Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #5

Kasus Kedua, Pesan Berdarah Seorang Wanita (1)

Setelah rumah perwira Pasukan Beladiri Jepang yang megah, kini aku dihadapkan pada TKP rumah minimalis dari sepasang suami-istri kaede yang berada di pinggiran Tokyo selatan, dekat dengan pantai yang meniupkan angin kencang.

Baru sampai beberapa meter dari lokasi, sejumlah petugas kepolisian yang menjaga area TKP langsung menghadangku. Membuat barikade hidup yang mencegah pandangan. Menatapku agak galak sambil mengusir,

"Apa yang kau lakukan, bocah?!! Jangan mendekat kemari!! Apakah kau tidak lihat garis kuning polisi di depan, hah?!!",

Mendapati perlakuan yang demikian, rasa malasku bertambah-tambah. 

Tak ingin berurusan dengan polisi, akhirnya aku berbalik. Nyaris saja mengubah keputusanku menolong Naomi Haguro jika di detik-detik akhir lelaki itu tidak muncul, berlari bak atlet olahraga, memanggilku sambil menerobos barisan polisi berseragam biru gelap.

"Togashi-kun!! Akhirnya kau datang!!",

Wajahnya terlihat lega sekali.

Membuat tubuhku lagi-lagi refleks berputar balik tanpa kusadari, menghela nafas pelan, langsung menjelaskan aturan main.

"Jelaskan cepat apa yang kau temui, bagaimana hasil forensik dan otopsi singkat, lalu apa pendapat tim penyelidik kepolisian.",

Dengan suara putus-putus, Naomi Haguro menjawab.

"Ba--Baiklah!",

Kemudian menuntunku masuk ke TKP di dalam rumah.

Aku melepaskan pandangan.

Bangunan dua lantai dengan loteng yang memilki jendela terhubung langsung ke jalanan. Atap disusun dari bata merah. Dinding dicat kuning. Tanpa halaman luas dan gerbang hitam tinggi, rumah minimalis keluarga Kaede berdiri ditengah pemukiman yang relatif padat. 

Dari kejauhan beberapa orang tertarik melihat. Sejumlah wartawan mencoba menerobos, memberondong siapapun yang ditemui dengan puluhan pertanyaan sementara pembawa kamera berdiri di belakang, menyiarkan berita langsung yang esok hari akan muncul di koran. 

Sambil berjalan, Naomi Haguro menjelaskan setelah berdehem sekali.

"Korban bernama Ichigo Kaede, pria muda berumur 29 tahun, suami dari Urashi Kaede yang merupakan orang pertama penemu tubuh korban di pagi hari tadi sekitar jam lima. Istri korban mengaku bahwa ditengah malam tadi, ia sempat mendengar suara gaduh dari luar kamar. Membuatnya terbangun. Ketika membuka mata, suaminya sudah tidak ada di sampingnya",

Melewati pintu masuk dengan kunci menggantung di sisi luar dan dikawal dua petugas polisi, Naomi Haguro mengeluarkan lencana detektif swasta, meminta akses masuk.

"Karena merasa suaminya pergi untuk suatu urusan--mungkin sedang lapar atau semacamnya--akhirnya Urashi Kaede kembali tidur. Saat itu Semua jendela tertutup dan lampu dimatikan. Akan tetapi, pada keesokan harinya, wanita itu terkejut hebat karena suaminya sudah tewas ditusuk dari belakang hingga tembus. Darahnya pun menggenang di lorong. Ia dibunuh persis di depan kamar."

Mengangguk pelan, sudah mulai memahami garis besar kasus, aku bertanya.

"Hasil forensik singkat dan otopsi?",

"--Ah, benar..!",

Demi mendengar itu, Naomi membalik beberapa halaman, membaca laporan dengan semangat mengebu-ngebu.

"Panjang bilah pisau diperkirakan sekitar 23 cm dengan dua sisi mata yang sama-sama tajam. Tusukannya lurus membentuk sudut tegak lurus dengan tubuh korban. Masuk dengan celah sempit, mematahkan satu tulang rusuk, menembus keluar melalui rongga dada. Luka yang mencederai beberapa organ dalam sekaligus itu menyebabkan pendarahan hebat yang akhirnya mengakhiri nyawa Ichigo Kaede hanya dalam hitungan menit. Kematiannya sendiri diperkirakan sekitar jam setengah satu pagi. Cocok dengan laporan sang istri.",

Tiba didekat lokasi lorong yang penuh genangan darah dan lukisan kapur putih yang menandai lokasi presisi tubuh korban sebelum dibawa petugas otopsi lanjutan, aku menatap sosok lelaki berambut hitam panjang sebahu yang seragamnya agak berbeda dari para polisi lain.

Tubuhnya sangat tinggi berisi. Simbol pangkatnya bertingkat-tingkat. Topi biru kehitamannya dilapisi emas dan ia tampak berkuasa sekali disini. Menyuruh ini. Menyuruh itu. Sementara dirinya hanya terpaku menatap lantai lorong yang merah dimana-mana, nyaris tak melakukan apapun. Di sebelahnya tampak seorang wanita muda yang sedang menangis dan seorang gadis berpakaian pembantu yang wajahnya sangat polos--aku menduga mereka berdua adalah tersangka utama untuk kasus kali ini.

Demi melihat sosok menyebalkan yang kukenal itu, aku membuang muka sambil mendecikkan lidah.

Cih.

Bertambah lagi satu orang yang sangat merepotkan.

Sial sekali.

Tapi aku masih konsisten, mengangkat jari telunjuk. Berkata datar.

"Hm...Laporanmu cukup lengkap untuk sekelas detektif yang tidak laku, Naomi-san...--Lalu, apa yang diucapkan pria disana?",

Detektif yang datang hanya dengan kemeja putih dan celana hitam pensil tersebut tersentak sebentar. Namun kemudian ia menggaruk-garuk rambut pirangnya, menjawab.

"Itulah permasalahannya, Togashi-kun...",

Tidak bisa melanjutkan ucapan.

Lihat selengkapnya