Meski memiliki bukti tak terbantahkan, aku yang masih berakal sehat sadar betul, berita anak SMP yang berhasil memergoki kejahatan perwira militer di Tokyo pasti akan meledak di media massa, para wartawan meluncur, bertanya ini-itu--hal yang sangat merepotkan sekali.
Oleh karena itu, aku memiliki siasat.
Semua aksi yang kulakukan akan kuatas-namakan orang lain.
Seseorang yang dapat dipercaya, independen, tidak terikat dengan pemerintahan yang seringkali korup.
Detektif swasta.
Tak menunggu lama, segera saja aku mencari kantor detektif swasta terdekat. Tidak perlu yang memiliki nama besar. Aku hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi wajah dari semua yang kulakukan.
Menemukan salah satu kantor di peta online, aku memasukan nomor ponsel pemilik kantor detektif swasta tersebut, menghubunginya.
Tiga nada dering terdengar pelan, akhirnya ponsel di seberang sana diangkat. Suara lelaki muda yang sedang mengantuk.
"Selamat malam. Dengan kantor detektif Haguro--ada yang bisa saya bantu?",
Lalu menguap pelan.
Aku berujar sambil menginjak punggung Yanagi Miharu yang terkapar, memandang langit yang gelap total, penuh awan.
"Detektif Haguro...",
"...Saya menawarkan kerjasama",
***