Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Sapaan yang Meruntuhkan Tembok

Pagi hari di sebuah lobi hotel bintang lima kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, tampak begitu sibuk dan dipenuhi oleh para profesional kreatif, pebisnis muda, serta tamu undangan dari berbagai agensi periklanan ternama. Karpet merah membentang megah di sepanjang koridor utama menuju ballroom utama tempat digelarnya pameran desain dan inovasi digital tahunan. Di sudut ruangan dekat pilar kaca besar, Fathan berdiri seorang diri mengenakan setelan jas hitam semi-formal yang pas di badan, memegang secangkir kopi hitam hangat di tangan kanannya. Setelah melewati berbagai badai emosional, mulai dari kepahitan masa lalu bersama Chafia hingga titik balik keikhlasannya di masjid bersama Bagas, Fathan kini hadir di acara tersebut mewakili agensi tempatnya bekerja sebagai salah satu pengarah seni utama.

Suasana lobi yang bising oleh riuh suara orang-orang yang saling bersalaman dan bertukar kartu nama mendadak tidak dihiraukan oleh Fathan. Ia lebih memilih menikmati aroma kopi hitamnya sambil mengamati pantulan bayangannya di dinding kaca luar. Pertahanan diri yang ia bangun selama bertahun-tahun di ibu kota—sebuah benteng es yang dingin dan kaku—berhasil ia jaga dengan sangat rapi setelah sekian banyak kepatahan hati yang ia alami. Baginya, hidup kini berjalan di atas rel profesionalisme murni, tanpa melibatkan beban perasaan romantis yang berlebihan.

"Heh, Fathan! Nggambleh ae kowe nang pojokan, kaya satpam kurang gawean wae!" sebuah suara perempuan berintonasi ceria dan ceplas-ceplos mendadak memecah lamunannya dari arah belakang.

Fathan menoleh dengan kening berkerut tipis, mengira itu adalah sapaan dari rekan kantornya. Namun, napasnya seketika tertahan di tenggorokan begitu ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Seorang wanita anggun berbalut dress blazer putih tulang dengan gaya rambut sebahu yang tertata rapi sedang berdiri sambil tersenyum lebar menatapnya. Senyum itu... senyum yang sangat ia kenali, senyum yang sama persis seperti masa-masa mereka menghabiskan sore di sudut kota Surabaya bertahun-tahun lalu sebelum takdir memisahkan jalan hidup mereka.

"Laila...?" gumam Fathan tak percaya, cangkir kopi di tangannya hampir saja terlepas dari genggamannya.

Laila tertawa kecil, suara tawa renyah yang langsung membawa ingatan Fathan kembali menembus lorong waktu masa kuliah di Surabaya. "Yo opo kabarmu, Fan? Suwe ora ketemu, jik tetep kaku ae gayane kaya arek ngamok!" sapa Laila spontan menggunakan logat Suroboyo yang kental, sama sekali tidak berubah meskipun kini ia tampil sebagai salah satu pembicara kunci dalam forum desain nasional tersebut.

❖ ❖ ❖

Kehadiran Laila di hadapan Fathan bukan sekadar pertemuan biasa antara dua kawan lama. Laila adalah potongan masa lalu yang paling bersih, cinta pertama di masa muda sebelum Fathan merantau jauh ke Lampung, Singapura, dan akhirnya terdampar di Jakarta. Selama bertahun-tahun, Fathan sengaja mengunci rapat memori tentang Laila di sudut paling belakang hatinya, menganggap perempuan itu telah hilang selamanya di tengah dinamika hidup yang saling menjauh. Namun, takdir rupanya memiliki rencana lain yang jauh di luar kendali akal sehatnya.

"Aku apik-apik wae, Lai. Kowe dhewe piye kabare? Kok ujug-ujug teka nang Jakarta?" tanya Fathan kikuk, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawa profesionalnya di hadapan wanita yang pernah mengisi hari-hari remajanya.

Laila tersenyum semakin lebar, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa jengkal saja. "Aku pindah Jakarta wulan wingi, Fan. Dituges dadi kepala divisi kreatif kantor cabang anyar sing ana nang Sudirman. Ora nyana blas bakal ketemu kowe nang acara iki. Ibuku sing crita lek kowe saiki kerja dadi art director neng kene."

Fathan mengangguk kaku, tenggorokannya mendadak terasa kering. Pertahanan diri yang ia bangun selama bertahun-tahun—benteng es pertahanan emosional yang ia ciptakan untuk melindungi diri dari rasa sakit akibat perpisahan dengan Varisha dan Chafia—mendadak bergetar hebat hanya karena melihat binar mata Laila yang berbinar-binar penuh kehangatan masa lalu.

"Wah, hebat tenan saiki wis dadi bos kreatif kowe, Lai," puji Fathan lirih, berusaha mengalihkan degup jantungnya yang berpacu tidak normal. "Aku yo mung sakadarnya wae kerjo neng kene, ora semegah kantormu."

"Halah, tetep wae gayane ora owah! Isih seneng ngasorake awak dewe kaya biyen," protes Laila dengan nada manja khas Surabaya yang langsung menusuk lembut relung hati Fathan. "Fan, jujur aku kangen karo obrolan-obrolan ngalor-ngidul biyen wektu isih kuliah bareng nang pinggir kampus."

Fathan terdiam seribu bahasa. Kalimat sederhana itu bagaikan kunci utama yang membuka paksa pintu brankas memori yang selama ini ia gembok rapat-rapat. Segala kepahitan, kekecewaan, dan luka batin yang baru saja ia sembuhkan di masjid raya beberapa waktu lalu seolah diuji kembali oleh kehadiran sosok perempuan yang paling ia kenal di masa mudanya.

❖ ❖ ❖

Suasana lobi hotel semakin ramai oleh kedatangan para tamu undangan VIP yang mengerubungi area registrasi utama. Beberapa panitia tampak sibuk memanggil Laila untuk segera bersiap naik ke atas panggung utama karena acara pembukaan seminar akan segera dimulai dalam hitungan menit. Namun, Laila tampaknya tidak memperdulikan kesibukan di sekitarnya; perhatiannya sepenuhnya tertuju pada sosok Fathan yang berdiri mematung di samping pilar kaca.

"Lai, ditunggu panitia neng panggung utama, acara arep diwiwiti!" panggil salah seorang rekan kerja Laila dari jarak beberapa meter sambil melambaikan tangan.

Lihat selengkapnya