
Pagi hari di kota Surabaya menyingsing bersama bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah gedung bertingkat di kawasan Gubeng. Udara terasa segar, membawa aroma embun pagi yang bergeser pelan dari permukaan kali Mas. Di dalam unit apartemen sewanya, Fathan terjaga sejak pukul tiga dini hari. Berita buruk tentang kapal feri yang membawa Chafia hilang kontak di Selat Sunda akibat amukan badai besar masih bergemuruh hebat di dalam kepalanya, menciptakan rasa panik, cemas, dan rasa bersalah yang luar biasa menyesakkan dada. Ia telah menghubungi pihak berwenang dan maskapai pelayaran terkait, namun belum ada kepastian informasi yang menenangkan mengenai nasib perempuan yang nekat menyeberang demi dirinya tersebut.
Di tengah kekacauan batin yang hampir meremukkan kewarasannya, sebuah pesan singkat dari Laila masuk semalam sebelumnya, mengabarkan bahwa ia akan mengisi sesi kajian pagi akbar bertema keteguhan hati manusia di hadapan ujian semesta, bertempat di aula utama masjid islami modern pusat kota Surabaya. Awalnya, Fathan berniat mengabaikan undangan tersebut karena pikirannya sepenuhnya tersita oleh keselamatan Chafia. Namun, setelah melalui perenungan panjang di sela-sela doa malamnya, Fathan menyadari satu hal penting: ia butuh ketenangan batin, ia butuh petunjuk moral, dan yang paling utama, ia ingin berterima kasih secara tulus kepada Laila atas segala kebijaksanaan yang telah menyelamatkannya dari rasa rendah diri beberapa hari lalu.
Didorong oleh rasa bersalah yang mendalam dan kerinduan yang jujur akan sebuah sandaran spiritual, Fathan akhirnya memutuskan melangkah keluar dari apartemennya. Mengenakan kemeja koko putih bersih berbalut celana bahan hitam, ia memacu kendaraannya menuju lokasi masjid tempat kajian Laila diselenggarakan. Sepanjang perjalanan di atas jalanan protokol Surabaya yang mulai padat oleh kendaraan roda dua, Fathan terus merapal doa di dalam hati, memohon kepada Sang Pencipta agar Chafia diberikan keselamatan di tengah gulungan ombak Selat Sunda.
Setibanya di halaman masjid besar berarsitektur megah tersebut, suasana sudah tampak sangat ramai dipadati oleh ratusan jemaah dari berbagai kalangan usia yang antusias hendak mendengarkan ceramah Laila. Fathan berjalan tenang melewati pelataran masjid yang sejuk, menitipkan alas kakinya di tempat penitipan, lalu melangkah memasuki ruang utama aula masjid yang berkarpet tebal hijau tua.
Aula utama itu telah dipadati oleh jemaah perempuan di sisi kanan dan jemaah laki-laki di sisi kiri. Fathan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari tempat duduk yang kosong. Tanpa keraguan yang berarti, ia melangkah pasti menembus barisan jemaah yang sudah duduk bersila rapi, lalu memilih duduk di barisan paling depan tepat menghadap ke arah mimbar panggung utama.
Beberapa jemaah di sekitarnya sempat menoleh heran melihat seorang pria dengan wajah lelah dan sorot mata sayu duduk di saf terdepan, namun Fathan tidak memedulikannya. Ia melipat kedua tangannya di atas paha, menundukkan kepalanya sejenak, dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang masih bergemuruh hebat.
"Mas, nderek langkung, niki saf e taksih kosong nopo sampun dipunisi tiyang?" sapa ramah seorang bapak paruh baya berpeci putih yang duduk di sebelah kanan Fathan dengan logat Jawa timuran yang khas. (Mas, numpang lewat, ini safnya masih kosong apa sudah diisi orang?)
Fathan mendongak pelan, tersenyum sopan sambil menggeser duduknya sedikit. "Monggo, Pak. Taksi kosong, dereng wonten sing lenggah," jawab Fathan ramah menggunakan bahasa Jawa halus yang fasih. (Silakan, Pak. Masih kosong, belum ada yang duduk.)
❖ ❖ ❖
Pukul delapan tepat pagi hari, panitia masjid memberikan aba-aba kecil kepada para jemaah bahwa acara kajian utama akan segera dimulai. Suara dengung percakapan di dalam aula besar itu perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian penuh khidmat yang menyelimuti seluruh ruangan. Dari balik tirai pintu samping panggung utama, sesosok perempuan anggun melangkah keluar mengenakan setelan gamis panjang berwarna putih gading dengan jilbab lebar senada yang menjuntai rapi. Itulah Laila. Ia memancarkan wibawa keilmuan yang menenangkan, melangkah tenang menuju ke arah mimbar kayu berukir di hadapan ratusan pasang mata jemaah.
Begitu Laila berdiri di balik mimbar, tersenyum ramah menyapa para jemaah yang hadir, pandangan matanya tanpa sengaja menyapu barisan saf paling depan. Dan seketika itu juga, retinanya menangkap sosok Fathan yang duduk terpaku menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Langkah napas Laila tampak tertahan sepersekian detik; ia mengenali sorot mata lelah dan kepedihan tersembunyi di balik wajah Fathan yang duduk di barisan paling depan itu.
Fathan balas menatap lurus ke arah Laila dari jarak kurang dari lima meter. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fathan tidak melihat status sosial Laila sebagai ustazah terkenal, tidak melihat ribuan jemaah di belakangnya, dan tidak melihat pencapaian media sosial yang sempat membuatnya merasa minder beberapa waktu lalu. Yang ia lihat saat ini murni adalah Laila—perempuan tulus, sahabat masa kecilnya yang paling mengerti isi kepalanya, dan manusia berhati bersih yang benar-benar memahaminya luar dalam tanpa syarat.
Laila mengalihkan pandangannya sebentar ke arah catatan kecil di atas mimbar, lalu memulai pembukaan kajian dengan suara merdu yang bergetar lembut memecah keheningan aula masjid.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh... Jemaah sekalian yang dirahmati Allah," ucap Laila tenang melalui pengeras suara, suaranya mengalun merdu memenuhi setiap sudut ruangan masjid. "Dinten niki, kita badhe sinau babagan kepiye carane manungsa nampa takdir pait tanpa kudu kelangan arah lan pangarep-arep," lanjutnya membuka materi dengan sentuhan bahasa Jawa lokal yang akrab di telinga para jemaah. (Hari ini, kita akan belajar tentang bagaimana caranya manusia menerima takdir pahit tanpa harus kehilangan arah dan harapan.)
Duduk di barisan paling depan, Fathan merasa setiap kalimat yang diucapkan oleh Laila ditujukan khusus untuk meredakan badai di dalam dadanya. Kalimat-kalimat itu tidak menggurui, melainkan merangkul jiwa Fathan yang sedang koyak akibat ketidakpastian kabar keselamatan Chafia di Selat Sunda. Titik jepit pertama ini menguji kejujuran batin Fathan di hadapan cermin keikhlasan spiritual. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk melarikan diri, meragukan diri sendiri, dan menyalahkan keadaan, padahal ketenangan sejati hanya bisa didapat ketika seseorang berani berpasrah total kepada Sang Pencipta semesta.
"Seringkali kita merasa bahwa badai ujian hidup yang kita hadapi adalah bentuk hukuman," tutur Laila lembut dari atas mimbar, matanya sekilas menatap hangat ke arah Fathan di saf terdepan. "Padahal, di balik setiap ombak besar yang memisahkan kita dari orang yang kita cintai, ada skenario pemurnian jiwa agar kita menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dan ikhlas."
Fathan menundukkan kepalanya perlahan, air mata hangat tanpa terasa menetes membasahi pipinya. Duduk di barisan paling depan membuatnya tidak bisa bersembunyi di balik topeng ketegaran palsu; ia membiarkan kerapuhannya terlihat jelas di hadapan perempuan yang mengenali luka kecilnya sejak belasan tahun silam.
❖ ❖ ❖
Sesi pemaparan materi kajian berjalan selama kurang lebih satu jam penuh, diisi dengan penjelasan mendalam mengenai kesabaran, takdir, dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan hidup. Bagi Fathan, setiap bait nasihat yang disampaikan Laila terasa bagaikan tetesan air sejuk di tengah padang pasir yang membakar kerongkongannya. Ia tidak lagi memikirkan kesenjangan status, tidak lagi merasa minder melihat mimbar megah tersebut, dan tidak lagi peduli pada pandangan jemaah lain di sekitarnya. Yang ia rasakan hanyalah kedamaian batin yang perlahan merayap masuk menggantikan kepanikan akut di dalam dadanya.
Menjelang akhir sesi kajian, panitia membuka kesempatan tanya jawab bagi para jemaah yang hadir di ruangan. Suasana aula tampak antusias ketika beberapa orang mengacungkan tangan ingin bertanya seputar permasalahan hidup dan keluarga. Namun, di tengah jeda pergantian penanya tersebut, Laila secara khusus menghentikan sejenak mikrofonnya, lalu menatap lurus ke arah barisan saf depan tempat Fathan duduk bersila.
"Sebelum kita buka sesi tanya jawab umum, saya ingin menyapa salah satu sahabat lama saya yang hari ini duduk di barisan paling depan," ucap Laila tenang namun tegas, membuat ratusan pasang mata jemaah di dalam aula serentak menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan sang ustazah.
Fathan tertegun kaget di tempat duduknya. Jantungnya berdegup kencang seketika karena merasa menjadi pusat perhatian seluruh isi ruangan masjid. Ia ingin menunduk menyembunyikan wajahnya, namun tatapan mata Laila yang teduh dan penuh dukungan mengunci gerakannya.