Malam itu juga, dibalik pintu kamar yang tertutup rapat, aku merinding ketakutan. Menjambak rambut sendiri. Sesekali memukulnya cukup keras. Memaki-maki diri sendiri sambil membayangkan adegan Aoi Miharu yang sambil menangis memohon padaku. Berlangsung lambat, menambah frustasi. Membuatku praktis tidak bisa belajar, dipenuhi rasa bersalah yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Apa yang sebenarnya terjadi...?!
Kenapa gadis itu bunuh diri...tepat setelah memohon kepadaku untuk menyelamatkannya?!
Bukankah ia bilang sendiri tidak ingin mati?!
Dengan rasa penasaran yang membuncah, aku akhirnya menyalakan ponsel, meminta salah seorang teman memberikan berita bunuh diri seorang siswi SMP bernama Aoi Miharu kepadaku, segera kubaca dalam semenit, lalu gemetar hebat.
Dalam waktu singkat...aku bisa memahami.
Memahami mengapa Aoi Miharu meminta tolong kepadaku. Bukan kepada anak yang lain meski tak pernah berbincang.
Gadis itu tidak bunuh diri.
Ia dibunuh seseorang.
Walau foto itu agak buram, tapi jika kursi yang tergeletak didekat korban diberdirikan, ia jelas masih kurang tinggi untuk menjangkau tali tambang yang digantungkan karena Aoi lumayan pendek. Simpulnya juga berada di tempat yang sulit dijangkau. Polanya sangat rumit. Aku yang ikut Boii Sukauto(Pramuka lelaki) saja butuh waktu lama untuk menguasainya, sementara ia yang tidak ikut Gaaru Sukauto(semacam pramuka wanita), tidak mampu membuat kerajinan tangan sederhana, sungguh ajaib mampu menciptakan simpul tersebut, merancang tali kematian yang menjadi eksekutor hidupnya.
Andai jadi Aoi, aku akan memilih cara mati yang jauh lebih sederhana daripada menggunakan simpul itu...
...Kecuali...jika ada seseorang yang sengaja menggantungnya disana...
...seorang yang lebih tinggi dari Aoi...
...Selalu berada di dekatnya dan cukup kuat untuk menggantung gadis SMP tersebut...
...seseorang yang tampak menangis ketika dimintai keterangan oleh wartawan...
"Sialan", umpatku pelan, gemetar memegangi ponsel yang menampilkan wajah orang yang sangat kucurigai sebagai pelaku.
Tanpa ragu-ragu, aku mengambil jaket dari lemari, memakainya sambil membuka pintu kamar, tanpa berpamitan dengan ibu di kamar sebelah, segera keluar rumah, mencari tumpangan taksi supaya bisa melaju lebih kencang, menyebutkan alamat yang hendak dituju,
Meluncur secepatnya ke rumah Aoi Miharu.
Tak ada basa-basi, begitu sampai di rumah mewah yang sudah lepas dari pengawasan polisi dan wartawan aku langsung menekan bel, bertanya serius ketika seorang lelaki gagah, berumur sekitar 40-an, berprofesi sebagai Pasukan Bela Diri Jepang sekaligus salah satu perwira pentingnya membuka gerbang, langsung menatap datar.
"Anda...Mengapa anda membunuh Aoi, anak anda sendiri...?",
Pria itu sangat terkejut. Sempat terdiam sebentar dalam gemetar. Tetapi, begitu mengetahui di depannya hanyalah bocah SMP kurus, ia tertawa kecil. Sama sekali tak menghiraukan.