Malam hari di sebuah kawasan permukiman tenang di pinggiran Jakarta Selatan menawarkan keheningan yang kontras dengan hiruk-pikuk dunia agensi periklanan tempat Fathan menghabiskan hari-hari kerjanya. Fathan duduk bersila di atas sajadah di kamar kosnya yang sederhana, memandangi pantulan cahaya lampu meja belajar yang menerangi lembaran-lembaran sketsa desain grafis di atas meja. Pertemuan tak terduga dengan Laila di lobi hotel mewah Kuningan beberapa waktu lalu—yang awalnya membawa gelombang nostalgia hangat masa kuliah di Surabaya—kini perlahan-lahan berubah menjadi sebuah beban pemikiran yang mendalam dan melelahkan bagi batinnya.
Sejak hari pertemuan itu, Fathan mulai sengaja menarik garis batas yang tegas. Ia mulai membatasi frekuensi balasan pesan teks, menolak beberapa ajakan minum kopi santai dengan dalih tenggat waktu pekerjaan kantor yang menumpuk, dan menjaga jarak aman setiap kali mereka tak sengaja berpapasan di forum profesional. Bagi Fathan, Laila bukanlah lagi sekadar kawan lama dari masa lalu; perempuan itu telah bertransformasi menjadi sosok terhormat yang sangat jauh berbeda dari kehidupannya saat ini. Laila dikenal luas sebagai seorang figur publik yang religius, pembicara seminar inspiratif, bahkan kerap aktif membimbing majelis taklim serta kegiatan keagamaan di kalangan profesional muda ibu kota.
"Duh, Fathan... Asline kowe iki lapo to kok malah mlayu teka Laila? Goblok temen dadi wong!" gumam Fathan pelan merutuki sikap defensifnya sendiri sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.
Pintu kamar kosnya diketuk pelan dari luar, disusul oleh suara sapaan akrab khas Surabaya yang langsung membuyarkan lamunannya. Bagas, sahabat setianya yang kebetulan sedang melintas mengantarkan dokumen arsitektur, membuka sedikit gagang pintu kamar kos Fathan tanpa menunggu izin lebih lama.
"Heh, Fan! Jik urip ta kowe? Diceluk-celuk pesenku ra dibales, malah meneng ae kaya wong linglung nang kamar peteng gulita iki," protes Bagas santai sambil melangkah masuk dan langsung mendudukkan diri di atas kursi plastik dekat meja kerja Fathan.
Fathan menghela napas panjang, melipat sajadah lalu merapikannya ke atas rak sudut kamar. "Ora apa-apa, Gas. Aku mung lagi kepingin ngaso tenang wae, ora pengen pating sleler metu-metu."
"Ngaso opo sing mbok karepno? Seminggu iki kowe koyok wong kebingungan, ngadoh teka sapa wae, kalebu Laila sing wingi crito nang aku kangen kumpul bareng kowe," cecar Bagas tanpa tedeng aling-aling, menatap tajam sahabatnya dengan mata menyelidik.
Fathan menggeleng pelan, wajahnya tampak lelah menahan beban batin yang berkecamuk di dalam dadanya. "Aku ora pantes cedhak-cedhak karo Laila maneh, Gas. Kahanan urip lan drajat kita saiki wis adoh banget bedane."
❖ ❖ ❖
Pernyataan Fathan membuat Bagas tertegun sejenak, menghentikan niat sahabatnya itu untuk terus melontarkan candaan. Bagas menyadari ada luka lama yang kembali bernanah di balik sikap dingin Fathan. Jurang pemisah yang dibayangkan Fathan bukanlah sekadar jarak geografis, melainkan sebuah benteng perbedaan dunia yang sangat nyata di mata Fathan—antara dirinya yang compang-camping dengan masa lalu berdarah-darah, dan Laila yang bersinar terang sebagai teladan umat.
"Maksudmu piye, Fan? Laila kuwi tetep Laila sing biyen biyen mbok kenal nang kampus Surabaya, dudu ratu kraton sing oraoleh disalami wong biasa," sanggah Bagas dengan nada serius namun tetap santai.
Fathan berdiri dari tepi kasurnya, berjalan mendekati jendela kaca kecil yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. "Kowe ora ngerti posisiku, Gas. Laila saiki wis dadi tokoh penting, ustazah panutan sing diajeni akeh wong merkara kawruh agama lan kalakuan apike. Lha aku? Aku iki mung wong sing uripe tau ambruk, gonta-ganti patah hati, mental compang-camping merkara sisa-sisa dendam bisnis lan lara ati masa lalu."
Bagas menghela napas berat mendengar penjelasan panjang lebar dari sahabatnya itu. Ia tahu betul betapa kerasnya Fathan menghakimi dirinya sendiri setiap kali ia merasa tidak layak untuk bahagia.
"Kowe iki kakehan mikir sing elek-elek, Fan! Minderan sing kebaben malah marai kowe ngrusak kesempatan apik dewe," kritik Bagas blak-blakan dengan logat Suroboyo yang kental. "Laila rak tau njaluk kowe dadi wong sugih utawa wong suci. Dewe'ke mung butuh kanca lawas sing isa ngancani crita urip neng perantauan."
Fathan menggeleng kuat-kuat, sorot matanya menyiratkan ketakutan batin yang mendalam. "Ora semudah kuwi, Gas. Aku wis cukup ngrasakno perihne dituduh lan ditolak karo kulawarga sing drajate luwih dhuwur wektu aku cedhak karo Chafia biyen. Aku ora pengen mbaleni kesalahan sing padha karo Laila."
Refleksi waktu berputar cepat di kepala Fathan. Dalam keheningan malam itu, ia merasa waktu telah mencatat garis takdir mereka di orbit yang sepenuhnya berbeda. Laila bergerak di lintasan cahaya yang suci dan terhormat, sementara dirinya berputar di orbit sisa-sisa reruntuhan emosi masa lalu. Memaksa kedua orbit itu bersatu kembali hanya akan menciptakan kehancuran baru yang lebih menyakitkan bagi keduanya.
"Pokok e aku wis putus keputusan, Gas. Aku bakal tetep mbatesi awakku saking Laila, sadurunge kabeh dadi tambah rumit lan kleru," ucap Fathan final dengan nada suara yang tidak bisa diganggu gugat.
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, suasana di kantor agensi periklanan tempat Fathan bekerja terasa sangat sibuk. Tenggat waktu proyek kampanye digital nasional menuntut seluruh tim untuk bekerja lembur dan fokus penuh. Fathan duduk di depan layar komputer kerjanya, jemarinya lincah menggerakkan tetikus menyusun tata letak visual iklan, berusaha mengalihkan pikirannya dari perdebatan batin semalam bersama Bagas. Namun, kedamaian semu itu mendadak terusik ketika ponsel di atas meja berdering menampilkan nama Laila pada layar panggilannya.