Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

Pengakuan di Bawah Lampu Jalan

Malam minggu di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menghadirkan suasana yang tenang dan syahdu setelah hujan rintik-rintik sempat membasahi jalanan aspal sore tadi. Di halaman luas sebuah gedung yayasan keagamaan modern, sebuah acara seminar kepemudaan dan diskusi kreatif baru saja selesai diselenggarakan. Para tamu undangan, tokoh masyarakat, serta jemaah muda tampak berhamburan keluar gedung sambil bersalaman dan mengucapkan selamat kepada para pembicara utama. Di antara kerumunan orang yang lalu-lalang, Fathan berdiri seorang diri di dekat area parkiran kendaraan, bersandar pada pilar beton dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jaket kulitnya.

Wajah Fathan tampak menyiratkan kelelahan batin yang mendalam. Selama jalannya acara tadi, ia sengaja memilih duduk di barisan paling belakang, menghindari sorotan lampu panggung, dan mengamati Laila yang tampil begitu memukau, anggun, serta penuh wibawa saat menyampaikan materi di hadapan ratusan audiens. Setiap kata yang meluncur dari bibir Laila memancarkan kedalaman ilmu dan ketulusan jiwa yang membuat Fathan merasa jarak di antara mereka semakin membentang jauh. Sisa-sisa trauma masa lalu, kegagalan cinta dengan Chafia, serta rasa minder yang akut akibat sejarah hidupnya yang compang-camping kembali bergemuruh hebat di dalam dadanya.

"Heh, Fathan! Jik meneng ae kowe neng kono kaya wong bingung kelangan teko!" sebuah suara lembut namun familier memecah lamunannya dari arah samping.

Fathan menoleh dan mendapati Laila sudah berdiri di dekatnya. Perempuan itu mengenakan setelan gamis abu-abu muda dengan balutan jilbab rapi, membawa sebuah tas jinjing kecil di tangan kanannya. Meskipun baru saja selesai memimpin acara besar yang menguras energi, wajah Laila tetap memancarkan senyuman hangat yang sama sekali tidak berubah sejak masa-masa kuliah mereka di Surabaya bertahun-tahun lalu.

"Eh, wis rampung ta acarane, Lai? Kelihatan banget lek kowe bar kerja keras neng panggung," sapa Fathan kikuk, mencoba memasang senyum tipis untuk menutupi kegugupan di dadanya.

Laila tertawa kecil, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu meter saja. "Iyo, alhamdulillah lancar kabeh. Lha kowe kok malah meneng wae neng parkiran? Ora mulih sakdurunge acara rampung?" tanya Laila sambil menatap tajam mata Fathan seolah bisa membaca isi kepalanya yang sedang kusut.

Fathan mengalihkan pandangannya ke arah lampu-lampu jalan kota yang mulai berpijar terang di tengah kegelapan malam. "Aku ora wani mlebu ngarep, Lai. Aku luwih nyaman neng buritan, ndelok kowe saka kadohan."

❖ ❖ ❖

Pernyataan Fathan membuat senyuman di wajah Laila perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata penuh empati yang sangat dalam. Laila sangat mengenali watak sahabat masa lalunya itu; di balik sikap keras dan topeng dingin yang sering dipamerkan Fathan kepada dunia luar, tersimpan sebuah kerentanan jiwa yang luar biasa rapuh akibat luka-luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.

"Maksudmu apa ngomong kaya ngono, Fan? Kowe ki nggantheng, pinter, kerjone mapan, tapi kenapa tansah ngrasa paling rendah yen ana cedhakku?" protes Laila dengan nada lembut menggunakan logat Surabaya yang khas.

Fathan menghela napas panjang, menundukkan kepala menatap sepatu ketsnya yang basah terkena genangan air sisa hujan. "Kowe ora ngerti posisiku, Lai. Kowe iku ustazah terhormat, wong sing uripe suci, diajeni akeh wong, lan duwe masa depan sing resik. Lha aku? Aku mung wong sing uripe tau ambruk, gonta-ganti patah hati, lan gawan sejarah kulawarga sing kebak dendam bisnis masa lalu."

Laila menggeleng perlahan, mendesah pelan mendengar kerendahan diri Fathan yang sudah kelewatan batas. "Fan, sapa sing ngajari kowe ngukur drajat manungsa adhedhasar masa lalu utawa pujian wong liya? Aku iki padha wae karo kowe—wong biasa sing isih kerep salah lan duwe kelemahane dewe-dewe."

"Ora padha, Lai," sanggah Fathan cepat, suaranya mulai bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. "Bedane adoh banget. Kowe mlaku ing orbit cahaya sing mulia, sementara aku mlaku ing orbit rongsokan sing kebak kepingan lara."

Suasana di area parkiran yang mulai sepi itu mendadak terasa begitu sunyi. Lampu jalan kuning temaram di atas kepala mereka memantulkan bayangan panjang di atas permukaan aspal yang basah. Fathan merasa tidak sanggup lagi membendung beban ketakutan yang selama ini ia pendam sendirian di ibu kota.

"Aku wedi, Lai," aku Fathan jujur dengan suara parau. "Aku wedi yen kebecikanmu malah rusak merkara kanca karo wong sing mental lan uripe compang-camping kaya aku iki."

❖ ❖ ❖

Laila terdiam sejenak mendengarkan pengakuan jujur dan menyayat hati dari Fathan. Ia melangkah lebih dekat lagi, berdiri tepat di bawah temaram lampu jalan yang menyinari rambut dan bahunya. Tidak ada ekspresi menghakimi di wajah Laila; yang ada hanyalah ketulusan mutlak seorang sahabat yang ingin menyembuhkan luka lama di hati lelaki di hadapannya itu.

"Fan, mangkelno pol lek kowe tansah nganggep awakmu beban," ucap Laila dengan nada tegas namun penuh kelembutan. "Kowe eling ora wektu kita jaman kuliah neng Surabaya biyen? Apa sing marai aku seneng kanca karo kowe? Duduk merkara kowe sugih utawa sampurna, tapi merkara kowe wong sing jujur lan wani ngadepi kahanan apa anane."

Lihat selengkapnya