“Dear passengers, we will be landing shortly at Benito Juárez International Airport…”
Suara pengumuman itu mengalun datar di kabin, memberi tahu kami akan segera mendarat di Bandara Internasional Benito Juárez.
“We’re here, baby. Ready to see Ayah?” bisikku sambil mengusap-usap perut yang kini terasa lebih berat dari ingatanku.
Setelah perjalanan yang menguras tenaga, melangkah di lorong panjang yang sedikit menanjak itu terasa luar biasa berat. Kakiku mati rasa, pinggangku tegang dan kaku. Namun aku tetap berjalan. Sedikit lagi.
Langkahku terhenti saat melihat seorang pria tinggi berkacamata melambaikan tangan ke arahku. Aku mengenalinya dari panggilan video Fariz: Doni, salah satu dari sedikit orang Indonesia yang ia kenal di Mexico City. Dari cerita-cerita Fariz, aku tahu bahwa di kota ini, Doni adalah orang yang bisa diandalkan.
Di lehernya tergantung kartu bertuliskan OFFICIAL, huruf-hurufnya terbaca jelas bahkan dari kejauhan. Aku teringat pekerjaannya di Kedutaan Besar RI. Pantas saja ia bisa menjemputku langsung di sini, bahkan sebelum aku mencapai area penjemputan.
Dadaku terasa mengendur saat melihat wajah yang begitu akrab di tengah kerumunan orang asing, seolah sebagian kecil rumah ikut mendarat bersamaku.
“Ara, ya? Fariz nunggu di luar. Lewat sini.”
Aku mengangguk dan mengikutinya tanpa banyak bicara. Udara sejuk bandara membelai pipi dan hidungku saat kami keluar menuju area penjemputan. Bandara Benito Juárez tidak menyambut dengan kemegahan, melainkan dengan kelelahan yang jujur. Lampu neon memantul di lantai keramik. Pengumuman berbahasa Spanyol mengalir cepat tanpa jeda. Aroma kopi dan makanan cepat saji menggantung di udara.
Di ruang kedatangan, keluarga-keluarga berpelukan lama. Sopir taksi berseru menawarkan jasa. Papan penunjuk arah menggantung di atas kepala, menjaga keteraturan yang nyaris goyah.
Aku berdiri di tengahnya, seorang pendatang yang baru saja melangkah ke kehidupan orang lain.
Lalu di sana, di antara hiruk-pikuk itu, Fariz berdiri sambil tersenyum. Wajah yang sudah lama kurindukan. Aku mempercepat langkah, ia melakukan hal yang sama. Begitu jarak di antara kami habis, ia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Erat tapi hati-hati, teringat ada perutku yang kini membesar di antara kami.
Aku tersenyum di bahunya. Setelah berbulan-bulan hanya melihat wajahnya melalui layar ponsel, mendengar suaranya dari pengeras suara, dan mengakhiri malam dengan ucapan selamat tidur dari dua belahan bumi yang berbeda, akhirnya ia benar-benar ada di depanku.
Saat akhirnya Fariz melepaskan pelukannya, ia mundur sedikit dan memandangiku dari kepala sampai kaki.
“Perut kamu udah semakin besar ya.” Ia lalu membungkuk sambil menyentuh perutku dengan hati-hati. “Hai, akhirnya ketemu juga.”
Aku menatap wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda. Aku mendekat, menyentuh rambutnya, menyelipkan jari di antara helai yang kini lebih pendek dari yang kuingat.