Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Teguran yang Menembus Sunyi

Malam kembali merangkak naik, menaburkan tirai gelap di atas langit kota Palembang yang tenang setelah seharian disinari terik matahari. Fathan duduk seorang diri di ruang tamu apartemennya yang minimalis, ditemani oleh secangkir teh jahe hangat yang mengepulkan uap tipis di atas meja kayu. Suasana malam itu terasa begitu syahdu, namun di dalam benak Fathan, ketenangan fisik tersebut berbanding terbalik dengan gejolak batin yang mulai merayap pelan. Sejak pertemuan tak terduga mereka di masjid beberapa hari lalu dan pertukaran pesan singkat yang penuh kedamaian, Fathan mendapati dirinya sering kali terjebak dalam lingkaran kontemplasi yang mendalam mengenai masa lalunya.

Meskipun ia telah merenungkan bahwa waktu bukanlah penyembuh melainkan Tuhan yang menghadirkan orang yang tepat, sebuah keraguan halus masih menyelinap di balik dinding hatinya. Sebagai seorang pria yang pernah babak belur secara emosional—gagal di Jakarta bersama Nisa, terbentur ambisi di Bandung bersama Varisha, dan harus terpental di simpang jalan restu keluarga bersama Chafia di Palembang—Fathan merasa bahwa dirinya adalah sosok yang terlalu penuh noda dan compang-camping. Ia merasa tidak pantas untuk berdiri sejajar atau bahkan sekadar menjalin kedekatan lebih jauh dengan perempuan sebaik Laila Shasmira yang kini telah menjadi seorang ustazah terpandang.

"Rasane kakehan dosa lan tatu uripku iki, rasane ora pantes yen cedhak karo wong salehah kaya Laila..." gumam Fathan pelan, menggunakan logat bahasa Jawa Surabaya yang sering keluar saat ia bergumam sendiri dalam kegalauan.

Ia memandang layar ponselnya yang tergeletak diam di atas meja. Ada keinginan kuat di dalam hatinya untuk mengirim pesan terlebih dahulu kepada Laila, namun rasa minder yang berakar dari rasa bersalah atas masa lalunya selalu berhasil menahan jarinya. Fathan merasa dirinya begitu kotor di hadapan manusia, terjebak dalam bayang-bayang kegagalan masa lalu yang terus menghantui harga dirinya sebagai seorang pria. Ia mulai menarik diri secara perlahan, berniat untuk menjaga jarak aman agar tidak mencemari kemurnian hidup Laila dengan riwayat hidupnya yang berantakan.

"Wis, luwih apik aku mundur alon-alon timbang nggowo pengaruh elek kanggo arek iku," batin Fathan menguatkan keputusan sepihaknya untuk menarik diri dari lingkaran silaturahmi yang baru saja dirajut kembali.

❖ ❖ ❖

Keheningan malam di dalam apartemen itu terasa semakin menekan dada Fathan seiring berjalannya waktu. Ia berdiri dari sofa, berjalan melangkah menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu jalanan kota Palembang di kejauhan. Pikirannya melayang jauh, membandingkan betapa kontrasnya kehidupan mereka berdua saat ini. Laila berjalan di atas jalur cahaya yang lurus, bersih, dan penuh keberkahan sebagai penyampai ajaran agama. Sementara dirinya adalah sisa-sisa reruntuhan kapal pecah yang terdampar di pantai asing, membawa luka batin yang berlapis-lapis dan rekam jejak hubungan yang selalu kandas di tengah jalan.

"Opo ya pantes wong koyo aku iki nggaduh angen-angen cedhak karo wong sing resik imane?" ucap Fathan lirih pada bayangannya sendiri yang terpantul buram di kaca jendela.

Rasa rendah diri itu menjelma menjadi benteng tebal yang sengaja ia bangun sendiri. Fathan mulai meyakinkan dirinya bahwa kesendirian adalah takdir terbaik bagi seorang pendosa seperti dirinya. Ia tidak ingin menjadi beban moral atau sumber kekecewaan bagi Laila jika suatu saat perempuan itu mengetahui betapa rumit dan berantakannya isi kepala serta masa lalu Fathan. Niat baik untuk menyambung silaturahmi perlahan-lahan mulai ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan rasa minder yang akut.

Namun, di tengah-tengah pergulatan batin yang melelahkan itu, sebuah getaran lembut dari ponsel di atas meja mendadak memecah kesunyian malam. Layar ponselnya menyala terang, memancarkan notifikasi pesan masuk dari sebuah nama yang sedari tadi berputar-putar di dalam kepalanya: Laila Shasmira.

Fathan tertegun sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat, diliputi rasa kaget bercampur penasaran. Dengan tangan sedikit ragu-ragu, ia mengambil ponsel tersebut dan membuka aplikasi pesan singkat.

❖ ❖ ❖

Fathan menatap layar ponselnya dengan napas tertahan. Pesan yang dikirimkan oleh Laila bukanlah sekadar sapaan basa-basi atau pertanyaan ringan seperti hari-hari sebelumnya. Kalimat-kalimat yang tertera di sana begitu tajam, menohok langsung ke dalam relung hatinya yang paling dalam, seolah Laila mampu membaca seluruh isi kepala dan ketakutan bodoh yang sedang bergelayut di benak Fathan saat itu.

Lihat selengkapnya