Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #58

Di Antara Jemaah yang Riya

Suasana di dalam aula masjid agung kota Surabaya pada suatu malam Jumat terasa begitu padat dan pengap. Cahaya lampu neon putih yang terang benderang memantul di lantai keramik marmer yang bersih, menciptakan kilau menyilaukan yang justru membuat mata Fathan merasa lelah. Di dalam ruangan yang dipenuhi ratusan jemaah yang bersiap mengikuti pengajian akbar bulanan itu, Fathan memilih duduk menyepi di barisan paling belakang, tepat di dekat pilar beton besar yang menopang struktur bangunan masjid.

Ia mengenakan kemeja koko polos berwarna abu-abu gelap dengan celana bahan hitam, berbalut jaket katun tipis yang sengaja dibiarkan terbuka bagian depannya. Wajahnya tampak letih, mencerminkan pergolakan batin yang sejak beberapa hari terakhir terus menggerogoti pikirannya. Setelah urusan pelik keluarganya di Palembang beberapa waktu lalu sempat mereda, Fathan kini harus kembali ke Surabaya untuk menyelesaikan sisa proyek tata kota skala besar yang ditangani kantor konsultan tempat ia bekerja.

Namun, di tengah keriuhan orang-orang yang berbondong-bondong melipat sajadah dan merapatkan saf, hati Fathan justru terasa hampa dan asing. Ia mengamati sekelilingnya dengan tatapan mata yang menyipit sinis. Di barisan depan, beberapa orang tampak sibuk mengatur posisi duduk mereka sedemikian rupa agar terlihat khusyuk di hadapan kamera ponsel yang dipegang oleh asisten atau rekan jemaah lainnya. Ada yang sengaja memamerkan tasbih digital mewah di jari mereka, ada pula yang berzikir dengan suara sengaja dikeraskan agar terdengar paling alim oleh orang di sebelah kanan dan kiri.

Fathan menghela napas panjang, meresapi rasa sinis yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Di matanya malam ini, agama, jemaah, dan segala atribut ketulusan yang ditampilkan di dalam aula masjid tersebut tampak tidak lebih dari sebuah panggung teater massal—sebuah kedok rapi yang digunakan manusia untuk merasa lebih suci daripada orang lain di luar sana.

"Cangkeman tok, kabeh mung pamer kesucian," gumam Fathan pelan di dalam hatinya, mengutuk sinis apa yang ia saksikan di hadapannya.

Ia merasa terasing di tengah lautan manusia itu. Fathan merasa dirinya adalah makhluk asing yang salah tempat. Ketika orang-orang di sekitarnya tampak begitu antusias menyambut ceramah keagamaan dengan senyuman dan anggukan kepala tanda setuju, Fathan justru merasa muak dengan kepalsuan sosial yang kasat mata.

Refleksi waktu mendadak menghantam kepalanya dengan keras. Di usianya yang kini menginjak kepala tiga, Fathan merasa dirinya sedang tertinggal jauh di belakang garis lintang kehidupan. Ia merasa terjebak abadi di dalam masa lalu—terperangkap dalam kenangan gagal bersama Nisa di stasiun kereta, terkunci dalam kekecewaan profesional bersama Varisha di ruang tunggu bandara, dan terombang-ambing dalam bayang-bayang dosa masa lalu keluarga Chafia di Palembang. Sementara orang-orang di sekitarnya, betapapun munafiknya mereka terlihat di mata Fathan, terus bergerak maju menapaki jenjang karier, pernikahan, dan kehidupan sosial yang mapan.

Seorang lelaki paruh baya berpeci haji putih yang duduk di sebelah kirinya tiba-tiba menoleh, menatap Fathan dengan senyuman ramah khas jemaah pengajian. "Eling, Mas, kok ketoke tegang men dari mau? Mosok ning masjid malah ngalamun waé," tegur lelaki berlogat Surabaya kental itu dengan nada bersahabat.

Fathan tersentak kecil dari lamunannya. Ia menoleh sekilas, memasang senyuman terpaksa di bibirnya untuk menutupi ketidaknyamanan yang merajai hatinya. "Ah, nggak apa-apa, Pak. Cuma agak pusing sedikit kecapekan kerja," jawab Fathan singkat, berusaha mengalihkan pandangan kembali ke arah panggung utama.

❖ ❖ ❖

Lelaki paruh baya di sebelah Fathan itu tidak langsung mengalihkan pandangannya. Ia justru merogoh kantong koko-nya, mengeluarkan sebuah botol kecil minyak attar, lalu menawarkannya dengan sopan. "Nih, dioles sitik bathuke ben gak puyeng. Wedangan sik urip iki, ojo digae abot," ucapnya sambil menyodorkan botol kecil tersebut.

Fathan menerima tawaran itu sekadar untuk sopan santun, mengoleskan sedikit minyak wangi beraroma kayu gaharu ke pergelangan tangannya. "Terima kasih, Pak," balas Fathan datar.

Di dalam hatinya, Fathan kembali bergulat dengan pikirannya sendiri. Nasihat sederhana bernuansa khas Surabaya tadi—jangan dibuat berat—terasa begitu klise di telinga Fathan. Bagaimana mungkin hidup tidak dibuat berat jika kenyataannya Fathan merasa seluruh langkahnya selalu dihantam oleh dinding tak kasat mata dari takdir yang tidak adil?

Ia mengalihkan kembali perhatiannya ke barisan depan jemaah. Di sana, seorang penceramah muda yang terkenal wara-wiri di layar televisi nasional baru saja naik ke atas panggung dengan disambut riuh tepuk tangan dan salawat bersahut-sahutan dari para jemaah. Mikrofon berdengung nyaring sesaat sebelum suara sang penceramah menggema ke seluruh sudut ruangan masjid yang luas itu melalui pengeras suara ganda.

“Saudara-saudariku sekalian yang dirahmati Allah...” suara penceramah itu mulai membuka majelis dengan intonasi retorika yang sangat tertata rapi, penuh penekanan emosional di setiap suku kata yang diucapkannya.

Fathan mendengarkan bait-bait ceramah itu dengan sebelah telinga, sementara pikirannya sibuk membedah setiap gestur sang penceramah. Ia melihat bagaimana sang penceramah mengatur jeda bicara untuk memancing air mata jemaah, bagaimana senyuman tipis dilemparkan tepat pada kamera siaran langsung di sisi kanan panggung, dan bagaimana seluruh jamaah di barisan depan langsung terhanyut dalam isak tangis kolektif yang terasa begitu dramatis.

Riya. Kata itu berputar-putar liar di dalam kepala Fathan. Apakah ibadah dan majelis ilmu malam ini murni karena mencari ketulusan batin, ataukah sekadar ajang pamer kesalehan demi menaikkan gengsi sosial di hadapan publik? Fathan merasa dirinya telah menjadi manusia yang terlalu sinis, namun ia tidak bisa memadamkan api keraguan yang terus membakar akal sehatnya.

"Goblok men nek diterus-terusno mikir eleke wong liya," batin Fathan menegur dirinya sendiri secara getir. Ia sadar, sikap sinisnya terhadap jemaah lain di sekitarnya tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik; sebaliknya, sikap itu justru semakin mengurung Fathan di dalam sel tahanan mental yang ia bangun sendiri.

Ia merasa terperangkap dalam lorong waktu yang membeku. Ketika Chafia di Palembang sedang berjuang menata hati dan merestui masa depan mereka bersama, Fathan justru melarikan diri ke Surabaya dengan membawa segudang prasangka buruk terhadap dunia luar. Refleksi masa lalu kembali mencolek batinnya—ia adalah tipikal lelaki yang selalu menghakimi keadaan, merasa paling menderita, dan menolak untuk memaafkan ketidaksempurnaan orang-orang di sekitarnya.

❖ ❖ ❖

Pengajian akbar terus berlanjut hingga memasuki sesi tanya jawab interaktif. Suasana di dalam aula masjid tampak semakin riuh ketika beberapa jemaah di barisan tengah mengangkat tangan berebut ingin memberikan pertanyaan kepada sang penceramah demi mendapatkan sorotan kamera.

Fathan menggeser posisi duduknya sedikit menjauhi pilar beton, meregangkan bahunya yang terasa kaku. Matanya menyapu barisan jemaah di sekitarnya. Di antara ratusan orang yang tampak khusyuk mendengarkan, mata Fathan tanpa sengaja menangkap sosok seorang ibu paruh baya di barisan agak depan yang duduk seorang diri.

Lihat selengkapnya