“Bu, pesawatnya delay,” ucapku gusar, napasku masih terengah-engah setelah setengah berlari menuju Gate 5 yang ternyata masih tertutup rapat.
“Yah, tau gitu tadi ketemu dulu sama temen-temenmu,” jawab Ibu di seberang telepon. “Mereka titip kado buat kamu. Nanti Ibu bawa waktu nyusul, ya.”
“Iya, Bu. Ibu pulang saja dulu. Mudah-mudahan delay-nya ga lama. I love you, Bu.”
“I love you, geulis.”
Air mataku mengalir lagi, entah sudah yang keberapa kali hari itu. Di sinilah aku, dengan perut yang kian membesar, bersiap menuju negara di belahan bumi lain. Usia kandunganku baru dua puluh empat minggu—kata dokter, masih tergolong aman untuk perjalanan udara sejauh ini, asal aku cukup sering bergerak dan tidak duduk diam terlalu lama. Tiga pesawat, dua kali transit, dan total tiga puluh dua jam perjalanan menantiku sebelum aku benar-benar tiba. Angka-angka itu terdengar jauh dan abstrak, sampai tubuhku sendiri yang harus menjalaninya.
Satu jam berlalu tanpa kepastian keberangkatan. Bajuku yang tadi basah oleh keringat kini telah mengering, kaku oleh garam yang tertinggal. Perayaan kecil siang tadi rupanya menguras tenaga lebih dari yang kusadari. Aku lupa membawa bekal. Lupa pula bahwa sejak hamil, perutku tak lagi bisa diajak berkompromi.
Tas ransel kecil butut berwarna navy kugenggam erat, tanganku enggan melepaskannya. Rasa mual dan pusing merayap pelan, lalu perlahan menguasai tubuhku. Langit-langit ruang tunggu yang sejak tadi kupandangi mulai bergeser, mula-mula samar, kemudian semakin jelas, bergelombang tanpa arah. Dari kejauhan, suara seorang wanita mengalun melalui pengeras suara, datar dan resmi, mengumumkan keberangkatan kami. Lima menit lagi.
Aku berjalan tertatih menuju kursi yang tertera di boarding pass. Saat itulah aku menyesali keputusanku membawa terlalu banyak buku di koper kabin. Berkali-kali kucoba menjejalkan koper tua itu ke ruang sempit di overhead bin*, namun tak berhasil. Aku hampir menyerah dan membiarkan beban tujuh kilo itu menimpa kepalaku, ketika seorang wanita tinggi beraroma vanila dengan sigap mencegah petaka itu terjadi.
Gejolak di perutku akhirnya tak dapat terbendung lagi. Segera kuraih kantong kertas yang mencuat dari balik kursi di hadapanku, kubenamkan wajahku ke dalamnya. Rasanya berlangsung lama, terlalu lama, hingga akhirnya aku bisa kembali tegak dan mengenali sekelilingku.
Aroma vanila itu kembali tercium. Ternyata sejak tadi ia berdiri di sampingku, menatapku dengan prihatin.
“Ibu baik-baik saja?” tanyanya lembut. “Kami akan bersiap untuk take off.”