Lampu neon putih terang benderang memantul tajam di atas permukaan meja kerja logam di sebuah lantai sepuluh gedung arsitektur kawasan Gubeng, Surabaya. Pukul dua pagi, ketika sebagian besar penduduk kota ini terlelap dalam mimpi damai mereka, Fathan masih duduk terpaku di depan layar monitor komputernya yang menyala terang. Jari-jarinya bergerak cepat menari di atas papan ketik, memasukkan baris demi baris koordinat struktur beton bertulang dengan tingkat presisi nyaris sempurna. Tidak ada musik instrumen yang menenangkan, tidak ada secangkir kopi hangat yang mengepul, dan tidak ada lagi sapaan lembut seorang perempuan di sampingnya. Yang terdengar di dalam ruangan sempit ber-AC sentral itu hanyalah deru kipas pendingin komputer yang berdengung konstan, menyerupai denyut nadi buatan dari mesin yang tidak memiliki jiwa.
Fathan menjalani hari-harinya pasca kehancuran total hubungannya dengan Chafia bagaikan sebuah mesin industri tanpa perasaan. Sejak kepulangannya dari Palembang membawa puing-puing sisa harga diri dan kebohongan masa lalu yang terungkap, Fathan menarik diri sepenuhnya dari dunia sosial. Ia menolak segala undangan pertemuan keluarga, mengabaikan pesan-pesan dari rekan kerja lamanya di Bandung, dan membenamkan seluruh sisa tenaga serta pikirannya ke dalam proyek-proyek konstruksi komersial skala besar di Jawa Timur. Baginya, bekerja tanpa henti hingga larut malam adalah satu-satunya cara efektif untuk mematikan fungsi saraf emosional di dalam dadanya. Ia tidak lagi mengenal rasa lelah, tidak lagi peduli pada akhir pekan, dan menganggap konsep cinta sebagai ilusi paling kejam yang sengaja diciptakan semesta untuk mempermainkan kewarasan manusia.
Pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali dengan ragu-ragu sebelum dibuka perlahan oleh Cak Jono, petugas kebersihan malam gedung tersebut yang sudah sangat akrab dengan kebiasaan gila Fathan.
"Lho, Pak Fathan... Isih durung mulih ta? Rek, jam piro iki, awakmu iku kerjo kok koyok gak duwe kesel," tegur Cak Jono dengan logat Suroboyoan yang kental, meletakkan segelas teh tawar hangat di sudut meja kerja Fathan. (Lho, Pak Fathan... Masih belum pulang ya? Rek, jam berapa ini, kamu itu kerja kok kayak gak punya capek.)
Fathan menghentikan ketikannya sejenak, menoleh ke arah Cak Jono dengan tatapan mata kosong yang sayu, dikelilingi lingkaran hitam pekat akibat berminggu-minggu kurang tidur. "Belum, Cak. Aku jek onok revisi draf struktur beton seng kudu dirampungno saiki, besok pagi harus diserahin ke kontraktor utama," jawab Fathan dengan suara serak berat tanpa ekspresi. (Aku masih ada revisi draf struktur beton yang harus diselesaikannya sekarang.)
Cak Jono menggelengkan kepalanya prihatin melihat kondisi fisik Fathan yang semakin hari semakin kurus kering. "Haduw, mbok yo leren sek, Pak. Ojok diporsir nemen-nemen urip iku. Nanti kalau kamu sakit, sing rugi sopo? Uang banyak kalau badan ambruk kan percuma," nasihat Cak Jono tulus sambil menepuk pelan bahu Fathan. (Haduh, mbok ya istirahat dulu, Pak. Jangan diporsir keterlaluan hidup itu. Yang rugi siapa?)
"Terima kasih tehnya, Cak. Ojok kuatir, aku isih kuat kok," balas Fathan datar, lalu kembali mengalihkan pandangannya menatap layar monitor komputer yang menyilaukan mata. (Jangan khawatir, aku masih kuat kok.)
Cak Jono menghela napas pasrah, lalu beranjak meninggalkan ruangan kerja Fathan sambil menggelengkan kepala pelan. Di dalam kesunyian malam Surabaya itu, Fathan kembali tenggelam dalam kesendiriannya. Refleksi waktu melintas tajam di dalam benaknya; ia merasa usianya berlari terlalu cepat meninggalkan sisa-sisa kewarasannya. Pria yang dulunya memiliki impian hangat tentang masa depan kini telah berubah menjadi kerangka biologis yang digerakkan oleh rutinitas mekanis tanpa tujuan hidup yang hakiki.
❖ ❖ ❖
Pagi hari di Surabaya datang bersama terik matahari pesisir yang menyengat panas, memantul di atas aspal jalanan protokol Basuki Rahmat yang dipadati kendaraan bermotor. Fathan keluar dari gedung kantornya pukul delapan pagi, mengenakan kemeja abu-abu kusut yang sama selama dua hari berturut-turut tanpa sempat pulang berganti pakaian ke apartemen sewanya di kawasan Darmo. Matanya terasa berat, kepalanya berdenyut nyeri akibat kurang istirahat kronis, namun langkah kakinya tetap dipaksa berjalan menuju sebuah lokasi proyek konstruksi mal bertingkat di pusat kota.
Setibanya di gerbang proyek, mandor lapangan langsung menyambutnya dengan wajah cemas. "Pak Fathan, untung panjenengan teko. Iki ono masalah serius ing pengecoran pilar utama lantai telu, wesi tulangan e ketoke kurang pas karo spesifikasi draf," lapor sang mandor dengan napas terengah-engah. (Untung bapak datang. Ini ada masalah serius di pengecoran pilar utama lantai tiga, besi tulangannya kayaknya kurang pas sama spesifikasi draf.)
Fathan tidak mengeluarkan sepatah kata kemarahan pun. Ia hanya mengangguk dingin, mengenakan helm keselamatan putihnya, lalu berjalan menaiki tangga darurat menuju lantai tiga bangunan yang sedang dikerjakan. Di atas sana, di tengah debu semen dan deru mesin derek berat, Fathan memeriksa setiap detail sambungan besi dengan tatapan kosong namun teliti secara profesional. Tidak ada emosi, tidak ada nada tinggi; ia menyelesaikan instruksi perbaikan teknis dalam waktu singkat, lalu berbalik hendak meninggalkan lokasi proyek.
Namun, di tengah perjalanan turun menuju kantor lapangan, langkah Fathan tiba-tiba terhenti di dekat tumpukan material beton. Pusing hebat mendadak menyerang kepalanya secara drastis, dunianya berputar kencang, dan pandangannya mendadak kabur oleh kegelapan pekat. Sebelum ia sempat berpegangan pada tiang penyangga, tubuh kurusnya ambruk terjerembab jatuh menghantam lantai semen kasar.
"Ya Allah! Pak Fathan pingsan! Ndang tulungono, gawanen nang rumah sakit saiki!" terdengar teriakan panik dari para pekerja proyek yang berlari menghampiri tubuhnya yang tak sadarkan diri. (Cepat tolongin, bawa ke rumah sakit sekarang!)
Titik jepit pertama ini menghantam Fathan secara fisik tanpa ampun. Tubuh yang dipaksa bekerja layaknya mesin tanpa jiwa akhirnya menyerah pada batas ambang biologisnya sendiri. Kesadaran Fathan perlahan tenggelam dalam kegelapan total, menyisakan ruang hampa di mana kenangan-kenangan masa lalu tentang Chafia dan Palembang berkelebat sekilas seperti potongan film bisu yang terputus-putus.
❖ ❖ ❖
Fathan terbangun dengan bau obat-obatan antiseptik yang menyengat hidungnya. Ia membuka matanya perlahan, mendapati dirinya sedang berbaring di atas ranjang pesakitan sebuah rumah sakit swasta di kawasan Darmo, Surabaya. Di tangan kanannya tertancap jarum infus yang mengalirkan cairan saline jernih perlahan-lahan ke pembuluh darahnya. Ruangan kamar rawat inap itu tampak sunyi, hanya ditemani oleh suara mesin monitor detak jantung yang berbunyi teratur di sisi ranjang.
Pintu kamar rawat terbuka perlahan, dan seorang dokter perempuan paruh baya berjas putih masuk menghampiri ranjangnya sambil membawa catatan rekam medis.
"Wah, panjenengan sampun sadar kumaha, Pak Fathan? Awakmu iki lapo seh kok sampe ambruk kateken kesel kronis ngene?" tegur dokter tersebut dengan campuran bahasa Jawa Surabaya yang tegas namun penuh perhatian. (Wah, Anda sudah sadar rupanya, Pak Fathan? Kamu ini kenapa kok sampai ambruk kecapean kronis gini?)
Fathan mencoba menggeser posisi duduknya, merasakan tenggorokannya yang terasa sangat kering. "Saya tidak apa-apa, Dok. Cuman kurang istirahat dikit," jawab Fathan lirih dengan suara serak. (Cuman kurang istirahat dikit.)