Seperti yang kuduga, Ketika istirahat berlangsung, tak butuh waktu lama bagi seorang Fei Xiang untuk menjadi gula diantara semut: dikerumuni semua orang. Menyisakan diriku di pojok kelas bersama wanita berambut pirang yang nampaknya juga tidak suka banyak bicara. Malas menemui si anak baru. Membuka bekalnya, makan sendirian. Tipe pengamat dari jauh.
Aku sendiri berpura-pura tidak kenal, sibuk sendiri membaca buku sejarah kekaisaran Meiji yang belum tuntas, masa bodoh dengan Fei Xiang yang kerepotan menghadapi banyak orang, tidak bisa bergerak leluasa—padahal dari tatapannya, jelas ia ingin mengobrol denganku.
Aku menyeringai tipis.
Nah.
Rasakan itu.
Sekarang kau tahu betapa merepotkannya menjadi pusat perhatian di sekolah, bukan?
"Eh? Jadi, namamu Togashi-kun, ya?",
Baru saja Ketika nafas kuhembuskan dengan lega, sekali lagi bersyukur pada tuhan telah diberikan hidup yang tenang, suatu suara riang memanggilku dari depan.
Menurunkan buku sejarah, kulihat sesosok Fei Xiang sudah tersenyum lebar, menatapku dari dekat dengan bola mata hitam bulat.
"Masih ingat denganku, bukan~?", Gadis itu bertanya.
Aku menggeleng cepat.
"Tidak. Kau mungkin salah orang",
Fei Xiang langsung cemberut.
"Jahatnya!",
Namun ia tampak merasa bersalah, bertanya lagi padaku.
"Jangan-jangan...yang waktu itu Togashi-kun masih merasa kesal padaku? Lukamu masih terasa sakit? Ah, benar juga! Hari ini aku sempat membawa hansaplast, lho?! Kau mau?!--",
"--Fei-chan", Sebelum semuanya semakin menjadi-jadi, aku menyela. Mengangkat wajah yang agak kesal. Dengan dingin dan datar memandang Fei Xiang yang tiba-tiba membeku, kaget melihat ekspresiku, berkata,
"Bisakah kau pergi menjauh dari sini?",
Fei Xiang terperanjat hebat. Pupil matanya mengecil. Bahunya gemetar.
Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan respon yang begitu dingin dariku.
Tetapi aku tetap melanjutkan.
"...Kau menggangguku, tahu?",
Kemudian bola matanya berkaca-kaca. Hampir menangis. Sementara seisi kelas memandangnya dengan rasa iba. Lantas melotot marah kepadaku, berseru.
"Woi, Togashi-kun!! Apa yang kau lakukan pada Fei-chan?!!!",
Aku santai saja menjawab.
"Aku hanya memintanya menjauh, itu saja. Tidak kurang, tidak lebih"
Berikutnya mereka mendekatiku dengan wajah benci. Tidak yang lelaki, tidak yang perempuan.
Bahkan siswi teladan Yamazaki Umi yang menjadi ketua kelas ikut turun tangan, memarahiku.
"Tadi...kau sampai mengatakan bahwa Fei-san adalah pengganggu, bukan?",
Aku mengangguk, sama sekali belum mengangkat pandangan dari buku, membalik halaman yang selesai dibaca.
"Tentu saja", Kataku mantap.
"Itu fakta, bukan?—Lihat, aku sedang membaca buku..."
"Bukan begitu masalahnya!!", Yamazaki Umi berseru.
"--Kalau begitu Yamazaki-chan lebih suka aku berbohong?",
Hanya dengan sekali ucapan santai, Yamazaki Umi yang memang menjunjung tinggi integritas dan kejujuran itu terdiam, bingung bagaimana menjawab pertanyaanku.
"Kalau memang kalian semua membela Fei Xiang yang tidak mau segera pergi menjauh...",
Bangkit dari kursi, aku menutup buku sejarah yang kubaca, melihat jam yang masih tersisa lima belas menit sebelum masuk, berujar datar.
"...Kalau begitu biar aku yang pergi",
Lantas melangkah keluar kelas, berjalan santai di lorong, menuju perpustakaan di lantai dua. Masa bodoh dengan orang-orang yang memerhatikanku.
Fei Xiang yang masih berkaca-kaca semakin merasa bersalah, menggelengkan kepala kencang.
"I--ini salah! Seharusnya aku yang pergi karena sudah mengganggu Togashi-kun!",
Lalu hendak melangkah pergi, tetapi Yamazaki Umi menahannya.
"Kau tidak perlu menyusulnya, Fei-san...",
Kemudian berbisik pelan.
"Dari dulu...Pria itu memang egois...Tidak mau berkomunikasi...lebih sibuk dengan dirinya sendiri...",
Menatap wajah Fei yang sembab dengan serius.
Seperti seorang ibu kepada putrinya.
"Sebaiknya...Kau hindari lelaki yang seperti itu, paham?",
Mendapati perhatian yang begitu besar dari sang ketua kelas, Fei Xiang akhirnya luluh. Mau mengangguk patuh, berhenti mengejar.
"...Baiklah...Aku paham...",
Kemudian kembali ke kursinya semula sementara gadis berambut pirang di belakang memerhatikan dengan seksama.
Beberapa saat kemudian, bel masuk berbunyi--tepat ketika aku memasuki kelas.
Suasananya agak hening, tetapi aku paham semua orang memandangiku.
Ada yang jijik.
Ada yang marah.
Ada yang penasaran.
Menghela nafas pelan, aku berjalan ke bangku sambil sesekali mengeluh.
Inilah yang kumaksud dengan 'merepotkan' itu...
***