Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #4

Kasus Kedua, Pesan Berdarah Seorang Wanita--Prolog

Cukup satu hari setelahnya kulihat wajah kusut Naomi Haguro muncul di salah satu koran yang menjadi langganan ibu dengan judul "Sangat berani, detektif swasta menangkap perwira militer jepang dengan tangan kosong!". Ditulis besar-besar dengan tinta hitam dan kapital. Dalam keterangan disebutkan perwira yang ditangkap sempat mengaku bahwa yang membekuknya bukanlah si detektif swasta, tetapi seorang bocah SMP yang jago seni beladiri. Tidak ada yang memercayai ucapan perwira tersebut. Akhirnya orang-orang menyangkanya depresi, mulai berhalu.

Yang aneh adalah justru yang terjadi setelahnya.

Walau sempat menjalani proses sidang dan sudah dipenjara, lelaki itu sama sekali tidak mau membuka mulut mengenai alasan mengapa ia membunuh anaknya sendiri, Aoi Miharu.

Istrinya yang tampak cuek didepan wartawan juga mengaku tidak pernah ikut campur urusan suaminya. Secara mengejutkan tidak sedih mendengar tewasnya Aoi Miharu. Berkata santai, 'dia adalah anak tiri'. Lalu pergi dengan jepretan-jepretan kamera menyambar.

Beberapa hari berlalu dengan Yanagi Miharu yang sudah mendekam dibalik jeruji.

Akan tetapi, hari ini dia ditemukan tertembak di dalam sel oleh seorang sipir yang diduga disewa oleh seseorang. 

Berbagai teori konspirasi pun meledak di media massa. Yang paling populer: Aoi Miharu mengetahui kasus korupsi ayahnya secara tidak sengaja karena membaca sebuah dokumen vital bernilai ratusan juta yen. 

Aoi memang sudah dibunuh. Toh, belakangan aku akhirnya tahu ia adalah anak adopsi dari istri pertama Yanagi Miharu yang sudah meninggal. Akan tetapi, untuk mencegah bocornya kasus, komplotan korupsi Yanagi Miharu yang lain memutuskan agar menyewa pembunuh bayaran untuk membungkam mulut perwira tersebut supaya tidak bisa diinterogasi sama sekali, mengamankan posisi mereka.

Memang tidak ada bukti, namun aku akui 'drama' seperti itu cukup menarik. 

Hari libur, tepat ketika sarapan selesai kusantap, sebuah panggilan datang.

"Siapa?", sambil membawa piring-piring ke wastafel untuk dicuci, ibu yang masih mengenakan celemek putih bertanya.

Dengan datar, aku menjawab setelah melihat nama di layar ponsel.

"Orang yang sangat merepotkan",

Wanita muda di depan mengernyitkan dahi, tetapi ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut.

Menekan tombol "angkat", aku langsung mendesis.

"Hal konyol apa yang hendak kau sampaikan untuk mengacaukan hari liburku?",

Suara cengengesan di seberang sana tertawa lebar, menyahut.

"Ya ampun, Togashi-kun...pagi-pagi begini reaksimu langsung kasar, ya? Kau tahu, kebanyakan perempuan itu lebih suka dengan lelaki yang lemah lembut, lho...?",

"Katakan saja apa maumu!",

Benci dengan basa-basi tak berfaedah, aku berseru. Membuat ibu yang sedang mencuci piring sempat menoleh.

Menyeringai menyebalkan.

"Ara~ Ribut sekali...Pacarmu~?",

Aku menjauhkan ponsel sejenak.

"Ibu juga jangan ikut-ikut!",

Lihat selengkapnya