Malam semakin larut dan menenggelamkan kota Palembang dalam keheningan yang pekat. Di dalam kabin sedan hitamnya yang terparkir di sebuah sudut sepi dekat tepian Sungai Musi, Fathan duduk termangu tanpa menyalakan mesin ataupun lampu kendaraan. Suhu AC mobil yang dibiarkan menyala membuat udara di dalam ruangan terasa dingin menusuk tulang, menyatu dengan kebekuan yang merayap di dalam rongga dadanya. Di luar sana, gerimis tipis turun membasahi kaca depan mobil, meninggalkan jejak air yang perlahan mengalir ke bawah bagaikan air mata yang tak kunjung berhenti. Tangan kanannya tergeletak lemas di atas lingkar kemudi, sementara tatapannya kosong menerawang menembus dashboard yang gelap gulita.
Perpisahan menyakitkan dengan Chafia di kafe pinggir sungai kemarin malam masih berputar jelas di kepalanya bagaikan rekaman film rusak yang diputar berulang-ulang tanpa belas kasihan. Setiap kepingan memori tentang senyuman manis perempuan itu, kehangatan keluarganya, hingga janji-janji sederhana di taman belakang rumah mendadak berubah menjadi duri tajam yang menghujam ulu hatinya. Fathan merasa seluruh hidupnya selama ini hanyalah sebuah lelucon kosmik yang kejam—sebuah lingkaran setan tanpa ujung di mana ia selalu diberi secercah harapan palsu tentang kebahagiaan yang utuh, hanya untuk kemudian dihancurkan kembali oleh hal-hal yang sepenuhnya berada di luar kendalinya.
"Kenapa harus selalu begini, Gusti?" bisik Fathan parau, suaranya hampir tak terdengar di tengah kesunyian kabin mobil.
Ia teringat kembali pada setiap babak perjalanan hidupnya yang berdarah-darah: mulai dari kehancuran hubungannya dengan Nisa di Jakarta akibat jarak dan ego, perpisahan pahit dengan Varisha di Bandung karena benturan ambisi karier, hingga kandasnya impian bersama Chafia di Palembang yang terhalang tembok tebal restu keluarga akibat masa lalunya. Semua perjuangannya untuk memperbaiki diri, meruntuhkan ego, dan belajar mencintai dengan tulus seolah menjadi sia-sia belaka. Semesta seolah mengirimkan pesan yang sangat telak kepadanya: bahwa kebahagiaan sejati bukanlah takdir yang diizinkan untuk dimiliki oleh seorang pria yang memiliki catatan masa lalu kelam.
"Fan, jangan galak nyiksa diri dewek cak itu," gumam Fathan meniru suara hati kecilnya sendiri dengan nada getir. Ia menutup matanya rapat-rapat, membiarkan rasa sesak dan kepedihan melebur menjadi satu di dalam dadanya yang kini terasa kosong melompang, tanpa sisa tenaga untuk melawan takdir.
❖ ❖ ❖
Keheningan malam di dalam mobil itu terasa semakin mencekam, ditekan oleh kesunyian mutlak yang menyelimuti seluruh sudut kota Palembang. Fathan merenungkan kembali bagaimana ia telah mengerahkan seluruh sisa-sisa kewarasan emosionalnya untuk bertahan hidup dari satu kota ke kota lain. Ia merantau dari Jakarta, singgah di Bandung, lalu terdampar di Palembang dengan keyakinan penuh bahwa setiap tempat baru akan membawa lembaran hidup yang lebih baik. Namun kenyataannya, ia hanyalah seorang pengelana malang yang terus-menerus berlari mengejar bayang-bayang semu.
Setiap kali ia membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk menyambut cinta yang baru, semesta selalu menemukan cara paling kejam untuk menutup pintu itu di hadapannya. Di Jakarta ia dikhianati oleh jarak; di Bandung ia diuji oleh kesuksesan yang memicu ketakutan purba; dan di Palembang ia dipukul mundur oleh restu orang tua yang terkunci rapat oleh noda masa lalunya sendiri. Kesadaran itu menghantam kepalanya dengan berat, membuat Fathan merasa bahwa dirinya dikutuk untuk tidak pernah benar-benar memiliki tempat berlabuh yang tetap.
"Bener-bener lingkaran setan yang nggak ada jalan keluarnya," ucap Fathan lirih, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis penuh keputusasaan.
Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan ponsel pintar yang layarnya sudah mati akibat kehabisan daya sejak beberapa jam lalu. Di dalam benda persegi itu tersimpan ribuan kenangan, pesan-pesan hangat, dan foto-foto kebersamaan yang kini tidak lagi memiliki arti apa-apa selain tumpukan memori menyakitkan. Fathan melempar ponsel mati itu begitu saja ke atas kursi penumpang sebelah, seolah ingin memutus seluruh sisa koneksi dirinya dengan dunia luar yang terus menerus menghakiminya.
"Dak usah pusing mikirin wong lain lagi, Fan. Urus bae diri kau dewek sampai tuntas," batin Fathan berbicara dalam bahasa Palembang campur aduk yang belakangan sering ia gunakan sendiri saat merenung.
❖ ❖ ❖
Udara dingin di dalam kabin mobil semakin menusuk pori-pori, namun Fathan sedikit pun tidak tergerak untuk menaikkan suhu AC atau sekadar menyalakan pemanas. Tubuhnya terasa kaku, sejalan dengan jiwanya yang perlahan-lahan mulai mati rasa. Ia menatap bayangan wajahnya sendiri yang terpantul buram pada kaca spion tengah mobil. Di bawah temaram lampu jalan yang menembus jendela, ia melihat sosok pria paruh baya dengan mata sayu, lingkaran hitam pekat di bawah kelopak mata, dan garis-garis kelelahan yang terukir jelas di wajahnya. Pria muda yang dulu penuh ambisi, bersemangat menaklukkan ibu kota, dan percaya bahwa kerja keras bisa membeli segalanya kini telah hancur berkeping-keping tanpa sisa.