Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #10

Kasus Ketiga, Murid Pindahan Yang Cantik (3)

Malam yang gelap nampaknya tidak dapat mematikan aktivitas padat yang ada di Pelabuhan Tokyo, terletak agak ke selatan-tenggara dari peta. Karena lokasinya yang sangat dekat dengan kota metropolitan jepang, tak ayal ratusan kapal berbagai jenis hilir-mudik di kawasan ini, membuat ribuan orang harus bekerja tanpa henti sekalipun jam telah menunjukkan pukul nol. Memasuki fase lewat tengah malam.

Perairan tampak tenang dipandang dari dekat pantai. Puluhan kontainer masih tampak diangkut kesana-kemari dengan petugas yang sudah mulai mengantuk. Sementara beberapa orang lainnya memutuskan beristirahat santai, merokok di dekat pelabuhan, berbincang ria menghadap Teluk Tokyo dan sedikit siluet lautan Samudera Pasifik ditemani sebotol bir.

Tak begitu jauh dari pelabuhan tersebut, masih berada disekitar kawasan, sebuah bangunan seperti penginapan mewah berdiri.

Tingginya hanya liga lantai tapi tengahnya memanjang dengan indah kemana-mana. Nyaris seratus meter lebih. 

Dindingnya didominasi oleh warna kuning agak cerah yang dipadu merah marun sebagai atap. Jendela-jendela dipasang presisi setiap jarak lima meter sebagai tanda kamar, beberapa pot bunga kecil diletakkan di dekatnya, menambah nilai estetika dan kenyamanan siapapun yang berada di dalamnya.

Penginapan itu memiliki halaman yang cukup luas dan hijau. Rumputnya rutin dipotong pendek, sementara beberapa pria tampak menjaga dengan seragam hitam rapi dan sepucuk pistol tersarung di sabuk. Pandangan matanya awas. Raut wajahnya buas.

Untuk sekilas, penginapan itu sepertinya baik-baik saja dibalik pencahayaan oranye redup yang elegan di setiap lampu, dan dibalik tawa-tawa pengunjung yang datang untuk menginap. Tamu-tamu penting. Orang-orang kaya. Pejabat berpengaruh.

Namun, dibalik kenyamanan itu, sebuah rahasia besar tersembunyi.

Tanpa sepengetahuan para tamu yang berkunjung, penginapan yang menawarkan pelayanan bintang lima itu juga diam-diam membuka bisnis prostitusi yang hanya bisa diakses segelintir orang tertentu. 'Pelayan' kamar yang mereka siapkan selalu didandani cantik sekali, masih sangat muda--bahkan beberapa diantaranya perawan. Dipasok langsung dari berbagai negeri. Dipilih dengan hati-hati disana. Diselundupkan ke pelabuhan Tokyo melalui sejumlah uang suap, kemudian dikunci diruang bawah tanah yang kuncinya hanya dimilikki oleh si pengelola penginapan, diikat dengan tali-tali tebal, dimasukkan dalam penjara-penjara kecil berjeruji yang mereka sebut sebagai 'kamar para kelinci'.

Kamar yang mengurung gadis-gadis yang lugu dan tidak bersalah.

Di dalam ruang bawah tanah yang gelap dan mencekam itulah, 'para kelinci' memperoleh pendidikan, pelatihan fisik, cara bersikap kepada pria, tata-krama kepada para pejabat, hingga cara-cara cepat untuk membunuh--karena selain untuk 'dijual' tubuhnya kepada orang-orang kelas atas, 'para kelinci' ini juga dijadikan pasukan pembunuh bayaran yang sangat menguntungkan dan efisien yang melayani 'klien-klien gelap'. Membuat si pengelola kaya raya luar biasa.

Namun, tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi, tiba-tiba suara taksi terdengar berhenti di depan gerbang yang dijaga beberapa pria besar bersenjata.

Aneh sekali.

Seumur hidup bisnis penginapan itu, belum pernah ada tamu yang diantarkan menggunakan taksi. Paling standar, Lexus ES.

Akan tetapi, belum sampai lima menit, tanpa suara sedikitpun, dengan santainya pintu gerbang yang terbuat dari besi dan berujung lancip mendadak terbuka kedalam, membuat beberapa penjaga kaget dengan pemeriksaan yang terlalu cepat, seketika menyentuh gagang pistol di sabuk, berjaga-jaga dengan mata awas.

Terperanjat. Berkeringat dingin.

Karena yang mendatangi mereka...

...Ternyata hanya seorang bocah SMP.

Sendirian.

Lihat selengkapnya