Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

Embun di Pagi yang Gersang

Malam di kota Palembang telah bergeser jauh menuju detik-detik menjelang dini hari ketika Fathan memarkirkan sedan hitamnya di halaman apartemen tempat ia tinggal. Suasana di luar terasa begitu lengang dan sejuk, menyisakan sisa-sisa angin malam yang berembus pelan menerpa dedaunan pohon palem di sekitar gedung. Berbeda dari malam-malam sebelumnya yang selalu dipenuhi oleh kepedihan, rasa sesak yang mencekat, dan keputusasaan sempurna yang membatu di rongga dadanya, malam ini ada sensasi aneh yang menyelimuti sekujur jiwa Fathan. Dadanya terasa begitu lapang, seolah beban berton-ton yang selama ini menghimpit paru-parunya tiba-tiba terangkat lenyap tak bersisa.

Pertemuan tak terduga dengan Laila Shasmira—sahabat masa kecilnya dari kompleks perumahan sederhana di Surabaya yang kini telah bertransformasi menjadi seorang ustazah bijak—bukanlah sekadar reuni nostalgia biasa. Pertemuan itu bekerja bagaikan tetesan embun pagi yang jatuh di atas tanah tandus dan gersang. Di dalam genggaman tangannya saat ini, layar ponselnya menyala lembut, menampilkan sebuah kontak baru yang baru saja ia simpan dengan penuh takzim: Laila Shasmira Surabaya. Tidak ada lagi rasa hampa atau keinginan untuk mengisolasi diri dari dunia luar. Yang ada hanyalah kelegaan batin yang teramat sangat, mengalir lembut menyusuri setiap pembuluh darahnya setelah sekian lama hidup dalam kegelapan emosional yang panjang.

Fathan melangkah keluar dari mobil, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan udara malam mengisi rongga dadanya secara utuh tanpa ada rasa sakit yang menyayat. Ia berdiri sejenak di bawah temaram lampu pilar gedung apartemen, meresapi perubahan drastis yang terjadi di dalam batinnya. Selama berbulan-bulan, ia mengira bahwa dirinya telah mati rasa secara permanen, bahwa tidak akan pernah ada lagi celah bagi cahaya untuk masuk ke dalam hatinya yang telah digembok rapat oleh luka-luka masa lalu bersama Nisa, Varisha, dan Chafia.

"Wis suwe banget aku ora ngrasakake lego sing sak tenane iki..." gumam Fathan pelan, melafalkan kalimat dalam bahasa Jawa logat Surabaya yang sudah lama tidak ia ucapkan secara sadar.

Ia melangkah masuk ke dalam lobi apartemen dengan langkah yang terasa begitu ringan, seolah gravitasi bumi kehilangan kuasanya atas tubuhnya. Sesampainya di dalam unit kamar minimalisnya, ia tidak langsung merebahkan diri di atas sofa seperti kebiasaannya tiap malam. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap lurus ke arah layar ponsel yang masih menyala terang menampilkan nama Laila. Ada sebuah ketenangan mutlak yang merayap di dalam kepalanya, menghapuskan segala amarah, dendam, dan rasa bersalah yang selama ini menghantui hari-harinya.

❖ ❖ ❖

Di dalam keheningan kamar yang ditemani cahaya lampu tidur berwarna kuning temaram, Fathan mulai merenungkan kembali perjalanan hidupnya yang berliku-liku. Ia teringat bagaimana ia sempat menyalahkan waktu sebagai algojo kejam yang selalu memisahkan dirinya dari kebahagiaan. Di Jakarta, waktu merenggut cintanya bersama Nisa melalui jarak dan ego karier. Di Bandung, waktu mempertemukannya dengan Varisha dalam benturan ambisi intelektual yang berujung pada ketakutan purba. Dan di Palembang, waktu seolah menertawakan usahanya saat ia harus merelakan Chafia di simpang jalan restu keluarga. Selama ini, Fathan selalu percaya bahwa waktu adalah entitas yang menyembuhkan segala luka jika dibiarkan berjalan cukup lama.

Namun, malam ini, pemahaman itu mengalami pergeseran filosofis yang amat dalam di dalam benaknya. Fathan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum simpul menatap cangkir kopi dingin di atas meja kerjanya.

"Ternyata aku wis salah kaprah suwe banget..." bisik Fathan pada dirinya sendiri.

Waktu, pada kenyataannya, tidak pernah menyembuhkan apa-apa. Waktu hanyalah sebuah garis lurus netral yang terus berputar tanpa memiliki daya apa pun untuk merawat luka batin manusia. Waktu hanya bertugas menimbun kenangan, membungkus kepedihan dengan kesibukan, dan membiarkan luka itu bernanah di dalam gelap jika tidak ditangani dengan benar. Buktinya, bertahun-tahun berlalu sejak kegagalannya di Jakarta, luka itu tetap ada dan meledak kembali ketika ia berada di Bandung dan Palembang.

Lantas, jika bukan waktu yang menyembuhkan, lalu apa yang mengubah dunianya malam ini? Jawabannya hadir begitu terang di dalam kepalanya: Tuhan. Sang Pencipta tidak menyembuhkan luka manusia sekadar dengan membiarkan kalender berganti halaman. Tuhan bekerja dengan cara yang jauh lebih elegan dan misterius—Ia menghadirkan orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada detik yang paling sunyi dan rapuh di dalam hidup seseorang. Dan orang itu adalah Laila, sahabat kecil dari masa lalu yang datang membawa cermin kebenaran ketika Fathan berada di titik keputusasaan yang paling sempurna.

❖ ❖ ❖

Fathan merebahkan punggungnya ke sandaran kursi kerja, menutup matanya sejenak untuk membiarkan gelombang refleksi tersebut meresap ke dalam sanubarinya. Ia teringat bagaimana Laila dengan sabar mendengarkan seluruh keluh kesahnya di teras samping masjid tadi, lalu menampar batinnya dengan kalimat-kalimat bijak yang menohok tanpa sedikit pun menghakimi. Laila tidak menawarkan cinta romantis yang penuh drama seperti kisah-kisahnya di masa lalu; Laila menawarkan ketulusan spiritual, kejujuran batin, dan pengingat tentang arti tawakal yang sesungguhnya.

"Arek iku bener-bener dadi berkah sing ora disangka-sangka," ucap Fathan lirih, kembali menggunakan logat bahasa Jawa Surabaya yang akrab di lidahnya saat merasa sangat dekat dengan akar masa lalunya.

Lihat selengkapnya