To Love The Untouchable

Dear An
Chapter #20

Chapter 19 - Di Persimpangan Iman dan Rasa

Malam itu terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Di kamarnya yang sunyi, hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk melalui sela-sela gorden. Hana berbaring miring sambil memeluk gulingnya erat-erat. Rambut hitam panjangnya terurai di atas bantal, tampak kontras dengan gaun tidur satin warna krem yang ia kenakan. Pikiran Hana terus saja kembali ke pertemuannya dengan Jihoon tadi. Ia masih kesal karena Jihoon mendiamkannya hanya gara-gara masalah Minwoo.

​​“Sebenarnya, apa salahku?” gumam Hana dengan nada frustrasi sambil matanya menatap kosong ke arah dinding di depannya.

​“Kenapa?”

​Sebuah suara berat yang sangat ia kenali tiba-tiba menyahut, memecah keheningan kamar itu.

​Hana tersentak hingga tubuhnya menegang. Ia menghirup napas dan langsung duduk tegak sambil mencengkeram dadanya yang berdegup kencang. Begitu menoleh, ia mendapati kakaknya, Haneul, sudah berdiri di samping tempat tidur.

​“Atstagfirullah! Oppa! Sejak kapan masuk ke kamarku?” tanya Hana dengan suara bergetar.

​Haneul berjalan santai lalu duduk di tepi ranjang, menatap adiknya dengan jengkel. “Oppa sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban!” ketusnya. “Oppa kira kamu pingsan, ternyata cuma melamun dengan muka ditekuk begitu. Ada apa?” Haneul melipat tangan di dada.

​Menyadari bahwa dia memang salah, Hana hanya bisa nyengir sambil memamerkan deretan giginya. “Maafkan aku, Oppa,” ujarnya dengan nada merengek manja.

​Haneul terdiam sejenak. Tatapan matanya yang tadi tajam perlahan melembut. “Jadi,” ucapnya dengan nada lebih pelan, “ada apa denganmu hari ini, Hana-ya? Ceritakan pada Oppa.”

​Hana menatap Haneul dengan ragu. Ia memainkan ujung gulingnya, tampak ragu sebelum akhirnya bertanya, “H-hmm, Oppa... menurutmu, Choi Jihoon-ssi itu orangnya seperti apa?”

​Haneul terdiam seketika. Sebelah alisnya terangkat. “Tumben sekali kamu bertanya soal dia. Ada apa sebenarnya?” desak Haneul sambil menatap adiknya dengan penuh selidik.

​Hana bangkit dengan cepat dan duduk bersila tepat di hadapan kakaknya. “Oppa, jawab dulu pertanyaanku!”

​Haneul terdiam sejenak. Ia memegangi dagu sambil menatap langit-langit kamar. “Hmmm... kalau dinilai secara objektif?” Haneul memberi jeda. “Dia tampan—sangat tampan. Karismanya kuat, meski memang orangnya dingin dan sulit didekati.”

​Ia kembali mengusap dagunya. “Dia juga jago masak, fisiknya atletis, loyal, dan pekerja keras. CEO sekaligus idol papan atas... yah, bisa dibilang dia paket lengkap untuk jadi seorang suami idaman,” tutup Haneul sambil menahan senyum penuh arti ke arah adiknya.

​Wajah Hana seketika memerah panas. Ia menyambar bantal di dekatnya dan menghantamkan benda empuk itu ke bahu Haneul berkali-kali. “Iih, Oppa! Jangan menggodaku!” serunya malu.

​Haneul tertawa lepas sambil berusaha menangkis serangan bantal adiknya. “Baiklah, baiklah, Oppa menyerah,” ucapnya setelah tawanya mereda. “Jadi, kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal Jihoon?”

​Hana mengembuskan napas panjang hingga uap tipis terlihat di udara yang dingin. “Oppa, aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana,” ucapnya dengan nada bicara yang mulai diselimuti rasa takut.

​“Sepertinya... Jihoon-ssi menyukaiku,” bisik Hana, seolah ia sendiri pun masih sulit mempercayai kata-katanya.

​“Menyukaimu?” Haneul mendadak diam, raut wajahnya berubah serius. “Dia sudah menyatakan perasaan padamu?”

​Hana tersentak kaget. “Jadi, Oppa sudah tahu kalau dia menyukaiku?” tanyanya dengan mata membulat.

​Haneul mendengus kesal sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Orang buta pun tahu kalau Jihoon-ssi menyukaimu, Hana-ya. Caranya menatapmu, caranya memperlakukanmu... itu jelas bukan interaksi biasa,” balasnya tajam.

​Haneul mengerutkan alis, menatap Hana dalam-dalam. “Lalu? Apa yang terjadi sampai kamu mendadak ketakutan begini?”

​Hana menunduk dan menggeleng pelan.

​“Lalu?” ulang Haneul, semakin mendesak.

​Hana mengangkat wajahnya. “Tadi aku ke kantor Tigerlab untuk membahas kondisi Bloomy. Tapi, saat aku baru mau mulai bicara, Jihoon-ssi memotong begitu saja. Dia malah menuntut penjelasan soal pertemuanku dengan Minwoo-ssi.”

​Hana menarik napas pendek. “Padahal sudah kujelaskan kalau Minwoo itu klienku dan dia sedang kambuh anxiety-nya, tapi Jihoon-ssi tetap tidak percaya! Karena gemas, aku tanya saja langsung, apa dia cemburu? Tapi dia malah diam seribu bahasa!”

​“Ya sudah, karena tidak dijawab, aku keluar saja. Aku benar-benar kesal!” Hana mengakhiri ceritanya dengan tangan yang mengepal di atas pangkuan.

Lihat selengkapnya