergetar hebat. Fathan merogoh sakunya dengan jari yang kaku akibat kedinginan, lalu mengeluarkan benda persegi panjang itu. Layar ponsel yang basah menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenal: Chafia.

Lihat selengkapnya