Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #12

Kasus Ketiga, Murid Pindahan Yang Cantik--Epilog

Kabut tipis yang tercipta karena hawa dingin sepertinya menghalangi pandangan di area Pelabuhan Tokyo yang semakin sepi—tetapi tetap beroperasi. Beberapa kapal tampak tertambat dengan barang dagangan senilai jutaan yen, diangkat melalui kontainer-kontainer besar, dipindahkan dengan bantuan mesin yang mengandalkan katrol.

Berdiri di tepian pelabuhan yang ombaknya damai, seorang gadis cantik dengan rambut hitam sepunggung menunggu dengan tenang, tersenyum tipis meski matanya basah, sembab oleh air mata. Gadis itu berhadap-hadapan dengan kawannya yang ternyata sudah menunggu di tempat ini dari tadi, bersembunyi dibalik kegelapan, menghampirinya sambil membawa ponsel yang mengangkat sebuah panggilan.

“Fei-chan, Togashi-kun!! Di--Dia kabur dari rumahku!! Hiks…Hiks…Tolonglah! Cari dia sebelum terlambat!!--”,

Kemudian mematikannya.

Menatap datar wajah gadis di depan yang diam membisu sambil tersenyum tipis.

Sebuah senyuman yang menyimpan pilu.

Senyuman manis yang palsu.

“Lihat? Yamazaki-san tidak ingin kau pergi”,

Melangkah mendekat. Sementara kapal feri yang sebentar lagi akan menjemput sang gadis sudah terlihat dari kejauhan laut.

“Teman-teman yang lain juga”,

Meski rela menunggu berjam-jam lebih di pelabuhan, lelaki yang identitasnya tidak ingin disebutkan oleh novelis itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi menangis atau sedih.

Biasa-biasa saja. Tidak ada drama.

Lakukan apa yang seharusnya dilakukan—mungkin itu alasan utamanya pada malam ini.

Akan tetapi wanita di depan menggelengkan kepala lemah.

“Tidak masalah, Togashi-kun.”, Ungkapnya, dalam tatapan penuh arti.

“Aku…sudah merasa lebih baik sekarang…”,

Mengangkat pandangannya pada lelaki yang ternyata bernama Togashi. Menyipitkan mata.

“…Tidak mungkin aku merepotkan Umi-chan dan yang lain lebih dari ini, bukan…?”,

Togashi Uzura mengubah arah tubuhnya, memandang kapal feri tumpangan si gadis yang mulai melepas jangkar.

“…Mungkin kau benar”, Kata lelaki tersebut. Memejamkan matanya sebentar.

“Tapi apakah kau tidak merasa sedih, Fei-san?”,

Lihat selengkapnya