Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #9

Kasus Ketiga, Murid Pindahan Yang Cantik (2)

"Hentikan, Togashi-kun!",

Berdiri dengan bahu yang masih gemetaran, Yamazaki Umi berseru dari atap gedung sekolah. Wajahnya ketakutan tetapi ia cemas.

Fei Xiang memang baru saja hendak membunuhnya. Tetapi, bagaimanapun juga, bagi Yamazaki...

...Gadis itu adalah teman dekatnya sekarang.

Ia tidak ingin melihatnya menderita.

Untung saja, aku tidak sebodoh itu. Melepaskan gadis di bawah ini terlalu berbahaya. Ketua kelas saja tadi hampir ia bunuh. Bukan mustahil jika dilepaskan ia langsung menyerangku sekali lagi--tidak kapok-kapok.

Apakah tangannya harus kupatahkan dahulu?

"Beritahu aku, Fei-san...", 

Kuncian tubuh sama sekali tidak kulonggarkan.

"...Mengapa kau mengincar Yamazaki Umi...? Siapa yang menyuruhmu...?",

Sambil menyeringai tipis, Fei Xiang yang sudut bibirnya sudah berdarah itu mengejek.

"...Dasar bodoh", Katanya.

"Kau pikir aku akan begitu saja memberitahumu, hah...?",

Lalu tertawa kecil.

"--Naif sekali!!",

Aku menghela nafas.

Membalas.

"Kalau begitu...",

"...kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja jika tutup mulut?"

KRAAK!

Melalui satu gerakan cepat, aku memelintir salah satu tangan Fei hingga sendinya patah. Tak bisa lagi digerakkan. 

Gadis berambut hitam sepunggung menjerit keras, kesakitan. Sementara Yamazaki Umi dari atap gedung sekolah menutup mulut dengan kedua tangan. Terbelalak melihat apa yang baru saja kulakukan.

Tapi, sekali lagi...

...Untuk masalah ini...

...Aku memang sama sekali tidak akan melibatkan perasaan.

Yang namanya kejahatan...harus diberantas sampai akar-akarnya, bukan? 

"Yang berikutnya adalah tangan kirimu", Mengancam tanpa belas kasihan, aku menatap sinis Fei Xiang yang masih kesakitan parah.

"Da--dasar gila!! Kau bisa masuk penjara, bodoh!!",

Aku langsung menyahut.

"Kau ini lucu sekali, Fei-san...",

"...Tadinya ingin membunuh Yamazaki...Sekarang kau malah berbicara hukum?",

Membuat gadis dibawah kuncian tubuhku terdiam. 

"Kuberi kau waktu tiga detik", Aku bersiap mematahkan lengan yang satu lagi.

Langsung menghitung.

"Tiga",

Yamazaki Umi berteriak kencang.

"Cukup, Togashi-kun!! HENTIKAAN...!!",

Aku pura-pura tidak dengar.

"Dua",

Masih keras kepala, Fei Xiang tidak mau buka mulut.

"Satu",

Kedua tanganku mulai bergerak.

"JANGAAAN...!!!",

Sedikit demi sedikit memelintir tangan terakhir gadis dibawah, membuatnya kesakitan secara berkala, menikmati detik-detik kehilangan tangan kirinya yang berharga.

"Baik, baik...Aku menyerah!!", Akhirnya ia menurut. Tidak kuat lagi menahan derita. 

Menghela nafas dengan dada naik-turun, tubuh Fei tidak lagi mencoba melawan, membuatku merasa aman untuk melonggarkannya sedikit supaya ia bisa bernafas dengan lebih baik. Wajahnya tampak meringis menahan sakit tetapi ia masih kuat duduk sendiri, menatapku dengan rasa takut. Ngeri. 

Aku sendiri malas membantunya. Berdiri tegak dengan kode siaga satu. Siap melakukan 'sesuatu' lagi jika gadis di depan macam-macam.

Akhirnya Fei Xiang membuka mulutnya.

"...Kau bisa janji...Tidak akan menyebarkannya kemana-mana?",

Bertanya padaku dengan wajah meringis.

Lihat selengkapnya