Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

Undangan yang Dipaksakan

Pagi hari di sebuah kawasan masjid raya yang megah di pusat kota Jakarta menawarkan suasana yang kontras dengan hiruk-pikuk pusat perbelanjaan atau gedung perkantoran elit SCBD. Halaman luas masjid dipenuhi oleh tenda-tenda putih bersih tempat berlangsungnya acara bazar amal dan bakti sosial akhir pekan. Di bawah salah satu payung tenda besar, para relawan tampak sibuk mengatur paket sembako dan perlengkapan kesehatan gratis untuk warga sekitar yang membutuhkan. Namun, di balik keramaian kegiatan sosial tersebut, Fathan berdiri seorang diri di dekat pilar utama serambi masjid dengan ekspresi wajah yang tampak dingin, kaku, dan menyimpan segudang keengganan.

Sudah beberapa minggu berlalu sejak perpisahan menyakitkan dengan Chafia di taman kota akibat tekanan keluarga dan hantu perniagaan masa lalu. Fathan memilih untuk menarik diri dari pergaulan sosial luar, menyibukkan diri sepenuhnya di balik layar komputer kantor agensinya hingga larut malam. Kondisi menyendiri dan tertutup itu rupanya memicu kekhawatiran mendalam bagi sang ibu di kampung halaman. Melalui sambungan telepon panjang malam sebelumnya, sang ibu mendesak Fathan agar keluar rumah, menghirup udara segar, dan mendekatkan diri pada kegiatan keagamaan demi memulihkan batinnya yang lelah.

"Kok lempeng bae rai mu ket mau, Fan? Kaya wong ilang ageman wae!" sebuah suara logat khas Surabaya yang ceplas-ceplos mendadak membuyarkan lamunan Fathan dari arah samping.

Fathan menoleh perlahan dan melihat Bagas, sahabat lamanya semasa kuliah di Surabaya yang kini bekerja sebagai arsitek di Jakarta, berdiri membawa dua botol air mineral dingin dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Bagas mengenakan kemeja koko putih dipadu celana kain hitam santai, tampak sangat menikmati suasana pagi di lingkungan masjid tersebut.

"Biasa aja, Gas. Nggak usah berlebihan nilai muka orang," jawab Fathan datar, menerima botol air mineral yang diulurkan Bagas tanpa tersenyum sedikit pun.

Bagas tertawa renyah, menepuk pelan bahu Fathan yang terasa kaku. "Ojok kaku ngunu to, Rek! Iki kan acara baksos sing apik gawe warasno sirahmu teka stres gawean kantor. Ibukmu telpon aku wingi, pesen jaluk tulung dikancani mlaku-mlaku rene, jare kowe sak iki kurus kering koyok wong kurang turu."

Fathan menghela napas panjang, merapikan letak jaket kasual berwarna gelap yang ia kenakan untuk menutupi rasa tidak nyamannya berada di tempat ramai tersebut. "Ibu ini ada-ada saja, ngapain juga lapor ke kamu segala. Aku kan udah bilang, aku baik-baik aja, nggak kurang suatu apa."

"Halah, cangkeme tok sing ngomong apik-apik wae, tapi rai matamu ketok banget yen isih ruwet merkara Chafia wingi, bener ta?" cecar Bagas tanpa filter, menatap tajam sahabatnya dengan nada bicara santai namun tepat sasaran.

Fathan memilih mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan warga yang sedang mengantre kupon sembako, memasang topeng kepura-puraan bahwa segalanya di dalam hatinya baik-baik saja, meskipun badai kenangan masa lalu masih bergemuruh hebat di balik dadanya.

❖ ❖ ❖

Topeng kepura-puraan yang dikenakan Fathan sejak pagi itu memang dirancang sangat rapi. Di hadapan orang lain, ia tampil sebagai lelaki profesional yang tenang, namun Bagas sebagai sahabat terdekatnya tahu persis bahwa ketenangan itu hanyalah sebuah benteng pertahanan palsu untuk menutupi kehancuran batin yang belum sepenuhnya pulih. Acara bakti sosial dan kajian akhir pekan ini bagaikan sebuah paksaan mutlak bagi Fathan yang lebih memilih mendekam di kamar kos sempitnya di Manggarai daripada harus bersosialisasi di tempat umum.

"Sumpah ya, Gas, kalau bukan karena paksaan Ibu di kampung, aku mending di kosan ngurusin desain klien ketimbang panas-panasan di sini ngeliat orang antre sembako," keluh Fathan jujur dengan suara berat bernada ketus.

Bagas menggeleng-gelengkan kepala sambil meneguk air mineralnya. "Heh, Fathan! Tobat o, Rek! Mestine kowe bersyukur diundang ning acara mulia koyok ngene iki. Iki jenenge cara Gusti Allah mbok kon adus rohani sakdurunge sirahmu njeblug merkara cinta and dunya kerjo sing ora mari-mari."

"Adus rohani apa anjir, orang aku ke sini cuma jadi patung hiasan doang nemenin kamu," balas Fathan sinis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan tetap dingin.

"Makane, ojok dadi wong sing gampang kuwalat. Delok'en wong-wong nang kono, seneng nampa bantuan tanpa mikir urusan remeh temeh utawa dendam keluarga koyok uripmu," sindir Bagas telak namun dibalut senyum jenaka khas arek Suroboyo.

Fathan terdiam sejenak. Sindiran Bagas menghujam tepat di pusat kesadarannya. Ia memang terjebak dalam lingkaran kepahitan masa lalu—mulai dari janji naif di bawah pohon mahoni di Lampung, perpisahan terhormat dengan Varisha di Singapura, hingga hantaman telak dendam bisnis keluarga Chafia di Jakarta. Ia merasa hidupnya dipenuhi oleh aturan-aturan tak kasat mata yang selalu merenggut kebahagiaan di detik-detik terakhir. Topeng dingin yang ia kenakan hari ini adalah perisai pelindung agar tidak ada lagi orang lain yang bisa masuk dan menghancurkan hatinya.

"Aku cuma capek, Gas. Hidupku kaya sinetron kejar tayang, masalah dateng terus silih berganti tanpa dikasih jeda napas," aku Fathan akhirnya dengan suara lirih, topeng dinginkan sedikit mengendap memperlihatkan kelelahan mental yang luar biasa.

Bagas merangkul bahu Fathan erat-erat, nada bicaranya berubah menjadi lebih serius dan hangat. "Aku ngerti, Fan. Patah hati kuwi abot, duka merkara keluarga kuwi ora gampang ditelan mentah-mentah. Tapi ojok mbok gawe alasan gawe ngurung awakmu dewe ing jero guwa keputusasaan."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya