Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Undangan Kajian Terbuka

Pagi itu, dering ponsel di atas meja kayu kamar Fathan berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan yang sejak semalam ditemani tumpukan dokumen proyek. Layar ponsel itu berpendar terang, menampilkan sebuah pesan singkat dari Laila—sahabat lamanya di Surabaya yang beberapa waktu lalu sempat mendengarkan segala kepedihan hatinya di sudut teras masjid yang sepi.

Fathan, yang baru saja selesai merapikan meja kerjanya, meraih ponsel tersebut dengan sebelah tangan. Matanya menyapu barisan kalimat yang dikirimkan oleh perempuan berjilbab rapi itu. Laila mengundang Fathan secara khusus untuk menghadiri sebuah kajian akbar terbuka yang akan diselenggarakan di aula besar gedung Islamic Center Surabaya lusa malam.

"Fath, sesok bengi ana kajian akbar nang aula gedhe Islamic Center. Aku dadi salah siji panitia nang kono. Lek gak sibuk, teka o yo, arek-arek kumpul kabeh nang kono," bunyi pesan dari Laila.

Alih-alih merasakan kelegaan atau antusiasme seperti seorang teman yang mendukung acara sahabatnya, Fathan justru merasakan gelombang ketidaknyamanan yang mendadak merayap naik dari perutnya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, dan napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Fathan terdiam kaku menatap layar ponsel, sementara pikirannya langsung melayang membayangkan pemandangan aula yang dipadati ratusan orang berpakaian serba putih, duduk bersila dengan tasbih di tangan, mendengarkan lantunan ayat suci dan ceramah keagamaan dengan khusyuk.

"Aduh, laopo pisan kon ngajak aku nang panggonan ngunu iku, La," gumam Fathan pelan, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar.

Bagi sebagian orang, undangan kajian terbuka adalah sarana menenangkan jiwa dan mencari pencerahan. Namun bagi Fathan, undangan tersebut terasa bagaikan panggilan sidang pengadilan batin yang menakutkan. Ia langsung membayangkan dirinya harus duduk di antara ratusan orang saleh dan jemaah yang tampak begitu suci di mata publik.

Di dalam benaknya, Fathan mulai menghakimi dirinya sendiri dengan tingkat kebencian yang luar biasa tajam. Ia merasa dirinya adalah penipu terbesar di muka bumi—seorang lelaki yang membawa segunung beban dosa masa lalu, luka percintaan yang gagal bersama Nisa, kepedihan korporat dengan Varisha, hingga bayang-bayang masa lalu keluarga Chafia di Palembang yang belum sepenuhnya tuntas.

"Aku iki sopo? Teka nang majelis ilmu tapi atine isih kebak rereged lan keputusasaan," batin Fathan merutuki diri sendiri dengan nada sinis. Rasa rendah diri yang akut tiba-tiba mengurungnya di dalam sangkar kecemasan yang ia ciptakan sendiri. Fathan merasa kehadirannya di tengah orang-orang saleh nanti hanya akan menjadi noda kotor yang mencemari kesucian ruangan tersebut, layaknya bangkai yang menyamar di antara wangi kasturi.

❖ ❖ ❖

Fathan meletakkan kembali ponselnya di atas meja dengan gerakan kasar, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar hotelnya yang berukuran sedang itu. Pikirannya berkecamuk hebat, terjebak di antara rasa ingin menghormati undangan Laila dan ketakutan irasional akan penghakiman sosial yang akan ia terima jika orang-orang tahu siapa dirinya sebenarnya.

"Lek aku teka, opo yo pantes lungguh jejer wong-wong sing taat ngunu iku?" suara hatinya terus berbisik getir, mempertanyakan kelayakannya sebagai manusia.

Ia teringat kembali pada kejadian beberapa waktu lalu di masjid agung Surabaya, di mana ia sempat menghakimi para jemaah sebagai orang-orang riya yang pamer kesalehan. Meskipun Laila sudah membuka matanya lebar-lebar bahwa tidak semua orang berniat buruk, trauma psikologis Fathan terhadap institusi keagamaan dan tatapan menghakimi dari masyarakat ternyata belum sepenuhnya sembuh. Fathan merasa dirinya terpojok di sudut ruang mentalnya sendiri.

Ia meraih ponselnya lagi, mengetik sebuah balasan penolakan halus untuk dikirimkan kepada Laila: “La, maaf banget ya. Kayaknya aku nggak bisa dateng ke kajian itu. Jadwal kerjaku lagi padet banget, takut nggak sempat.”

Namun, sebelum jari telunjuknya menekan tombol kirim pada layar sentuh, Fathan mendadak ragu. Ia teringat bagaimana Laila menatapnya penuh kesabaran di teras masjid malam itu—bagaimana perempuan tersebut mendengarkan seluruh keluh kesahnya tentang Nisa, Varisha, dan Chafia tanpa sedikit pun menghakimi. Menolak undangan Laila secara pengecut hanya karena takut pada bayangan sendiri terasa seperti sebuah pengkhianatan terhadap persahabatan mereka.

"Mosok kon dadi wong wedi sing mlayu tekan masalah maneh, Fath?" tegur Fathan pada dirinya sendiri dengan suara tertahan.

Tidak lama kemudian, ponsel di tangannya berdering tiba-tiba. Panggilan suara masuk langsung dari Laila. Fathan terkesiap kecil, menatap layar yang menampilkan nama sahabatnya itu berkedip-kedip. Dengan tangan sedikit bergetar, ia akhirnya menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, La..." sapa Fathan dengan suara yang sengaja diatur agar terdengar tenang, meskipun jantungnya berdegup kencang.

"Halo, Fath! Kok pesenmu durung mbok kirim tapi statusmu online? Kon arep nolak undanganku ta, jujuro o!" suara renyah Laila langsung meluncur dari ujung sambungan telepon, seolah bisa membaca gerak-gerik Fathan dari kejauhan dengan akurat.

Fathan tersenyum kecut mendengar terawangan sahabatnya itu. "Ah, kamu ini, La. Belum juga ngomong apa-apa udah nuduh aja," elak Fathan mencoba berkelit.

❖ ❖ ❖

Di ujung telepon, Laila tertawa kecil mendengar jawaban Fathan yang terdengar salah tingkah. Suasana cair yang diciptakan Laila sedikit banyak meredakan ketegangan di dada Fathan, meskipun rasa terpojok itu belum sepenuhnya hilang dari benaknya.

"Wis ra usah kakehan alasan, Fath. Aku apal gaya mingser-mingsermu lek lagi wedi karo siji hal," ucap Laila dengan nada yang lebih serius namun tetap bersahabat. "Kon wedi teka mergo rumongso awakmu penuh dosa, terus gak pantes lungguh nang majelis ilmu, bener ta?"

Fathan tertegun mendengar tebakan Laila yang begitu tepat sasaran. Tenggorokannya mendadak terasa kering, tidak mampu merangkai kata-kata untuk membela diri.

Lihat selengkapnya