Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #64

Bukan Ceramah, Melainkan Pendengar

Sore hari di kota Bandung menyuguhkan suasana yang begitu menenangkan. Langit bersih tanpa awan tebal, membiarkan cahaya keemasan matahari menjelang senja memantul indah di kaca-kaca jendela sebuah kedai teh tradisional berarsitektur kayu jati di kawasan Dago Atas. Tempat itu tampak lengang, jauh dari kebisingan kota, menawarkan privasi dan ketenangan bagi siapapun yang ingin meredakan penat di kepala. Di salah satu sudut meja luar ruangan yang dikelilingi tanaman hias hijau merambat, Fathan duduk seorang diri sambil merapikan letak jaketnya.

Beberapa hari setelah perjumpaan tak terduga di aula majelis ilmu bersama Kirana—atau yang kini lebih akrab ia panggil dengan nama panggilan masa kecilnya—Fathan memberanikan diri untuk menerima undangan obrolan santai sore ini. Di hadapannya, sebuah kursi kayu kosong masih menunggu kehadiran perempuan yang suaranya sempat menyelamatkan kewarasannya dari jurang keputusasaan beberapa waktu lalu. Fathan merasa ada banyak hal yang ingin ia tumpahkan, beban mental yang selama bertahun-tahun menumpuk di dalam rongga dadanya, mulai dari kepergian Varisha hingga kepedihan mendalam saat dipisahkan dari Chafia.

"Maaf ya, Fathan, nunggu suwi ta? Tadi macet pas nyebrang jalan raya," sebuah suara lembut berbalut logat khas menyapa telinga Fathan dari arah samping.

Fathan mendongak cepat. Kirana—yang kini tampil anggun mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu terang dengan kerudung senada—berdiri tersenyum ramah sambil melangkah mendekat ke arah meja.

"Ah, durung kok, Ran. Aku yo lagi wae teka lungguh nang kene," jawab Fathan spontan menggunakan sedikit logat Jawa Surabaya yang mulai akrab kembali di lidahnya. "Sila lungguh, Kirana."

Kirana tersenyum lebar, lalu melabuhkan duduknya di kursi berhadapan langsung dengan Fathan. Ia meletakkan tas selempang kecilnya di atas pangkuan, lalu menatap lekat-lekat wajah Fathan dengan sorot mata penuh perhatian seorang sahabat lama. "Keliatannya muka mu wes rada mendingan timbang pas ketemu nang aula wingi. Arep pesen opo iki? Teh opo kopi?"

"Cukup teh tawar hangat ae, Ran. Lagi ora pengen ngombe sing legi-legi," balas Fathan jujur.

Sembari menunggu pelayan kafe datang membawa pesanan, Fathan menarik napas panjang, menatap cangkir kosong di hadapannya dengan pandangan menerawang jauh. Di dalam benaknya, ia sudah mempersiapkan diri untuk menerima sekuntum ceramah panjang, petuah-petuah agama yang kaku, atau nasihat moral standar yang biasanya disampaikan oleh seorang ustazah kepada orang yang sedang putus asa menghadapi jalan buntu kehidupan. Fathan mengira Kirana akan menceramahinya agar lebih sabar, menyuruhnya instrospeksi diri, atau bahkan menghakiminya karena sempat menyerah pada keputusasaan beberapa waktu lalu.

"Ran... aku iki sakjane wong sing gagal total," ucap Fathan tiba-tiba membuka percakapan dengan nada suara parau dan pandangan tertunduk lesu. "Gagal mergo jarak karo Varisha, gagal total mergo dendam keluarga pas aku nyedak Chafia. Uripku koyok diatur gawe lara ati tok."

Kirana tidak langsung menyela. Ia mendengarkan keluh kesah itu dengan seksama, membiarkan Fathan menumpahkan sisa-sisa kepahitan yang masih bersarang di dalam dadanya. Fathan menunggu benturan kata-kata nasihat atau teguran keras dari sang ustazah muda tersebut.

❖ ❖ ❖

Pelayan kafe datang membawa nampan berisi pesanan mereka—dua cangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan uap tipis dan sepiring kecil kue lapis legit tradisional. Kirana mengucapkan terima kasih dengan ramah kepada pelayan tersebut, lalu mempersilakan Fathan untuk menikmati minumannya terlebih dahulu.

Fathan meraih cangkir teh di hadapannya, menyesap sedikit cairan hangat itu untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Ia menatap Kirana lekat-lekat, bersiap menerima gelombang ceramah keagamaan yang menurutnya pasti akan segera meluncur dari bibir perempuan itu.

"Kowe ngarepno aku ceramahi kowe dawa-dawa ta, Fathan?" tanya Kirana tiba-tiba, seolah bisa membaca isi kepala Fathan yang sedang berkecamuk tanpa henti.

Fathan terperanjat kecil, mengerjap menatap Kirana. "Eh? Ya... aku yo mikir ngono, Ran. Biasane wong sing dadi ustazah kan senengane menehi petuah, nyuruh sabar, utawa ngoreksi salah ku pas ngadhepi masalah."

Kirana tertawa renyah, suara tawanya begitu ringan dan menyegarkan, kontras dengan suasana hati Fathan yang kelam. "Hahaha, mbok kiro aku iki guru BK opo hakim pengadilan? Ora usah kakehan mikir ngono, Fathan. Aku teka mrene ora gawe dadi penceramahmu, tapi gawe dadi kanca pendengarmu."

Kalimat itu telak menghantam logika Fathan. Ia tertegun, menatap sosok di hadapannya dengan rasa heran yang bercampur kelegaan luar biasa. Titik jepit pertama ini mengendurkan ketegangan otot-otot di leher Fathan yang selama ini selalu kaku setiap kali ia harus menceritakan kegagalan hidupnya kepada orang lain. Tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada nada suara merendahkan, dan tidak ada tuntutan agar ia harus terlihat kuat di hadapan seorang tokoh agama.

"Aku wes kakehan ngrungokake wong liya ngomong apik tok, Ran. Tapi asline atiku remuk ora keruan," aku Fathan dengan suara jujur, membiarkan kerapuhannya terlihat tanpa ditutupi topeng profesional.

"Paham aku, Fathan. Kadang sing dibutuhkan wong pas lagi ketiban susah iku dudu ceramah suwe utawa dalil sing muluk-muluk. Sing dibutuhkan wong lara iku mung kuping sing gelem ngrungokake tanpa motong omongan," timpal Kirana bijak, mengambil cangkir tehnya lalu menyesapnya perlahan.

Fathan merasa dunianya seolah diberi ruang bernapas yang lebih luas. Selama ini, ia selalu merasa harus memikul beban hidupnya seorang diri, berdiri di bawah hujan deras tanpa payung, dan menelan ludah kepahitan tanpa boleh mengeluh. Namun hari ini, di hadapan seorang sahabat masa kecil yang kini menjadi pendengar setia, Fathan menyadari bahwa kelegaan terbesar tidak datang dari jawaban atas segala masalah, melainkan dari keberanian untuk mengakui kelemahan di depan orang yang tepat.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya