
Udara malam kota Palembang berangsur tenang selepas salat Isya berjemaah di sebuah masjid agung berarsitektur megah di pusat kota. Fathan melangkah keluar dari deretan saf belakang, mengenakan kemeja koko putih polos yang dipadu celana bahan gelap. Setelah memutuskan untuk mematikan rasa dan menutup rapat pintu hatinya usai badai keputusasaan yang melanda beberapa waktu lalu, Fathan memang sengaja lebih sering menghabiskan waktu mendekatkan diri pada kegiatan keagamaan di masjid. Ia tidak lagi mencari pelabuhan asmara; baginya, hidup kini berjalan mekanis, sekadar menunaikan kewajiban harian tanpa ekspektasi dan tanpa rasa takut kehilangan lagi.
Acara pengajian bulanan malam itu baru saja usai. Para jemaah mulai merapikan sajadah, bersalaman, dan berangsur-angsur membubarkan diri meninggalkan ruang utama masjid yang luas berbalut karpet merah marun. Fathan turut berdiri, merapikan peci hitam di kepalanya, lalu bersiap melangkah keluar menuju pelataran parkir. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti seketika ketika matanya tak sengaja menangkap sebuah papan akrilik berdiri tegak di dekat mimbar utama—tempat sang penceramah tadi menyampaikan tausiahnya.
Pada papan nama pengisi acara berbingkai kayu jati itu, tertera tulisan rapi dengan tinta emas: Ustazah Laila Shasmira, S.Ag.,M.Ag.
Fathan tertegun. Jantungnya yang tadinya berdenyut datar dan mati rasa tiba-tiba berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras. Nama itu... nama yang sudah lebih dari dua dekade terkubur rapat di balik tumpukan memori masa kecilnya di sebuah kompleks perumahan sederhana di Surabaya. Seketika itu pula, waktu berputar mundur dua puluh tahun ke belakang. Bayangan masa kecil yang penuh debu lapangan bulu tangkis, suara tawa riang anak-anak, dan sesosok gadis cilik berambut kepang dua dengan pita merah yang rajin menemaninya duduk di tepi lapangan sore hari mendadak berkelebat terang di dalam kepalanya.
"Laila... Shasmira?" bisik Fathan lirih, suaranya tercekat di tenggorokan, seolah ia sedang membaca hantu dari masa lalu yang bangkit kembali di tanah Sumatra.
Ia mengerjap-ngerjap beberapa kali, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah baca. Kenangan lama yang sudah berkarat itu mendadak mendobrak dinding pertahanan emosional yang baru saja ia bangun dengan susah payah.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar mimbar masjid mulai sepi, menyisakan beberapa pengurus takmir yang sedang membereskan kabel mikrofon dan buku-buku catatan. Fathan masih terpaku di tempatnya berdiri, terpaku menatap papan nama berukir emas tersebut. Ingatannya melompat jauh melewati batas ruang dan waktu, kembali ke lorong-lorong sempit kompleks perumahan pekerja di pinggiran Surabaya. Ingatan tentang masa-masa ketika ia masih anak laki-laki sepuluh tahun yang hobi bermain bola kasti dan sepeda jengki, ditemani oleh seorang anak perempuan pendiam yang selalu membawa buku cerita bersampul tebal.
"Lala... Laila Shasmira anak Pak RT..." gumam Fathan pelan, mengingat panggilan akrab gadis cilik itu semasa kecil.
Dulu, Laila adalah satu-satunya teman yang paling setia mendengarkan keluh kesahnya ketika Fathan kecil dimarahi orang tuanya karena pulang kesorean bermain layangan. Gadis kecil itu selalu duduk manis di pinggir lapangan sambil merapikan kepang rambut dua miliknya, memegang sebotol air kendi, dan menasihati Fathan dengan gaya bicara sok dewasa yang menggemaskan. Namun, jalan hidup memisahkan mereka secara tiba-tiba ketika keluarga Fathan harus berpindah kota ke Jakarta akibat mutasi pekerjaan ayahnya. Sejak hari perpisahan di stasiun kereta api Surabaya kala itu, kontak di antara mereka terputus total seiring berjalannya waktu dan kerasnya arus kehidupan ibu kota.
"Ora nyono blas, jebul arek cilik biyen saiki wis dadi ustazah kondang ngene," ucap Fathan tanpa sadar melafalkan kalimat dalam bahasa Jawa logat Surabaya, mengekspresikan keterkejutannya yang luar biasa.
Rasa penasaran bercampur aneh menyelimuti sekujur tubuhnya. Apakah benar Laila Shasmira yang berdiri di atas mimbar tadi adalah Lala kecil sahabat masa kecilnya, ataukah ini sekadar kesamaan nama yang kebetulan semata? Fathan mengepalkan kedua tangannya pelan, merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya berpacu lebih cepat dari biasanya—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ia memutuskan untuk mematikan rasa.
❖ ❖ ❖
Fathan melangkah perlahan mendekati area mimbar utama, berniat memastikan kebenaran sosok di balik papan nama tersebut. Beberapa pengurus takmir masjid tampak sedang berbincang ramah dengan seorang perempuan berbusana Muslimah serba hitam dengan kerudung lebar berwarna senada yang sedang membereskan catatan ceramahnya di atas meja kecil dekat pintu samping ruang utama.
Dari kejauhan, postur tubuh dan cara perempuan itu merapikan tumpukan buku tampak memicu memori lama di kepala Fathan. Cara tangannya melipat ujung kerudung, gestur menunduk saat mendengarkan ucapan terima kasih dari pengurus masjid—semuanya menyimpan sisa-sisa bayangan masa lalu yang begitu akrab.