Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #63

Cangkir Teh dan Cerita yang Tertunda

Langit sore di kota Surabaya berangsur-angsur meredup, menyisakan bias jingga keemasan yang memantul indah di permukaan kubah masjid besar tempat Fathan dan Laila membuat janji temu secara spontan beberapa jam yang lalu. Suara deburan angin sore berembus menyapu halaman masjid yang mulai sepi, membawa kesejukan di tengah penatnya hari yang melelahkan. Di sudut teras luar masjid yang dinaungi pilar-pilar beton besar dan dikelilingi taman kecil berumput hijau, dua cangkir teh poci hangat diletakkan di atas meja kayu bundar sederhana.

Fathan duduk bersandar di kursi kayu dengan bahu yang tampak merosot letih. Mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan digulung sampai siku, raut wajahnya menyiratkan beban psikologis yang amat berat. Ia menatap kosong ke arah kepulan uap tipis yang membubung dari cangkir teh di hadapannya, enggan menyeruputnya sejak tadi.

Di seberangnya, Laila duduk dengan tenang. Perempuan berjilbab abu-abu rapi itu mengenakan pakaian sederhana namun elegan, menatap Fathan dengan sorot mata penuh perhatian dan kesabaran tanpa batas. Laila adalah sahabat lama Fathan sejak masa kuliah di Surabaya sebelum Fathan merantau jauh ke ibu kota dan berkelana ke luar negeri. Hubungan mereka selalu berada di dalam koridor persahabatan yang bersih, saling mendukung, dan tanpa ikatan romantis yang rumit.

"Piye rasane balik nang Surabaya maneh, Fath? Kok ketoke kumat maneh kusut e rai mu, koyok wong sing nanggung beban bumi sak bendolane," tegur Laila membuka percakapan dengan nada santai khas dialek Surabaya, mencoba memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti meja mereka.

Fathan tersenyum pahit mendengar ledekan ringan sahabat masa lalunya itu. Ia menggeleng pelan, lalu mendongakkan kepalanya menatap Laila. "Beban bumi rasanya masih kurang berat kalau dibandingin sama apa yang lagi aku rasain sekarang, La," jawab Fathan dengan suara parau.

Tidak ada basa-basi yang kaku di antara mereka berdua. Hubungan persahabatan bertahun-tahun membuat Fathan tidak perlu lagi menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng profesionalisme korporat atau kedewasaan palsu yang biasa ia tunjukkan di hadapan orang lain. Di hadapan Laila, Fathan merasa diizinkan untuk menjadi dirinya sendiri—seorang lelaki yang kelelahan, terluka, dan kehabisan arah setelah dihantam berbagai badai percintaan yang silih berganti.

"Ceritao ae, mumpung sepi kene. Ojo dipendem dewe, mundhak mendem stres," sambung Laila lembut, menyeduh sedikit teh hangat di cangkirnya lalu mendorong piring kecil berisi jajanan pasar mendekat ke arah Fathan. "Aku ngrungokno kabeh, ora bakal ngowahi cerito utowo ngece."

Fathan menarik napas panjang, meresapi kehangatan persahabatan yang tulus itu. Selama ini, ia terbiasa memendam sendiri luka-luka emosionalnya—menyimpan rapat kepedihan masa lalu di balik kesibukan kerja yang padat. Namun malam ini, di sudut teras masjid yang sepi di kota Surabaya, pertahanan itu runtuh seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Fathan memutuskan untuk meluapkan seluruh kepedihannya tanpa sisa, membiarkan unek-unek tergelapnya keluar dari rongga dadanya yang sesak.

❖ ❖ ❖

Fathan meremas jemarinya sendiri di atas meja, menatap lekat-lekat cangkir teh yang mulai mendingin. Suaranya terdengar bergetar ketika ia mulai membuka lembaran masa lalunya yang paling menyakitkan, dimulai dari nama yang pertama kali menorehkan luka di relung hatinya.

"Kamu inget Nisa, kan, La? Perempuan di stasiun kereta bertahun-tahun lalu," ucap Fathan memulai pengakuannya, nada suaranya terdengar sinis dan penuh kepahitan. "Dulu aku bodoh banget, percaya kalau cinta bisa ngalahin segalanya. Aku berjuang setengah mati nungguin dia di peron stasiun, bawa sejuta rencana masa depan. Tapi apa akhirnya? Kandas begitu saja cuma karena restu keluarga dan jarak sosial yang nggak bisa ditembus."

Laila mendengarkan dengan seksama, tidak memotong sedikit pun, membiarkan Fathan menumpahkan racun kepedihan yang selama ini bersarang di dadanya.

"Waktu itu aku marah," lanjut Fathan, tawanya terdengar getir. "Aku marah sama jarak, aku marah sama keadaan, dan aku merasa takdir itu jahat banget sama aku."

Tidak berhenti di situ, Fathan melanjutkan ceritanya ke babak berikutnya—tentang hubungannya dengan Varisha di tengah rimba dunia korporat ibu kota. "Belum cukup disiksa sama masa lalu Nisa, aku ketemu Varisha. Perempuan ambisius yang ngajarin aku kalau cinta di dunia modern itu cuma soal kalkulasi karier, target, dan waktu yang tepat. Aku kira kami bakal sejalan. Tapi di bandara internasional waktu itu, semuanya hancur lebur gara-gara ego karier global kami yang saling bertabrakan. Waktu itu aku kecewa banget sama waktu, La. Waktu terasa berjalan terlalu cepat buat kami yang nggak pernah siap mengalah."

Laila meraih cangkirnya, meneguk sedikit teh hangat, lalu menatap Fathan dengan pandangan penuh empati yang mendalam. "Terus sing saiki piye, Fath? Sing karo arek Palembang kae, Chafia?" tanya Laila pelan, menyebut nama yang belakangan ini menjadi poros hidup Fathan.

Mendengar nama Chafia disebut, raut wajah Fathan justru semakin mengeras, memancarkan keputusasaan yang luar biasa pekat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar.

"Sama Chafia justru jauh lebih rumit, La," keluh Fathan dengan nada sinis yang terselubung kepedihan. "Orangnya baik, tulus, keluarganya juga udah ngasih restu. Tapi justru di situ letak ironinya. Aku terjebak di hadapan dinding tak kasat mata—dosa masa lalu orang tua kami di meja makan yang hampir nggagalin semuanya. Aku nggak bisa marah ke Chafia, aku nggak bisa marah ke jarak atau waktu. Aku cuma bisa terdiam bisu ngerasain betapa hidup ini kayak main-mainin aku."

❖ ❖ ❖

Suasana di sudut teras masjid semakin senyap seiring malam yang merangkak naik. Angin malam kota Surabaya bertiup agak kencang, menerbangkan ujung jilbab Laila. Perempuan itu menatap Fathan lekat-lekat, menangkap setiap getaran emosi yang terpancar dari sorot mata sahabatnya yang lelah.

"Wis ta, Fath? Wis puas leh mu nyalahno kabeh uwong karo kahanan?" tanya Laila tenang namun menusuk tepat ke ulu hati Fathan.

Fathan tertegun sejenak, menoleh menatap Laila dengan sebelah alis terangkat. "Bukannya aku nyalahin keadaan tanpa alasan, La. Kenyataannya memang hidup aku selama ini dipenuhi kegagalan demi kegagalan gara-gara takdir yang nggak pernah adil!" protes Fathan dengan nada suara yang sedikit meninggi, memancarkan keputusasaan yang akut.

Laila menggelengkan kepalanya perlahan, tersenyum tipis penuh kebijaksanaan. "Kon iku lho, Fath, kadung cerdas tapi kadang goblok urusan ati," ledek Laila dengan logat Surabaya yang kental namun dibalut kelembutan seorang sahabat. "Mbok yo dipikir, sing nggawe uripmu ruwet iku asline dudu Nisa, dudu Varisha, utowo Chafia. Tapi kon dewe sing gak gelem legowo nerimo kanyatan."

Lihat selengkapnya