Pagi harinya di sekolah, semua anak terkejut.
Sambil dipapah dengan penuh perhatian oleh si ketua kelas, Fei Xiang masuk dengan melempar sapaan yang tetap ceria dan semangat. Tangan kanannya dibalut oleh perban, disampirkan ke bahu. Wajahnya terluka di beberapa sudut, tetapi senyumnya tetap lebar seperti biasa.
Detik itu juga, gempa kesedihan menghantam kelas yang sebelumnya tak begitu ramai: Alat tulis yang dipegang roboh, suasana mendadak hening, sementara sekelompok penggemar berat Fei semaput di tempat.
“Fe—Fei-Chaaaann!!!!”,
Bagai memerintah semua orang, satu seruan salah satu kawan Fei Xiang seketika membuat orang-orang berlarian mendekat, mengelus-elus kepala gadis primadona yang salah satu tangannya diperban, mendekapnya bersamaan dengan linang air mata iba, kemudian memijat-mijat bahunya sambil bertanya apa yang baru saja terjadi.
Untuk sejenak, Fei Xiang agak kebingungan bagaimana caranya menjawab pertanyaan yang seperti itu. Akan tetapi, demi melihat Yamazaki Umi di sebelahnya tersenyum tipis, mengangguk pada gadis tersebut, ia akhirnya bercerita.
Cerita yang bohong, tentunya.
“Ah…Begini…~! Sebenarnya, ya…Kemarin sore ketika aku berjalan-jalan dengan Umi-chan di Taman Tradisional Tokyo, Rikugien, kakiku tersandung tangga hingga jatuh berguling-guling…!!”,
Kedua mulutnya terbuka lebar dengan ekspresi yang sama sekali tidak menyiratkan kesedihan.
Dari kejauhan, aku yang sama sekali tidak tertarik melihat gadis itu kembali sekolah mengusap wajah demi mendengar cerita yang ketara sekali rekayasanya.
“…Setidaknya buatlah alibi yang lebih masuk akal, bodoh…”, Aku bergumam pelan. Kembali menatap buku sejarah kekaisaran Meiji yang hampir tamat.
Berbicara sendiri.
“…Taman Tradisional Rikugien ditutup jam empat sore lebih tiga puluh menit.”,
Mengangkat salah satu kaki untuk disandarkan pada kaki yang lain.
“…Bagaimana kau bisa dengan santainya bercerita telah mengunjunginya di sore hari padahal kita kemarin pulang jam lima?”,
Dengan sikap tenangnya yang misterius, Miyuki Anna yang berada di sebelah bangkuku juga tersenyum tipis melihat Fei Xiang kembali ke sekolah—meski cedera dimana-mana. Lalu menoleh padaku, berbisik.
“…Sudah kuduga, Togashi-kun itu sebenarnya baik, kan…?”,
Malas menanggapi si gadis pirang, aku memutuskan pura-pura tidak dengar.
Demi melihat betapa tegarnya si murid pindahan polos yang begitu jernih, anak-anak dikelas bertambah kencang tangisannya. Tersedu-sedu penuh empati kepada Fei Xiang yang baru saja masuk sekitar seminggu lebih, ternyata mendapat cobaan kuasa tuhan berupa tangan yang cedera parah.
Kendati demikian, gadis Ono No Komachi dari China tetap antusias bercerita. Sementara kawan-kawannya memeluk dari segala arah. Membuka mulut lebar-lebar.
“…Yah…Aku tidak menduga sendiku akan cedera separah ini, sih…--Tapi tidak apa-apa, kok! Aku masih bisa sekolah dan bertemu dengan teman-teman yang sangat kusayangi! Jadi, kalian jangan menangis, oke…~?!”,
Fei Xiang bertanya riang.
Akan tetapi, kawan-kawannya yang sudah terlanjur dihantam badai kesedihan tidak bisa mengentikan derai air matanya, terisak dengan teriakan-teriakan parau, membuat gadis dari china salah tingkah sendiri.
“…Em…A—Apakah ucapanku…ada yang salah?”,
Ia mengernyitkan dahi.