Sore hari di kota Palembang membentangkan panorama langit jingga yang hangat, memantulkan bias cahaya keemasan di atas permukaan air kolam buatan yang tenang di sebuah taman kota yang asri. Di bawah rindangnya pepohonan trembesi yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi, Fathan berdiri tegap mengenakan kemeja linen putih sederhana dan celana panjang krem. Suasana di sekitar taman terasa begitu damai, dihiasi suara tawa anak-anak kecil yang berlarian mengejar burung merpati serta desau angin sore yang menyejukkan. Di hadapannya, Laila Shasmira duduk tenang di atas bangku taman kayu berlatar hamparan bunga-bunga hias yang sedang mekar sempurna. Perempuan itu mengenakan gamis bernuansa pastel lembut dengan kerudung senada, memancarkan keteduhan batin yang luar biasa.
Pertemuan sore itu bukanlah pertemuan kebetulan yang disengaja tanpa arah, melainkan sebuah janji temu penuh makna setelah sekian minggu mereka intens merajut silaturahmi yang bersih dari segala kepura-puraan. Setelah teguran tajam melalui pesan singkat yang berhasil meruntuhkan dinding ketakutan dan rasa minder Fathan beberapa waktu lalu, hubungan di antara mereka mengalir begitu natural, jujur, dan sarat akan kedewasaan spiritual. Fathan menarik napas dalam-dalam, meresapi aroma tanah basah seusai hujan gerimis siang tadi, sementara debar di dadanya bergemuruh kencang bukan karena rasa takut atau kecemasan masa lalu, melainkan karena getaran cinta yang suci dan murni.
"Senja sore iki apik tenan ya, La... koyo ngelingake aku marang sore-sore nalika isih cilik nang Surabaya dhisik," ucap Fathan memulai percakapan, suaranya terdengar lembut dan tenang memecah keheningan di antara mereka berdua.
Laila menoleh perlahan, mengangkat wajahnya yang dinaungi senyuman teduh di balik cadar tipisnya. "Iyo, Fan. Alam iku tansah nyimpen critane dewe-dewe. Ning sing paling penting, senja dina iki rasane luwih tentrem tinimbang sing wingi-wingi."
Fathan mengangguk pelan, membenarkan ucapan sahabat masa kecilnya itu. Ia tahu, ketenteraman yang ia rasakan hari ini adalah buah manis dari kepasrahan total dan keikhlasan mutlak yang ia pelajari dari Laila. Jauh di lubuk hatinya, Fathan menyadari bahwa inilah saat yang paling tepat untuk melangkah lebih jauh. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi bayang-bayang kelam masa lalu, dan tidak ada lagi ketakutan akan penolakan. Ia ingin membuka lembaran hidup baru dengan cara yang paling tulus di hadapan perempuan yang telah menyelamatkan jiwanya dari kegelapan.
"La... ono siji hal wigati sing pengen tak omongake marang kowe sore iki," ujar Fathan dengan nada suara yang sedikit bergetar menahan gelombang emosi yang membuncah di dadanya.
Laila menatap Fathan lekat-lekat, menangkap kesungguhan dan kejujuran yang terpancar nyata dari sorot mata pria di hadapannya itu. "Ngomong opo, Fan? Cerita o, aku takok-takok ngrungokake."
❖ ❖ ❖
Keheningan sejenak merayap di antara deru angin taman yang meniup dedaunan. Fathan merenungkan kembali bagaimana perjalanan cintanya di masa lalu selalu diwarnai oleh drama yang melelahkan dan penuh beban ekspektasi. Ketika bersama Nisa di Jakarta, ia melamar dengan kemewahan cincin berlian mahal dan janji-janji materialistis yang berujung pada kehancuran akibat jarak serta ego. Ketika bersama Varisha di Bandung, ia membangun hubungan di atas fondasi ambisi karier dan intelektualitas yang kaku, yang pada akhirnya memicu ketakutan purba akan kegagalan. Dan ketika ia mencoba merajut masa depan bersama Chafia di Palembang, ia harus terjebak di simpang jalan yang kejam akibat benturan restu keluarga dan noda masa lalu.
Setiap lamaran dan janji di masa lalu selalu dibebani oleh ambisi, gengsi sosial, dan ketakutan akan penilaian orang lain. Namun hari ini, di hadapan Laila, Fathan ingin tampil apa adanya—tanpa topeng korporat, tanpa kemewahan buatan, dan tanpa beban masa lalu yang membelenggu.
"Aku eling kabeh crito uripku sing biyen, La... kabeh kegagalan lan tatu sing tau tak alami," ucap Fathan lirih, menundukkan pandangannya sejenak ke arah kerikil di bawah kakinya sebelum kembali menatap tajam mata Laila. "Biyen aku ngira tresna kuwi kudu dibayar nganggo barang mewah, kudu sampurna, lan kudu nuruti kabeh karepe manungsa."
Laila mendengarkan dengan penuh perhatian, membiarkan Fathan menumpahkan seluruh sisa beban batin yang masih tersisa di kepalanya. "Tresna sing sejati iku dudu babagan kemewahan utawa kasampurnan, Fan. Tapi babagan sepiro gedhene kowe wani tulus nampa kekurangane pasanganmu."
"Aku ngerti saiki, La," sambung Fathan dengan napas yang mulai teratur. "Lan mergo kowe, aku sadar yen urip bareng kuwi butuh kejujuran ati, dudu topeng."
Suasana sore di taman itu semakin menambah syahdu percakapan mereka. Fathan merasakan sekujur tubuhnya dialiri oleh keberanian yang luar biasa besar—sebuah keberanian yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia tidak lagi memikirkan apakah dirinya layak atau tidak, karena ia tahu bahwa Tuhan telah mempertemukan mereka di atas garis takdir yang bersih dan penuh berkah.
❖ ❖ ❖
Fathan merapatkan posisi duduknya di bangku taman tersebut, menghadap sedikit menyerong ke arah Laila agar bisa melihat langsung ke dalam binar mata perempuan yang telah mengubah jalan hidupnya secara total. Tangannya yang sedikit berkeringat meremas pelan ujung kemejanya, menyembunyikan rasa gugup yang mendadak menyerang sekujur rongga dadanya.
"La, kowe eling ora wektu cilik biyen nalika kowe dadi konco sing setya ngerungokake aku nang lapangan Surabaya?" tanya Fathan membuka kenangan masa kecil mereka dengan senyuman hangat.
Laila tertawa kecil di balik cadarnya, suaranya terdengar begitu merdu dan menenangkan. "Yo jelas eling, Fan. Kowe biyen bocah sing paling rewel sak komplek, kerep mulih sore amben bal-balan ngasi bleduken."
"Ning senajan aku rewel lan kerep omong kosong biyen, kowe ora tau ninggalake aku," lanjut Fathan dengan suara yang mulai serak menahan haru. "Lan sak iki, sawise puluhan tahun pisah, Gusti Allah mbalekake kowe nang uripku pas wayah aku bener-bener remuk redam."
Laila terdiam sejenak, sorot matanya menyiratkan keharuan yang mendalam mendengarkan kalimat tulus dari sahabat masa kecilnya itu. "Kabeh mau wis dadi kersane Gusti Allah, Fan. Ora ono sing kebetulan ing ndunya iki."
"Iyo, La... lan aku ora pengen mbuang kesempatan kaping pindho iki," ucap Fathan mantap, tatapannya tidak lepas dari sosok perempuan di hadapannya.
Ia menyadari bahwa apa yang akan ia lakukan saat ini adalah keputusan paling sakral dan paling murni dalam sejarah hidupnya. Tanpa cincin berlian berkilau megah seperti yang ia siapkan untuk Nisa dulu, tanpa proposal bisnis dan rencana karier rumit seperti saat bersama Varisha, dan tanpa bayang-bayang ketakutan restu keluarga yang mengekang seperti pada Chafia. Fathan melangkah maju membawa ketulusan yang telanjang—apa adanya, tanpa syarat, dan berserah penuh kepada ridai Allah Swt.
❖ ❖ ❖
Fathan menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, memantapkan niat suci yang sudah bersemayam kuat di dalam sanubarinya. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan di atas pangkuannya, lalu menatap lurus ke dalam mata Laila dengan kejujuran yang terpancar tanpa ada sedikit pun kepura-puraan.
"La... Laila Shasmira," panggil Fathan dengan suara yang begitu jelas, tegas, dan penuh wibawa. "Aku teka mrene dudu minangka wong lanang sing sampurna utawa wong sugih sing nggowo bandha akeh. Aku teka minangka Fathan—wong lanang sing tau salah, tau tatu, tapi saiki wis wani pasrah total marang Gusti Allah."
Laila tertegun, debar di dadanya mulai terasa seiring dengan keseriusan nada suara Fathan. Perempuan itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, membiarkan Fathan melanjutkan kalimatnya dengan leluasa.
"Aku ora nggowo cincin mewah, aku ora duwe janji-janji muluk babagan kasuksesan duniawi sing semu, lan aku ora bakal maksa kowe nggowo beban masa laluku," ucap Fathan tulus, suaranya bergetar halus namun penuh keyakinan. "Sing neng tangan iki mung ana siji niat suci: apa kowe gelem dadi pendamping uripku, nerusake sisa umur bareng-bareng ngabdi marang Gusti Allah, lan dadi pelabuhan terakhir sing bener-bener tulus kanggo aku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu syahdu di bawah temaram cahaya senja kota Palembang. Tidak ada alunan musik romantis, tidak ada tepuk tangan penonton, dan tidak ada kemewahan duniawi. Yang ada hanyalah keheningan sore yang sakral, angin taman yang berembus lembut, dan dua jiwa yang saling menemukan kedamaian setelah sekian lama terombang-ambing dalam badai kehidupan.