Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #66

Siluet di Layar Ponsel

Malam di kota Surabaya kembali merayap tenang, membawa angin sepoi-sepoi yang berhembus melalui jendela apartemen Fathan yang terbuka setengah. Di atas meja kerjanya yang kini jauh lebih rapi dibanding bulan-bulan sebelumnya, layar ponsel pintar berukuran sedang menyala terang menampilkan aplikasi pesan singkat. Fathan duduk bersandar di kursi kerjanya, menatap deretan gelembung teks digital berwarna hijau yang baru saja masuk dari kontak bernama Laila. Rutinitas kecil yang sudah berjalan selama beberapa pekan terakhir ini telah menjadi semacam suplemen emosional yang menenangkan bagi Fathan setelah kepergian mendadak Chafia kembali ke Palembang beberapa waktu lalu.

Percakapan di antara mereka mengalir begitu ringan, tanpa beban, dan melintasi berbagai topik hangat. Mulai dari obrolan nostalgia mengenang masa-masa kecil mereka di kampung halaman—ketika mereka sering berebut mangga manis di halaman belakang rumah—hingga hal-hal sederhana seputar rutinitas harian Laila sebagai seorang pendakwah muda dan aktivis sosial yang kerap berpindah kota. Bagi Fathan, bertukar pesan dengan Laila memberikan kenyamanan yang sudah lama hilang; tidak ada tuntutan silsilah keluarga yang rumit, tidak ada ancaman hukum yang mencekam, dan tidak ada intrik masa lalu yang menghakimi.

"Fan, opo awakmu ijek eling wit mangga mburi omah sing biyen kerep dipanjat bocah-bocah? Saiki wit e ketoke wis ditebang, ganti bangunan toko," tulis Laila dalam pesan singkatnya, disusul emoji tertawa kecil yang mencairkan suasana. (Fan, apa kamu masih ingat pohon mangga belakang rumah yang dulu sering dipanjat anak-anak? Sekarang pohonnya kayaknya sudah ditebang, ganti bangunan toko.)

Fathan tersenyum tipis membaca pesan tersebut, jemarinya bergerak lincah membalas dengan cepat. "Yo cetha eling o, Lai. Mosok aku lali, wong biyen kowe tau tiba saka wit kono pas ngejar manuk emprit nganti nangis bombay," balas Fathan sambil terkekeh pelan di dalam kamar yang sunyi. (Ya jelas ingatlah, Lai. Masa aku lupa, orang dulu kamu pernah jatuh dari pohon burung emprit sampai nangis bombay.)

"Heh, ojo mbok baleni crita era purba iku!" balas Laila cepat dengan nada candaan yang akrab. (Heh, jangan diulangi cerita era purba itu!)

Tawa kecil Fathan perlahan mereda begitu ia mengunci layar ponselnya. Di balik gelombang obrolan yang menyenangkan itu, sebuah perasaan ganjil tiba-tiba menyusup masuk ke dalam benaknya. Fathan membuka aplikasi media sosial milik Laila, menatap profil perempuan itu yang dipenuhi oleh ribuan pengikut setia, video-video dokumentasi dakwah inspiratif di berbagai kota besar, serta banjir pujian publik dari para jemaah yang mengagumi keluasan ilmu dan kelembutan tutur kata Laila.

Melihat pencapaian gemilang tersebut, muncul rasa ciut yang perlahan menggerogoti dinding dadanya. Fathan merasa dirinya kini hanyalah seorang arsitek biasa yang sempat tersandung masalah hukum dan nyaris kehilangan arah, sementara Laila telah tumbuh menjadi sosok perempuan terpandang yang memberikan pencerahan bagi banyak orang. Kesenjangan status sosial dan pencapaian hidup itu mendadak membentang luas di antara mereka, menciptakan jarak tak kasat mata yang membuat Fathan merasa semakin kecil di hadapan sahabat masa kecilnya sendiri.

❖ ❖ ❖

Fathan meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan lambat, lalu memijit pelipisnya yang mendadak terasa sedikit pusing. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa minder yang tiba-tiba menguasai kepalanya. Bayangan tentang siluet Laila di atas panggung ceramah besar dengan ribuan jemaah yang mendengarkan setiap patah katanya terus berkelebat di dalam benaknya, membandingkan kontras kehidupan mereka yang kini bagaikan bumi dan langit.

Ponselnya kembali berdering pelan menandakan panggilan masuk berbentuk panggilan video dari Laila. Fathan tertegun sejenak, menatap layar yang menampilkan foto profil Laila dengan latar belakang panggung seminar Islami. Ia sempat ragu apakah harus mengangkatnya atau membiarkan panggilan itu berlalu begitu saja karena rasa tidak percaya diri yang mendadak mencengkeram hatinya.

Namun, sebelum deringan itu berhenti, Fathan akhirnya menekan tombol hijau dan menggeser layar untuk menyambungkan panggilan video tersebut.

"Halo, Fan... Kok suwe diangkat? Opo awakmu ijek sibuk nyambut gawe wengi-wengi ngene?" sapa suara lembut Laila dari ujung layar, tampak mengenakan jilbab abu-abu rapi di dalam ruang kerjanya yang dipenuhi tumpukan buku referensi tebal. (Kok lama diangkat? Apa kamu masih sibuk kerja malem-malem gini?)

Fathan merapikan kerah bajunya sedikit, tersenyum hambar di balik kamera ponsel. "Ora, Lai. Aku lagi bar wae rampung maca draf rancangan gedung. Kowe dhewe lagi opo, ketok e sibuk banget akhir-akhir iki," jawab Fathan berusaha menutupi nada suara canggungnya. (Enggak, Lai. Aku lagi baru aja selesai baca draf rancangan gedung. Kamu sendiri lagi apa, kelihatannya sibuk banget akhir-akhir ini.)

Laila tersenyum ramah, memperlihatkan lesung pipi kecil di sudut bibirnya. "Iya nih, Fan. Persiapan materi dakwah mingguan keliling kota Jawa Timur. Rasanya lumayan nguras tenaga, tapi alhamdulillah seru," jawab Laila antusias. Lantas, sorot mata Laila menyipit menangkap ekspresi wajah Fathan yang tampak murung di balik layar. "Fan... awakmu iki kok ketok e meneng ae? Opo ana masalah maneh karo proyekmu nang Surabaya?" tanya Laila dengan kepekaan batin yang sangat tajam. (Kamu ini kok kelihatannya diam aja? Apa ada masalah lagi sama proyekmu di Surabaya?)

Titik jepit pertama ini menjepit mental Fathan di hadapan cermin kesuksesan Laila. Di saat Laila terbang tinggi membawa misi pencerahan umat dan mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat, Fathan merasa dirinya masih bergulat dengan sisa-sisa trauma masa lalu dan rasa rendah diri yang akut. Ia merasa tidak pantas berdiri sejajar dengan perempuan sebaik dan semapan Laila saat ini.

"Ora ana masalah apa-apa kok, Lai. Aku mung rada kesel sithik wae," kilah Fathan berbohong halus, menghindari agar Laila tidak membaca rasa minder yang sedang menggerogoti harga dirinya. (Enggak ada masalah apa-apa kok, Lai. Aku cuma agak capek sedikit aja.)

Laila menatap layar ponselnya lekat-lekat, seolah bisa menembus lapisan kata-kata penolakan Fathan. "Ojo kakehan mikir sing abot-abot, Fan. Wong urip iku ora perlu dibandhing-bandhingno karo capaian wong liya. Kabeh duwe porsine dewe-dewe saka Gusti Allah," nasihat Laila lembut bernada bijak khas seorang pendakwah yang menyejukkan hati. (Jangan kebanyakan mikir yang berat-berat, Fan. Orang hidup itu nggak perlu dibanding-bandingin sama capaian orang lain. Semua punya porsinya sendiri-sendiri dari Allah.)

❖ ❖ ❖

Percakapan video call malam itu berakhir setelah hampir satu jam berlalu, meninggalkan Fathan dalam keheningan ruang kerjanya yang kembali terasa sesak. Kata-kata Laila tentang "porsi masing-masing dari Gusti Allah" justru berdengung kencang di dalam kepala Fathan, memicu perenungan mendalam mengenai posisinya di dunia ini. Ia merasa telah tertinggal jauh di belakang; sementara Laila melangkah maju menapaki tangga kemuliaan sosial dan spiritual, Fathan merasa dirinya berjalan di tempat, terjebak di antara puing-puing kegagalan masa lalunya bersama Chafia di Palembang.

Keesokan paginya, ketika Fathan sedang meminum kopi hitam panas di sebuah kafe sudut kawasan Gubeng sebelum berangkat meninjau lokasi proyek konstruksi, jemarinya tanpa sadar kembali membuka aplikasi media sosial. Di beranda utamanya, sebuah video siaran ulang ceramah Laila di hadapan ribuan jemaah universitas Islam negeri di Surabaya muncul di posisi teratas dengan ribuan tanda suka dan komentar pujian dari netizen.

Fathan menggeser layar ponselnya, membaca satu per satu komentar pujian yang memuji kecerdasan, keanggunan, dan kedalaman ilmu agama Laila. Ada rasa bangga di dalam dadanya sebagai sahabat masa kecil, namun di saat bersamaan, rasa ciut itu kembali menghujam tajam, menempatkannya pada titik jepit tengah yang paling menyiksa: dilema antara kekaguman yang tulus dan rasa rendah diri yang merusak harga diri seorang pria.

Lihat selengkapnya