
Aula auditorium gedung kesenian di kawasan Gubeng, Surabaya, tampak dipadati oleh ratusan peserta seminar nasional tata kota dan arsitektur berkelanjutan. Sorot lampu panggung berwarna putih hangat menyinari mimbar utama tempat Laila berdiri anggun setelah menyelesaikan pemaparannya sebagai pembicara kunci utama hari itu. Mengenakan setelan blazer berwarna biru navy dengan jilbab senada yang rapi, Laila memancarkan aura ketenangan dan intelektualitas yang mendalam. Tepuk tangan meriah bergemuruh memenuhi ruangan begitu ia membungkuk hormat menutup sesinya, menandai berakhirnya presentasi ilmiah yang memukau seluruh audiens dari berbagai kalangan akademisi dan profesional muda.
Laila tersenyum ramah sambil melangkah turun dari mimbar panggung, menyapa beberapa panitia pelaksana yang berdiri menyambutnya di sisi kanan tangga. Suasana di sekitar panggung terasa sangat hidup, diwarnai gelak tawa ringan dan pertukaran kartu nama antartamu undangan yang ingin menjalin relasi profesional. Namun, di tengah kesibukan interaksi sosial yang menyita perhatian itu, langkah kaki Laila tiba-tiba terhenti secara misterius. Ada semacam tarikan tak kasat mata yang mengalihkan fokus retinanya menembus kerumunan orang-orang yang berdiri di barisan kursi paling belakang auditorium.
Tanpa sengaja, pandangan mata Laila beradu lurus dengan seorang pria berjaket gelap yang duduk sendiri di kursi sudut paling belakang ruangan. Pria itu adalah Fathan. Di balik sorot matanya yang teduh, Laila tidak melihat Fathan yang sukses sebagai arsitek kawakan, dan ia juga tidak melihat Fathan yang sinis seperti masa-masa kepahitan hidupnya dulu—ia justru melihat bayangan Fathan kecil yang dulu pernah terluka dan kehilangan arah di masa lalu.
Laila terpaku di tempatnya berdiri, debaran di dadanya mendadak terasa nyeri. Ia mengenali sorot mata itu di balik wajah Fathan yang kini tampak lebih tirus dan lelah. Bertahun-tahun lamanya mereka berdua menempuh jalan hidup yang berbeda setelah persimpangan takdir memisahkan masa kecil dan remaja mereka, hingga akhirnya semesta mempertemukan kembali di ruang auditorium kota Surabaya ini tanpa secarik rencana.
Fathan, yang menyadari dirinya sedang diperhatikan secara lekat oleh perempuan di dekat panggung utama itu, mengerutkan keningnya ragu. Ia mengangkat sedikit wajahnya, menatap balik ke arah Laila dengan tatapan kosong bercampur keterkejutan batin yang mendalam. Di tengah riuhnya tepuk tangan panitia, waktu seolah berhenti berputar khusus untuk mereka berdua.
"Mbak Laila... mboten nopo-nopo? Kok dumadakan mandheg mriki?" tegur salah seorang panitia perempuan berhijab pastel di sebelah Laila, membuyarkan lamunan singkat sang arsitek perempuan tersebut dengan logat Surabaya yang ramah. (Mbak Laila... tidak apa-apa? Kok mendadak berhenti di sini?)
Laila mengerjap pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Mboten nopo-nopo, Mbak. Kula namung ndelok kanca lawas sing suwe ilang," jawab Laila tenang sambil tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya sebentar sebelum kembali menatap lurus ke arah barisan kursi belakang tempat Fathan duduk. (Tidak apa-apa, Mbak. Saya cuma melihat teman lama yang sudah lama hilang.)
❖ ❖ ❖
Fathan merasakan sekujur tubuhnya menegang kaku di atas kursi barisan belakang. Ia tidak menyangka bahwa perempuan yang berdiri di atas panggung megah tadi adalah Laila—sahabat masa kecilnya di kampung halaman dulu sebelum badai keluarga menghancurkan masa remaja mereka. Fathan ingin segera bangkit berdiri dan melarikan diri keluar dari gedung auditorium untuk menghindari pertemuan emosional yang belum siap ia hadapi, namun kakinya seolah terpaku kuat di lantai semen di bawah kursinya.
Laila menolak untuk membuang muka. Ia melangkah pelan melewati kerumunan kursi audiens yang mulai lengang, mendekati barisan belakang tempat Fathan duduk terpaku menunduk. Bau aroma khas teh melati dan ketenangan yang selalu melekat pada diri Laila menguar pelan begitu ia berdiri tepat di samping kursi Fathan.
"Fathan... rek, tenan iki awakmu?" bisik Laila lembut, suaranya bergetar halus menahan gelombang emosi yang mendesak naik ke tenggorokannya. (Fathan... teman, beneran ini kamu?)
Fathan mendongakkan kepalanya perlahan, menatap wajah Laila yang kini tampak jauh lebih matang, bijaksana, namun tetap menyimpan kelembutan mata yang sama persis seperti belasan tahun lalu. Fathan tersenyum kecut, mencoba menutupi kerapuhan di balik nada suara datarnya. "Halo, Lai... ora nyana aku iso ketemu kowe nang tengah kutha Surabaya iki," balas Fathan serak, menggunakan sapaan akrab masa lalu mereka. (Halo, Lai... tidak nyangka aku bisa ketemu kamu di tengah kota Surabaya ini.)
Laila tidak memedulikan basa-basi dingin Fathan. Matanya yang tajam dan peka langsung menembus pertahanan psikologis pria itu, mengenali luka batin yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di balik kesuksesan profesional Fathan sebagai perancang struktur bangunan. Laila tahu persis goresan-goresan trauma masa kecil Fathan—luka akibat perceraian orang tua dan tekanan silsilah keluarga yang membuat Fathan tumbuh menjadi pria pendiam yang selalu merasa tersesat.
"Awakmu ketoke kesel banget, Fan. Pripun kabare uripmu sak niki?" tanya Laila penuh perhatian, duduk perlahan di kursi kosong tepat di sebelah Fathan tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka. (Kamu kelihatannya capek banget, Fan. Bagaimana kabar hidupmu sekarang?)
Fathan menundukkan kepalanya, menatap telapak tangannya sendiri yang sedikit bergetar. Titik jepit pertama ini menjepit harga diri Fathan di hadapan perempuan yang paling memahami masa lalunya. Ia tidak bisa berbohong di hadapan Laila, karena Laila adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang pernah melihat Fathan menangis tersedu-sedu di bawah pohon mangga tua saat keluarganya hancur berkeping-keping dulu.
"Kabar buruk, Lai... Uripku koyok mesin sing mlaku tanpa arah, salah dalan terus sakwise kabeh sing tak bangun ambruk," aku Fathan getir, suaranya parau menahan sesak di dadanya. (Kabar buruk, Lai... Hidupku kayak mesin yang jalan tanpa arah, salah jalan terus setelah semua yang kubangun ambruk.)
Laila menghela napas panjang, menatap Fathan dengan sorot mata penuh empati yang tidak menghakimi. "Ojo ngomong dewe koyok ngono, Fan. Luka sing durung mbok warasno bakal terus nggawa awakmu mlebu nang jurang sing padha," nasihat Laila lembut menggunakan logat Jawa timuran yang menenangkan hati. (Jangan ngomong sendiri kayak gitu, Fan. Luka yang belum kamu sembuhin bakal terus bawa kamu masuk ke jurang yang sama.)
❖ ❖ ❖
Suasana di sudut barisan belakang auditorium itu terasa begitu senyap di tengah riuhnya orang-orang yang mulai membereskan barang seminar. Fathan dan Laila duduk berdampingan dalam keheningan yang sarat makna. Fathan merasa telanjang di hadapan Laila; seluruh topeng kesuksesan, sikap sinis terhadap cinta, dan kepribadian dingin yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika di bawah tatapan mata Laila yang mengenali luka-luka masa kecilnya.
"Aku krungu kabar babagan masalah proyek lan urusan keluargamu ing Palembang lan Jakarta wingi-wingi, Fan," ucap Laila pelan, membuka topik yang selama ini menjadi momok paling menakutkan bagi Fathan. (Aku dengar kabar tentang masalah proyek dan urusan keluargamu di Palembang dan Jakarta kemarin-kemarin, Fan.)
Fathan menoleh cepat, menatap Laila dengan kening berkerut tajam. "Kok kowe iso ngerti soal kuwi, Lai? Sapa sing ngandhani?" tanya Fathan curiga, merasa privasinya tersadap. (Kok kamu bisa ngerti soal itu, Lai? Siapa yang ngasih tahu?)