Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Suara di Balik Mikrofon

Suasana di dalam aula gedung serbaguna yang luas itu tampak tenang, dipadati oleh ratusan jamaah yang duduk rapi di atas karpet tebal berwarna hijau tua. Lampu gantung kristal berukuran besar memancarkan cahaya kuning temaram, menciptakan nuansa khidmat di ruangan berpendingin udara dingin tersebut. Di luar gedung, hiruk-pikuk kota Bandung sore itu seolah diredam oleh dinding-dinding kedap suara, menyisakan keheningan batin yang menyelimuti setiap hadirin yang datang untuk mengikuti majelis ilmu bulanan perusahaan.

Fathan duduk seorang diri di barisan kursi sudut agak ke belakang, mengenakan kemeja koko putih polos berpadu celana bahan hitam. Wajahnya tampak tenang, dingin, dan tanpa ekspresi—topeng profesional yang ia kenakan setiap hari untuk menutupi rongga dada yang telah lama kosong sejak kepergian Chafia dan runtuhnya mimpi-mimpinya beberapa bulan lalu. Ia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menatap lurus ke arah panggung utama yang dihiasi tirai kain beludru merah tua dan sebuah podium kayu berukir halus.

"Fathan, tumben dateng agak cepetan ke majelis hari ini. Biasanya kamu paling akhir pas sesi materi mau mulai," sapa Riri pelan sambil menarik kursi kosong di sebelah Fathan, merapikan kerudung abu-abunya.

Fathan menoleh sekilas, menyunggingkan senyuman tipis yang hampa. "Iya, Ri. Kebetulan kerjaan di kantor lagi senggang, jadi tadi bisa langsung berangkat ke sini tanpa buru-buru."

"Baguslah kalau gitu, daripada di kosan sendirian mikirin kerjaan mulu, mending ademkan pikiran di sini," balas Riri bijak, menepuk pelan pundak Fathan sebelum ia kembali fokus menghadap ke depan.

Fathan mengangguk kecil, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung utama. Di atas panggung, panitia penyelenggara tampak sibuk mengatur posisi mikrofon berdiri di atas podium. Tidak lama kemudian, seorang perempuan muda berbalut busana muslimah berwarna hitam elegan dengan kerudung panjang senada melangkah tenang menaiki tangga panggung. Ia membawa sebuah buku catatan kecil di tangan kirinya, lalu berdiri anggun di balik podium kayu tersebut.

Sesi tausiah dimulai. Seorang ustazah muda naik ke podium. Suaranya tenang, renyah, namun memiliki otoritas batin yang kuat saat ia mulai mengucapkan salam pembuka kepada seluruh jamaah yang hadir di ruangan itu.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." suara lembut itu menggelegar melalui pengeras suara ruangan, begitu jernih dan menghujam relung hati siapa pun yang mendengarnya.

Fathan tidak langsung memperhatikan wajah sang ustazah. Ia hanya menundukkan kepalanya sejenak, meresapi alunan nada suara sang penceramah yang terdengar sangat damai. Namun, selang beberapa detik kemudian, kening Fathan mengernyit samar. Ada sesuatu dari intonasi bicara itu—sebuah getaran suara, cara pelafalan huruf yang khas, dan jeda tarikan napas yang terasa begitu akrab di memori masa kecilnya di masa lalu.

Kepalanya terangkat spontan. Manik matanya menatap tajam ke arah sosok perempuan di balik podium yang mulai melanjutkan kalimat tausiahnya dengan tenang. Jantung Fathan mendadak berdegup kencang tiga kali lebih cepat, seolah ada aliran listrik bertegangan tinggi yang menyengat sekujur tubuhnya.

❖ ❖ ❖

Suara sang ustazah terus mengalir memenuhi setiap sudut ruangan aula, menghanyutkan ratusan jamaah dalam keheningan yang khidmat. Namun, Fathan tidak lagi mampu menangkap materi tausiah yang disampaikan. Seluruh panca inderanya kini terkunci sepenuhnya pada sosok perempuan di atas panggung yang tengah berbicara dengan gestur tangan yang begitu tenang dan bersahaja.

Kok suaranya mirip banget... rasanya tidak mungkin, tapi intonasi medoknya itu lho, renyah banget di telinga, batin Fathan bergejolak hebat, matanya melebar menatap lekat-lekat wajah sang ustazah dari jarak belasan meter.

Meskipun wajah perempuan itu tampak sedikit lebih dewasa, dihiasi kedewasaan spiritual yang terpancar dari sorot matanya yang teduh, struktur wajah dan garis senyum tipisnya menyimpan memori masa silam yang sangat lekat di kepala Fathan. Seseorang yang sudah lama hilang dari peta kehidupannya sejak belasan tahun lalu—seorang teman masa kecil di kampung halaman ibunya di Jawa Timur yang dulu sering mengajarinya mengaji di teras mushola tua.

"Cak omonge sopo iku, kok nggarai aku kelingan jaman cilik biyen?" gumam Fathan tanpa sadar melafalkan kalimat bahasa Jawa gaya Surabaya dengan logat pelan, mengekspresikan keterkejutan batinnya yang luar biasa.

Riri yang duduk di sampingnya menoleh dengan tatapan bingung. "Eh, Fathan? Kamu ngomong apa barusan? Kok pakai bahasa Jawa medok gitu? Kenal sama ustazah di depan emangnya?"

Fathan segera menggeleng pelan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh di dada. "Ah, bukan apa-apa, Ri. Cuma... suara beliau kok rasanya mirip banget sama seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah kutemui."

"Oh, emangnya siapa? Barangkali emang orangnya beneran beliau, coba dengerin dulu materinya sampai selesai," saran Riri sambil kembali memalingkan wajahnya ke depan panggung.

Titik jepit pertama ini mendadak merenggut seluruh pertahanan emosional Fathan yang selama ini dibangun di atas reruntuhan kepedihan masa lalunya. Setelah dihantam kegagalan demi kegagalan cinta di Bandung—kehilangan Varisha karena jarak benua dan kehilangan Chafia karena dendam darah keluarga—semesta seolah sengaja melempar Fathan kembali ke masa lalu melalui sebuah suara di balik mikrofon.

Ustazah muda itu tersenyum tipis di atas podium, lalu melontarkan sebuah kalimat pengantar materi dengan gaya bahasa yang begitu santai namun menohok hati.

"Kadang kala, Gusti Allah nggandeng ati sing kelaran liwat dalan sing ora disangka-sangka. Sing penting awak kabeh sabar lan nerimo takdire kanthi ikhlas..." ucap sang ustazah menggunakan sisipan logat Jawa timuran yang begitu khas di sela-sela ceramah bahasa Indonesianya.

Fathan terpaku bisu di kursi penonton. Kalimat itu bukan sekadar materi tausiah biasa; kalimat itu bagaikan palu godam yang menghantam langsung ke dalam batin Fathan, seolah menjawab seluruh jeritan keputusasaan yang selama ini ia pendam sendirian di kamar kosnya yang gelap.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya