Titik Temu

Amrullah Ibrahim
Chapter #77

Dermaga yang Akhirnya Bernama

Sore hari di sebuah dermaga kayu marina pesisir utara Jakarta menawarkan pemandangan cakrawala yang membentang luas tanpa batas. Langit senja tampak cerah memancarkan gradasi warna jingga keemasan, berpadu sempurna dengan pantulan air laut yang berkilau tenang diterpa angin pesisir yang sepoi-sepoi. Di ujung pembatas dermaga yang menghadap langsung ke arah laut lepas, Fathan berdiri berdampingan dengan Laila, menikmati detik-detik terakhir matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Setelan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung sebatas siku membuat Fathan terlihat begitu santai dan matang, sementara Laila mengenakan dress panjang sederhana berwarna senada dengan selendang rajut krem yang melingkar anggun di bahunya.

Perjalanan panjang yang melelahkan selama bertahun-tahun di ibu kota akhirnya membawa mereka pada sebuah titik perhentian yang paling damai. Setelah malam pengakuan di bawah temaram lampu jalan Menteng beberapa waktu lalu, hubungan Fathan dan Laila mengalir secara natural, dibingkai oleh kedewasaan batin, rasa saling menghargai, dan ketulusan jiwa yang luar biasa. Tidak ada lagi rasa minder, tidak ada lagi topeng kepura-puraan, dan tidak ada lagi ketakutan masa lalu yang menghantui langkah Fathan setiap kali ia menatap masa depannya.

"Endah tenan pemandangan sore iki, Fan. Rasane kaya kabeh kesel saksuwene iki kebayar lunas pas nyawang langit cerah kaya ngene," ucap Laila pelan sambil menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma khas udara laut yang menyegarkan.

Fathan menoleh menatap Laila di sampingnya, tersenyum hangat melihat binar kebahagiaan terpancar jelas di mata perempuan tersebut. "Iyo, Lai. Ora nyana, sawise kabeh ombak gedhe lan badai sing ngrusak kapal, awak dewe pungkasan tibo ing dermaga sing tenang iki."

Laila tertawa renyah, menoleh sekilas memberikan tatapan penuh makna kepada Fathan. "Makane, aja kerep-kerep nggresulo dadi wong. Gusti Allah kuwi adil, ngerti pas wektune mbukak lawang pelabuhan kanggo kapal sing wis suwe kelem."

Fathan mengangguk setuju, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir Laila. Ia menengadahkan kepalanya kembali menatap langit senja Jakarta yang terbentang luas. Pikirannya melayang menembus lorong waktu, mengenang kembali tiga kegagalan besar yang pernah merobek-robek hatinya di masa lalu: Jarak, Waktu, dan Keadaan. Tiga hal itu dulunya adalah algojo paling kejam yang merenggut impian-impian mudanya, namun kini, dari sudut pandang kedewasaan yang baru, ia melihat ketiganya dengan mata batin yang sepenuhnya ikhlas.

❖ ❖ ❖

Tiga kegagalan besar di masa lalu kini berbaris rapi di ingatan Fathan bagaikan kepingan puzzle yang akhirnya menemukan tempat asalnya. Kegagalan pertama adalah Jarak—kenangan pahit saat ia harus merajut cinta terhalang benua Asia dengan Varisha di Singapura, di mana ruang dan bentang geografis perlahan mengikis kehangatan komunikasi hingga hubungan itu mati suri secara perlahan. Dulu, Fathan mengutuk jarak sebagai pemisah yang paling kejam bagi dua insan yang saling mencintai.

Kegagalan kedua adalah Waktu—momen-momen di mana ia dan takdir selalu datang di waktu yang salah. Pertemuan-pertemuan yang tertunda, kesempatan yang terlewatkan, serta masa muda yang dihabiskan dalam kebodohan dan ambisi buta membuat Fathan merasa waktu berjalan terlalu cepat menghancurkan harapan, namun berjalan sangat lambat menyiksa batinnya yang kesepian di perantauan.

Dan kegagalan ketiga yang paling menyesakkan dada adalah Keadaan—tembok tebal dendam bisnis masa lalu keluarga Chafia di Menteng, tuntutan hukum, serta jurang perbedaan dunia yang dipaksakan oleh takdir keluarga. Keadaan memaksa Fathan menyerahkan cincin rajutan hati kembali kepada pemiliknya di bangku taman SCBD, merelakan cinta yang tulus hancur lebur demi bakti dan kedamaian orang tua.

"Lagi mikir apa to, Fan? Kok meneng wae sak iki, apa keri dompetmu nang mobil?" tanya Laila usil membuyarkan lamunan Fathan, menyenggol pelan lengan lelaki itu dengan sikunya.

Fathan tersenyum tipis, menatap Laila dengan sorot mata yang dipenuhi rasa syukur yang mendalam. "Ora keri dompetku, Lai. Aku mung lagi ngenang masa lalu—soal jarak, wektu, lan kahanan sing biyen marai aku ngerasa dadi manungsa paling malang ing ndonya."

Laila berhenti melangkah, berbalik menghadap Fathan sepenuhnya. Angin laut pesisir utara meniup lembut helai rambut hitamnya. "Terus, sak iki piye carane kowe ndelok kabeh kegagalan kuwi, Fan?" tanya Laila serius namun lembut.

❖ ❖ ❖

Fathan menarik napas panjang, meresapi kehangatan senja yang menyelimuti tubuh mereka berdua di atas dermaga kayu tersebut. "Saiki, aku ora ndelok jarak, wektu, lan kahanan kuwi minangka tatu utawa musibah maneh, Lai."

"Lha terus dadi apa?" kejar Laila penasaran, matanya berbinar menatap lurus ke dalam mata Fathan.

"Kabeh kuwi saiki katon cetha minangka peta jalan sing pancen dirancang khusus kanggo nuntun aku menyang kene," jawab Fathan mantap, suaranya terdengar sangat tenang dan berwibawa. "Yen biyen aku ora kapusan jarak karo Varisha, aku ora bakal sinau bab kesetiaan sejati. Yen biyen aku ora ditolak dening kahanan lan dendam kulawarga Chafia, aku ora bakal ngerti regane keikhlasan. Lan yen wektu biyen ora misahake kita, mbok menawa aku ora bakal dadi manungsa sing cukup matang kanggo pantes nampa kowe dina iki."

Laila tertegun sejenak mendengarkan interpretasi filosofis yang mendalam dari sahabat sekaligus belahan jiwanya itu. Senyuman manis seketika terkembang di bibir Laila, memancarkan kebanggaan yang luar biasa besar.

Lihat selengkapnya