Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #7

Kasus Ketiga, Murid Pindahan Yang Cantik--Prolog

Awalnya kukira koran yang ada di meja makan pada pagi itu dipenuhi oleh wajah Naomi Haguro yang tertawa lebar di depan kamera, berlagak layaknya detektif terkenal sambil berujar, "Pelakunya...Adalah anda!!",--

--Tetapi ternyata aku salah.

Koran itu telah disesaki oleh wajah paman Hajime yang tertulis sebagai tokoh utama pengungkapan kasus pembunuhan Kaede Ichigo. Adapun si detektif swasta, ia hanya disebut sekali di dalam berita sebagai 'pembantu penyelidikan' yang cukup berkontribusi dalam pengungkapan kasus.

Aku tidak tahu apa yang terjadi--tapi syukurlah, namaku sama sekali tidak disebut.

Dengan begini aku bisa sekolah dengan tenang.

Berangkat setelah sarapan sambil berjalan kaki ke stasiun, berbeda dengan kebanyakan anak SMP yang berjalan berkelompok-kelompok, aku meniti trotoar pinggir jalan sendirian bagai pekerja kantoran yang diperbudak perusahaan. 

Dingin.

Datar.

Hanya mengangguk pelan ketika disapa orang.

Tanpa seorang pun yang berada di sisiku.

Hal itu terus kulakukan hingga mencapai sekolahku, SMP Ichiban, yang letaknya memang agak jauh dari rumah, dekat pusat kota Tokyo. 

Murid-murid berseragam putih-biru tua tertawa riang melintasi gerbang. Beberapa guru yang telah datang lebih dahulu menyapa hangat, menegur siswa-siswi yang berpakaian kurang rapi, menghentikan mereka di tempat. Sementara aku menatap langit yang cerah berawan. Menghela nafas pelan.

Masa SMP-ku...

...Akan segera berakhir, ya...?

"Baiklah...Saatnya menjadi orang dewasa...", kataku pada diri sendiri, mantap melangkah masuk gerbang, menatap masa depanku yang cerah jika seorang wanita tiba-tiba tidak menabrakku dari belakang. Membuatku terjatuh, langsung lecet di tangan yang menjadi penyangga.

Mengaduh pelan sambil melihat luka, gadis yang tadi tidak sengaja menabrak segera gemetar kebingungan, membungkuk seketika, meminta maaf.

"Ma--maafkan saya! Sa--saya berlari terlalu kencang sampai tidak memerhatikan orang di depan! Apakah kau tidak apa-apa?!",

Mengulurkan tangannya, membantuku berdiri.

Wajahnya tampak begitu asing. Rambutnya hitam pekat seperti bola matanya. Tergerai panjang hingga punggung. Alisnya melengkung dengan raut cemas, tetapi bulunya sangat halus dan lebat.

Aku menggeleng kepala lemah, kembali berjalan sambil melambaikan tangan setelah menepuk-nepuk pakaian yang agak kotor. Berkata,

"Tidak usah dipikirkan. Bel sekolah sudah mau berbunyi, lho? Bergegaslah...",

Demi mengetahui hal itu, gadis berambut hitam sepunggung berseru,

"Be-benar juga!! Gawat! Aku bisa terlambat!",

Kemudian berlari menuju halaman sekolah, memasuki area lantai satu untuk kemudian menghilang diantara ratusan siswa-siswi yang baru saja datang.

Meski tidak peduli dengan apa yang kualami barusan, aku diam-diam melirik kepada gadis tadi, memikirkan sesuatu.

"Hm...Anak kelas satu, ya...?", Gumamku pelan, melihat lokasi terakhir ia menghilang. 

Lihat selengkapnya