Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #69

Menghilang dari Peredaran

Suasana di dalam ruang kerja kantor cabang arsitektur di kawasan Dago Atas itu tampak begitu senyap, diterangi oleh cahaya lampu meja berwarna putih redup. Jam dinding besar di sudut ruangan menunjukkan pukul sembilan malam, namun Fathan sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda ingin membereskan meja kerjanya atau bersiap pulang ke kosan. Di atas meja kayu jati miliknya, puluhan lembar cetak biru rancangan bangunan berserakan tak beraturan, berdampingan dengan cangkir kopi hitam yang sudah mendingin sejak beberapa jam yang lalu.

Fathan menatap layar monitor komputernya dengan tatapan kosong nan lelah. Garis-garis wajahnya mengeras, menyembunyikan pergolakan batin hebat yang sejak kemarin sore berkecamuk tanpa henti di dalam kepalanya. Pertemuan hangat di kedai teh tradisional bersama Kirana—atau yang beberapa waktu lalu sempat ia kenal dengan sapaan Laila—ternyata tidak serta-merta membuat Fathan merasa sepenuhnya tenang. Sebaliknya, kebaikan hati perempuan itu, ketulusan suaranya, serta kebijaksanaannya dalam mendengarkan setiap keluh kesah justru memicu ketakutan baru yang jauh lebih besar di dalam diri Fathan.

"Ora oleh, Fathan... kowe ora pantes nyeret wong apik koyok Laila mlebu nang kubangan uripmu sing amburadul iki," gumam Fathan pelan, melafalkan kalimat dalam bahasa Jawa gaya Surabaya sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menepis bayangan senyuman ramah perempuan tersebut.

Ia merasa dirinya ibarat duri yang siap melukai siapa saja yang mencoba mendekat. Kegagalan masa lalu—mulai dari kepergian Varisha hingga penolakan kejam keluarga Chafia—telah membentuk keyakinan di dalam batin Fathan bahwa kehadirannya di dekat orang lain hanya akan mendatangkan kesialan dan penderitaan. Laila, dengan segala kelembutan dan otoritas spiritual yang dimilikinya, terlalu bersih, terlalu suci, dan terlalu mulia untuk diseret ke dalam kekalutan hidup Fathan yang berantakan, penuh luka, dan tidak memiliki kepastian masa depan.

Ponsel pintar yang tergeletak di samping keyboard mendadak bergetar hebat, memancarkan cahaya terang di tengah temaram ruangan. Nama kontak Kirana / Laila tertera jelas di layar kaca, disertai deretan pesan WhatsApp masuk yang menanyakan kabar serta mengingatkannya agar tidak terlalu memforsir diri bekerja hingga larut malam.

Fathan menatap layar ponsel itu dengan dada bergemuruh hebat. Rasa rindu untuk membalas pesan tersebut bertarung sengit dengan rasa bersalah dan ketakutan luar biasa di dalam batinnya. Namun, pada akhirnya, ketakutan itu menang telak.

"Maafkan aku, Laila... biar aku ilang wae timbang nggawe kowe repot ngurus uripku sing rusak iki," bisik Fathan lirih dengan suara parau.

Tanpa ragu-ragu lagi, Fathan langsung meraih ponselnya, masuk ke dalam menu pengaturan, lalu memilih opsi matikan daya. Layar benda persegi panjang itu padam seketika, menyisakan kegelapan total di atas meja kerja. Mulai malam ini, Fathan memilih mangkir dari peredaran dunia luar. Ia sengaja mematikan seluruh alat komunikasinya dan tenggelam kembali secara total ke dalam kesibukan pekerjaan kantor, menjadikannya benteng pertahanan terakhir untuk mengisolasi diri dari siapa pun yang peduli padanya.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dalam keheningan yang kaku dan melelahkan bagi Fathan. Di kantor, ia menjelma menjadi sosok mesin kerja yang bergerak tanpa emosi. Setiap kali Riri mencoba mendekat untuk membawakan berkas revisi proyek atau sekadar bertanya mengenai kabar kesehatannya, Fathan selalu memasang benteng pertahanan yang dingin dan profesional.

"Fathan, wes telung ndino iki HP-mu kok ora iso dihubungi blas? Pihak panitia majelis wingi sempet nggoleki kowe, tak pikir ana apa-apa nang kosan," tegur Riri sambil meletakkan map tebal di atas meja kerja Fathan dengan ekspresi cemas.

Fathan mendongak sebentar, mempertahankan ekspresi datar di wajahnya tanpa memperlihatkan gejolak di dadanya. "Oh, maaf ya, Ri. HP-ku kemarin sempat rusak bagian baterainya, jadi sengaja kumatikan total sekalian biar aku bisa fokus nyelesaiin deadline gambar struktur iki."

Riri menatap tajam ke arah Fathan, seolah tidak percaya begitu saja dengan alasan klise tersebut. "Rusak baterai opo sengaja mbok pateni mergo kepingin ngilang? Awas lho, Fathan, wong sing mlayu soko masalah suwe-suwe bakal ketangkep karo bayangan e dhewe."

"Wis lah, Ri, ora usah dipikir nemen. Aku mung pengen fokus kerja tanpa terganggu urusan liyane," jawab Fathan singkat, mengalihkan kembali pandangannya ke lembar cetak biru di hadapannya, mengisyaratkan agar Riri menghentikan pembicaraan tersebut.

Riri menghela napas panjang tanda menyerah, lalu berbalik melangkah meninggalkan meja kerja Fathan. Selepas kepergian Riri, Fathan mengembuskan napas berat yang tertahan di dadanya. Ia tahu betul bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah bentuk pengecutan diri, namun di dalam kepalanya, itu adalah satu-satunya cara paling aman untuk melindungi Laila dari kehancuran hidupnya.

Titik jepit pertama ini menjerat kesadaran Fathan pada sebuah dilema batin yang menyiksa. Di satu sisi, ia sangat merindukan ketenangan suara dan obrolan hangat yang biasa ia rasakan saat bersama Laila. Namun di sisi lain, bayangan kegagalan masa lalunya dengan Varisha dan Chafia terus berteriak memperingatkannya agar tidak lagi mencoba merajut lembaran kedekatan dengan siapa pun.

"Ojo wani-wani nyedak, Than... kowe iki racun gawe wong sing mbok sayang," gumam Fathan pelan pada dirinya sendiri, meremas ujung meja kerjanya hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia sengaja memilih untuk menghilang dari peredaran, memutus seluruh akses komunikasi, dan membenamkan seluruh sisa tenaga serta pikirannya ke dalam tumpukan tugas arsitektur kantor. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa hidup tanpa perlu bergantung pada uluran tangan atau empati orang lain.

❖ ❖ ❖

Pekan kedua keputusasaan itu berjalan semakin berat. Meskipun Fathan mencoba menyibukkan diri sepanjang hari di kantor hingga larut malam, rasa sepi dan hampa di dalam rongga dadanya tidak kunjung mereda. Kamar kosnya yang gelap dan dingin setiap kali ia pulang menjelang tengah malam menyambutnya dengan keheningan yang mencekam.

Ia merebahkan tubuhnya yang letih di atas kasur tanpa menyalakan lampu kamar, menatap langit-langit loteng yang gelap gulita. Tidak ada lagi pesan singkat berbalut bahasa Jawa gaya Surabaya di layar ponselnya, karena ponsel itu sendiri masih tergeletak mati di dalam laci meja kerja kantornya.

"La... opo kowe saiki nesu mergo aku ngilang tanpa kabar?" bisik Fathan lirih ke dalam gelap ruangan, merasakan sesak yang teramat sangat menghimpit pernapasannya.

Lihat selengkapnya